Banyak pengemudi mobil manual masih terbiasa menaruh tangan di tuas transmisi saat mobil melaju. Kebiasaan ini kerap dianggap praktis dan nyaman, tetapi justru dinilai membawa dampak buruk saat berkendara.
Risiko terdekat bukan pada rasa nyaman, melainkan pada kesiapan pengemudi menghadapi situasi di jalan. Saat satu tangan terus berada di tuas transmisi, kendali dan kesigapan bisa berkurang ketika harus bereaksi cepat.
Kebiasaan ini termasuk salah satu gestur yang sering dilakukan tanpa disadari selama mengemudi. Selain menyandarkan tangan kanan ke kaca samping, banyak pengemudi juga membiarkan tangan tetap memegang tuas transmisi meski perpindahan gigi sudah selesai.
Menurut Hariadi, Asst. to Service Dept. Head PT Suzuki Indomobil Sales, kebiasaan memegang tuas transmisi mobil manual dapat menimbulkan sejumlah dampak buruk. Ia menegaskan bahwa kebiasaan tersebut mengurangi kesigapan pengemudi di jalan.
Mengurangi kesiapan saat manuver
Dalam kondisi normal, pengemudi perlu menjaga posisi tangan tetap siap untuk mengendalikan mobil. Karena itu, tangan idealnya selalu berada di lingkar setir dalam posisi yang sejajar.
Posisi ini penting untuk menjaga respons saat harus melakukan manuver. Ketika muncul kejadian mendadak, pengemudi membutuhkan kontrol setir yang cepat dan stabil.
Jika satu tangan tetap berada di tuas transmisi, fokus gerak tangan tidak lagi penuh pada kemudi. Kondisi ini dapat memperlambat reaksi saat pengemudi harus mengantisipasi perubahan situasi di jalan.
Itu sebabnya, tangan seharusnya tidak berlama-lama di tuas transmisi. Tuas hanya digunakan saat pengemudi benar-benar perlu memindahkan gigi.
Tuas transmisi bukan tempat istirahat tangan
Pada mobil manual, perpindahan gigi memang dilakukan lebih sering dibanding mobil otomatis. Hal ini membuat sebagian pengemudi merasa lebih praktis jika tangan kanan tetap dekat, bahkan menempel di tuas transmisi.
Namun, praktik tersebut tidak dianjurkan sebagai posisi berkendara sehari-hari. Setelah gigi berpindah, tangan harus kembali memegang setir agar pengemudi tetap sigap.
Kebiasaan memegang tuas transmisi sering muncul karena faktor kenyamanan. Padahal, rasa nyaman sesaat tidak sebanding dengan berkurangnya kesiapan saat kendaraan harus bermanuver.
Dalam lalu lintas, kebutuhan untuk bereaksi bisa datang kapan saja. Pengemudi dapat menghadapi perubahan arah, kondisi jalan, atau kejadian lain yang menuntut kendali setir seketika.
Posisi tangan yang dianjurkan
Hariadi menekankan pentingnya posisi tangan di setir selama mobil berjalan. Tangan perlu berada di lingkar kemudi dalam posisi sejajar agar kontrol kendaraan tetap optimal.
Prinsip ini berlaku setelah proses perpindahan gigi selesai dilakukan. Jadi, tuas transmisi bukan tempat tangan beristirahat, melainkan hanya alat untuk mengubah posisi gigi sesuai kebutuhan.
Dengan mengembalikan tangan ke setir, pengemudi memiliki kesiapan yang lebih baik dalam mengantisipasi kejadian. Langkah sederhana ini membantu menjaga kendali saat dibutuhkan manuver cepat.
Kebiasaan kecil sering terlihat sepele karena tidak langsung terasa dampaknya. Meski begitu, dalam praktik berkendara, detail seperti posisi tangan dapat berpengaruh pada respons pengemudi.
Pada akhirnya, disiplin menjaga posisi tangan di setir menjadi bagian penting dari kebiasaan mengemudi yang benar. Setelah menggeser tuas transmisi, tangan sebaiknya segera kembali ke kemudi agar kesigapan di jalan tetap terjaga.
