Mulai 1 Juli 2026, pemerintah berencana menerapkan BBM B50 secara bertahap sebagai lanjutan dari program biodiesel B35 dan B40. Kebijakan ini langsung memunculkan pertanyaan praktis bagi pemilik mobil diesel: apakah kendaraan yang dipakai sehari-hari sudah cocok untuk bahan bakar dengan campuran 50 persen solar dan 50 persen biodiesel sawit itu?
Kekhawatiran itu wajar karena mesin diesel tidak selalu punya karakter dan spesifikasi yang sama. Karena itu, ukuran paling aman bukan sekadar jenis mobilnya, melainkan apakah kendaraan tersebut memang sudah dirancang untuk menggunakan biodiesel dan sesuai dengan rekomendasi pabrikan.
Mobil diesel yang paling berpeluang cocok
Secara umum, mobil diesel yang bisa pakai B50 adalah kendaraan bermesin diesel yang sejak awal sudah disiapkan untuk biodiesel. Kelompok yang paling sering disebut adalah mobil penumpang diesel modern, termasuk SUV dan MPV diesel yang selama ini sudah menggunakan B35 atau B40.
Hasil uji Kementerian ESDM menunjukkan campuran B50 memberi hasil yang positif dari sisi performa dan keandalan mesin. Temuan ini menjadi sinyal bahwa sebagian besar mobil diesel modern berpotensi kompatibel dengan B50, terutama jika unitnya masih relatif baru dan mendapat perawatan rutin di bengkel resmi.
Namun, kompatibel tidak berarti otomatis aman untuk semua model. Buku manual tetap menjadi acuan utama, dan konfirmasi ke pabrikan masih perlu dilakukan sebelum kendaraan benar-benar mulai memakai B50.
Kendaraan niaga ikut diuji
Selain mobil penumpang, truk angkutan barang, pikap diesel, dan bus juga masuk dalam kendaraan yang diuji menggunakan B50. Segmen ini penting karena jam operasionalnya tinggi, sehingga bisa menunjukkan ketahanan bahan bakar baru dalam pemakaian berat.
Dari hasil sementara, performa kendaraan tetap berjalan baik selama mesin menggunakan spesifikasi yang sesuai. Bagi pelaku usaha logistik, ini membuka peluang penggunaan B50 tanpa harus langsung mengganti armada yang sudah kompatibel.
Pengujian meluas ke banyak sektor
Pemerintah tidak berhenti pada mobil pribadi dan kendaraan niaga. B50 juga telah diuji pada alat berat pertambangan seperti excavator, bulldozer, dan dump truck, lalu pada traktor dan mesin pertanian, kendaraan taktis, kapal bermesin diesel, lokomotif kereta api, hingga generator diesel atau genset.
Rangkaian uji lintas sektor itu menunjukkan B50 disiapkan bukan hanya untuk kebutuhan harian pengendara mobil. Pemerintah juga ingin memastikan bahan bakar ini siap mendukung industri, pertanian, transportasi, dan pertambangan.
Tetap cek kondisi mesin dan rekomendasi pabrikan
Meski hasil uji pemerintah tergolong menjanjikan, tidak semua mobil diesel otomatis bisa langsung memakai B50. Kondisi mesin, usia kendaraan, sistem bahan bakar, dan rekomendasi masing-masing pabrikan tetap menjadi faktor penentu.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, seperti dilansir suara.com, menyebut uji teknis bersama tim Kementerian ESDM menunjukkan hasil yang sangat baik. Ia juga menjelaskan implementasi nasional akan dilakukan bertahap seiring habisnya distribusi stok B40, dengan masa transisi yang diperkirakan sekitar tiga bulan.
Bagi pemilik mobil diesel, langkah paling aman saat B50 mulai diterapkan adalah mengecek buku manual dan memastikan spesifikasi kendaraan memang mendukung biodiesel dengan kadar yang lebih tinggi. Dengan begitu, mesin tetap bekerja optimal saat kebijakan baru ini masuk ke tahap penerapan di lapangan.
