Insentif Mobil Listrik Kembali Mundur, Changan Minta Konsumen Jangan Terlalu Berharap

Author: Qoo Media

Ketidakpastian insentif kendaraan listrik kembali memaksa pelaku industri menyusun langkah dengan asumsi tanpa bantuan baru dari pemerintah. Changan Indonesia menjadi salah satu merek yang terang-terangan memilih tidak menggantungkan strategi harga pada program yang sampai sekarang belum memiliki kepastian.

Respons ini penting karena rencana insentif untuk kendaraan listrik berbasis baterai yang semula dijadwalkan berlaku pada 1 Juli 2026 diperkirakan kembali mundur. Di saat sebagian calon konsumen masih menunggu keputusan pemerintah, Changan justru menegaskan bahwa perhitungan bisnisnya tetap berjalan dengan skema pajak yang berlaku saat ini.

CEO Changan Indonesia Setiawan Surya mengatakan perusahaan tetap berharap insentif direalisasikan untuk mendorong permintaan pasar. Namun, ia menilai pelaku usaha tidak bisa terus menunggu kebijakan yang belum jelas.

Setiawan menyebut pihaknya juga tidak lagi berharap insentif akan hadir pada semester dua. Karena itu, hitungan harga produk yang dipasarkan saat ini disusun berdasarkan kondisi yang berlaku sekarang.

Harga tetap mengacu PPN 12 persen

Changan menegaskan seluruh model yang dipasarkan di Indonesia belum memasukkan skema insentif dalam penetapan harga. Perhitungan harga masih memakai tarif Pajak Pertambahan Nilai sebesar 12 persen.

Kebijakan itu berlaku untuk lini produk Changan, mulai dari Lumin, Deepal S07, hingga Deepal S05 yang baru dibuka masa pemesanan awal. Dengan pendekatan tersebut, perusahaan tidak perlu mengubah struktur harga hanya karena pembahasan insentif kembali molor.

Langkah ini juga menunjukkan Changan mencoba menjaga kepastian bagi pasar. Konsumen yang sudah mempertimbangkan pembelian tidak dihadapkan pada skenario harga yang bergantung pada keputusan yang belum diumumkan pemerintah.

Di sisi lain, perusahaan mengakui absennya insentif tetap memberi tekanan pada pasar kendaraan listrik. Menurut Setiawan, tanpa insentif kondisi pasar memang menjadi lebih berat.

Meski begitu, ia menilai dampaknya berlaku merata untuk semua merek. Karena insentif dirancang untuk industri secara luas, ketiadaannya membuat seluruh pemain berada di titik persaingan yang sama.

Calon pembeli masih menunggu

Changan juga tidak menampik adanya pengaruh terhadap perilaku konsumen. Sebagian calon pembeli disebut masih menunda keputusan sambil menunggu kejelasan apakah insentif benar-benar akan diberlakukan atau tidak.

Setiawan menilai keputusan pembelian pada akhirnya kembali pada kebutuhan masing-masing konsumen. Jika kebutuhan mendesak, pembelian biasanya tetap berjalan meski insentif belum tersedia.

Karena itu, Changan mengimbau pasar agar tidak terlalu menggantungkan keputusan pada kebijakan yang belum pasti. Sikap ini sejalan dengan strategi perusahaan yang sejak awal tidak memasukkan faktor insentif ke dalam hitungan harga jual.

Bagi industri, situasi ini menciptakan dua tekanan sekaligus. Di satu sisi ada harapan bahwa stimulus bisa mempercepat adopsi kendaraan listrik, tetapi di sisi lain ketidakjelasan jadwal membuat konsumen cenderung menahan transaksi.

Insentif masih dibahas pemerintah

Pemerintah sebelumnya menyiapkan insentif untuk 200.000 kendaraan listrik. Jumlah itu terdiri dari 100.000 mobil listrik dan 100.000 sepeda motor listrik.

Untuk mobil listrik, skema yang disiapkan berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah atau PPN DTP sebesar 40 persen hingga 100 persen. Besarannya akan disesuaikan dengan kandungan nikel pada baterai kendaraan.

Namun, implementasi kebijakan tersebut belum juga berjalan sesuai jadwal awal. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan skema itu masih dalam tahap pembahasan dan kemungkinan baru akan diterapkan pada Agustus 2026.

Pernyataan itu memperkuat sinyal bahwa pasar belum akan segera mendapat kepastian dalam waktu dekat. Bagi merek seperti Changan, kondisi tersebut membuat pendekatan konservatif menjadi pilihan paling realistis.

Changan sendiri saat ini memasarkan beberapa model yang menjadi bagian dari ekspansinya di pasar Indonesia. Lumin hadir sebagai salah satu model yang dipasarkan, sementara Deepal S07 sudah lebih dulu diperkenalkan dan Deepal S05 baru memasuki tahap pre-book.

Dengan portofolio itu, kepastian harga menjadi elemen penting dalam menjaga minat pasar. Selama insentif belum resmi berjalan, perhitungan dengan PPN 12 persen menjadi dasar yang dipakai Changan untuk menjaga ritme bisnis dan memberi kepastian bagi konsumen yang ingin membeli kendaraan listrik tanpa menunggu kebijakan baru.

Source: otomotif.kompas.com
Terbaru