Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia belum memberi kepastian soal kemungkinan harga Pertamax turun dalam waktu dekat. Ia menegaskan kenaikan harga BBM nonsubsidi baru berjalan sekitar dua hingga tiga minggu, sehingga terlalu dini jika publik langsung menanyakan kapan penurunan terjadi.
Respons itu muncul saat pemerintah menghadapi sorotan atas lonjakan harga BBM nonsubsidi dalam beberapa pekan terakhir. Bahlil meminta masyarakat melihat kebijakan harga secara lebih adil karena pemerintah sebelumnya menahan kenaikan selama lebih dari dua bulan, meski harga minyak dunia sempat naik.
Bahlil mengatakan keputusan harga tidak bisa dilepaskan dari perkembangan pasar minyak global. Karena itu, ia belum bisa memastikan apakah harga Pertamax akan turun pada pekan depan atau tidak.
Saat ditanya mengenai peluang penurunan harga, Bahlil hanya menyatakan pemerintah masih akan melihat perkembangannya. Pernyataan itu disampaikan di Gedung DPR RI dan dikutip dari CNN Indonesia pada Selasa (30/6).
Harga minyak dunia jadi acuan
Menurut Bahlil, evaluasi harga BBM nonsubsidi harus mempertimbangkan pergerakan harga minyak mentah dunia secara menyeluruh. Pemerintah tidak hanya melihat situasi sesaat, tetapi juga tren yang lebih luas sebelum mengambil keputusan.
Harga minyak dunia saat ini disebut relatif lebih stabil dibandingkan ketika awal perang di Timur Tengah pecah. Pada periode itu, harga minyak sempat menembus US$ 100 per barel.
Kini, minyak mentah Brent tercatat di level US$ 72,57 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate berada di posisi US$ 70,11 per barel.
Stabilnya harga minyak global itu ikut memunculkan pertanyaan dari publik soal kemungkinan penyesuaian harga di dalam negeri. Namun pemerintah belum menyampaikan sinyal pasti bahwa penurunan akan segera dilakukan.
Lonjakan harga BBM nonsubsidi
Kenaikan paling mencolok terjadi pada Pertamax dengan nilai oktan RON 92. Harganya naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter.
Pertamax Green 95 juga mengalami kenaikan tajam. Produk RON 95 itu meningkat dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.
Kenaikan tersebut membuat harga BBM nonsubsidi berada pada level tinggi dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini memicu perhatian publik karena selisih harga dibanding posisi sebelumnya cukup lebar.
Bahlil menilai sorotan terhadap kemungkinan penurunan harga perlu ditempatkan dalam konteks yang utuh. Ia menegaskan pemerintah sempat tidak menaikkan harga selama hampir tiga bulan ketika harga minyak sedang naik.
Pernyataan itu sekaligus menjadi jawaban atas desakan yang mulai muncul tidak lama setelah kenaikan berlaku. Menurut dia, tidak tepat jika pemerintah langsung ditanya soal penurunan ketika penyesuaian harga baru berjalan singkat.
Perbandingan dengan SPBU swasta
Di luar SPBU milik Pertamina, harga BBM dengan spesifikasi sejenis juga berada pada level tinggi. Untuk BBM RON 92, BP 92 kini dibanderol Rp 16.670 per liter.
Sementara itu, VIVO Revvo 95 tercatat menembus Rp 17.240 per liter. Angka tersebut menunjukkan kenaikan harga di pasar BBM nonsubsidi tidak hanya terjadi pada satu operator.
Perbandingan ini memperlihatkan bahwa tekanan harga juga dirasakan pada produk swasta. Dengan demikian, pembahasan soal harga BBM tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan dinamika pasar energi yang lebih luas.
Meski harga minyak mentah global kini tidak setinggi saat sempat menyentuh US$ 100 per barel, pemerintah tetap memilih berhati-hati. Bahlil menekankan keputusan mengenai harga Pertamax dan BBM nonsubsidi lain masih akan bergantung pada perkembangan harga minyak dunia ke depan.
Sampai saat ini belum ada pernyataan resmi bahwa penurunan harga akan dilakukan dalam waktu dekat. Fokus pemerintah, menurut Bahlil, masih pada pemantauan pasar sebelum memutuskan langkah berikutnya terkait harga BBM nonsubsidi.
