Bagi pemilik SUV lawas yang masih memakai power steering hidraulis, jadwal ganti oli tidak boleh diabaikan. Komponen ini tetap membutuhkan perawatan rutin agar sistem kemudi bekerja baik dan tidak menurun performanya.
Perhatian utama ada pada durasi penggantian yang sering luput dari pemilik kendaraan. Oli power steering hidraulis idealnya diganti setiap 6 bulan sekali atau 40.000 km untuk menjaga kualitas oli tetap baik.
Andi Saputra, mekanik dari Milala Power Steering, menyebut interval tersebut penting agar oli power steering terus berada dalam kondisi optimal. Penggantian rutin dibutuhkan karena oli yang terlalu lama dipakai bisa mengalami penurunan kualitas.
Pada sistem power steering hidraulis, oli khusus dipakai untuk mendukung kerja sistem kemudi. Karena itu, kondisi oli sangat berpengaruh terhadap performa power steering saat mobil digunakan sehari-hari.
Saat kualitas oli menurun, masalah tidak hanya terjadi pada warna atau tampilan cairannya. Viskositas dan kandungan oli juga bisa rusak jika terlalu lama tidak diganti.
Perubahan viskositas membuat kemampuan oli dalam mendukung kerja sistem tidak lagi maksimal. Jika kondisi ini dibiarkan, sistem power steering hidraulis berisiko tidak bekerja sebaik semestinya.
Jadwal Ganti yang Perlu Diperhatikan
Patokan 6 bulan atau 40.000 km menjadi acuan penting bagi pemilik mobil dengan power steering hidraulis. Pemilik kendaraan sebaiknya tidak menunggu sampai muncul gejala berat pada setir untuk mulai melakukan penggantian.
Keterlambatan mengganti oli juga bisa menjadi masalah yang lebih serius jika dibarengi kebocoran. Saat kebocoran terjadi, oli power steering dapat berkurang bahkan habis.
Kondisi oli yang habis jelas tidak bisa dianggap sepele. Sistem power steering hidraulis bergantung pada oli khusus tersebut untuk bekerja dengan baik.
Cara Memeriksa Kondisi Secara Sederhana
Pemeriksaan awal sebenarnya bisa dilakukan sendiri. Pada umumnya, sistem ini memiliki tabung yang berfungsi menampung oli power steering.
Dari tabung itu, pemilik kendaraan bisa mulai mengecek keberadaan oli secara berkala. Langkah ini penting terutama pada kendaraan yang usianya sudah tidak muda dan masih memakai sistem hidraulis.
Pengecekan rutin membantu pemilik mendeteksi lebih cepat bila volume oli berkurang. Hal ini juga berguna untuk mengantisipasi kemungkinan kebocoran sebelum kondisinya bertambah parah.
SUV modern saat ini memang banyak yang sudah memakai power steering elektris. Namun, masih banyak SUV lawas yang tetap mengandalkan power steering hidraulis sehingga kebutuhan perawatan olinya tetap relevan.
Karena itu, pemilik kendaraan lama tidak bisa menyamakan perawatannya dengan model yang sudah menggunakan sistem elektris. Sistem hidraulis tetap membutuhkan perhatian pada oli yang dipakai di dalamnya.
Risiko Jika Perawatan Diabaikan
Mengabaikan jadwal penggantian membuat oli bekerja terlalu lama di luar masa idealnya. Dalam kondisi seperti itu, kualitas cairan akan terus menurun dan tidak lagi berada dalam kondisi baik.
Masalah bisa semakin rumit ketika penurunan kualitas oli terjadi bersamaan dengan kebocoran. Bukan hanya mutu oli yang memburuk, jumlahnya juga bisa menyusut dan memengaruhi kerja sistem kemudi.
Itu sebabnya penggantian berkala dan pemeriksaan tabung oli perlu berjalan beriringan. Pemilik kendaraan tidak cukup hanya menunggu servis besar jika ingin kondisi power steering hidraulis tetap terjaga.
Dengan interval 6 bulan atau 40.000 km, perhatian pada oli power steering seharusnya menjadi bagian dari perawatan rutin. Langkah sederhana seperti memeriksa tabung oli juga bisa membantu mencegah telat ganti dan mendeteksi masalah lebih dini.







