Mobil Listrik Rp 100 Jutaan Belum Hilang, 3 Pilihan Ini Punya Karakter yang Beda

Mobil listrik dengan harga Rp 100 jutaan masih tersedia di pasar Indonesia. Pilihannya memang belum banyak, tetapi rentang ini kini menjadi titik masuk yang lebih realistis bagi konsumen yang ingin beralih ke kendaraan tanpa emisi.

Perubahan itu menunjukkan peta pasar EV yang bergerak cepat. Jika sebelumnya mobil listrik identik dengan harga sangat tinggi, kini beberapa pabrikan mulai menyasar kebutuhan mobilitas harian masyarakat urban dengan banderol yang jauh lebih terjangkau.

Segmen ini menarik karena tidak hanya bicara soal harga beli. Konsumen juga mulai menimbang biaya operasional, kemudahan penggunaan di dalam kota, kebutuhan jarak tempuh, hingga kesiapan pengisian daya di rumah.

Di kelas Rp 100 jutaan, setidaknya ada tiga model yang menonjol. Masing-masing menawarkan pendekatan berbeda, mulai dari skema kepemilikan baterai, dimensi sangat ringkas, sampai kabin yang lebih layak untuk penggunaan keluarga kecil.

Pilihan mobil listrik Rp 100 jutaan

VinFast VF 3 menjadi opsi termurah dalam daftar ini dengan harga Rp 152 juta. Model asal Vietnam ini memakai strategi yang berbeda karena harga mobil dipisahkan dari kepemilikan baterai melalui skema sewa bulanan.

VF 3 diposisikan untuk kebutuhan mobilitas urban. Mobil ini menawarkan dimensi kompak, biaya operasional rendah, desain menarik, serta biaya kepemilikan yang diklaim terjangkau untuk pemakaian sehari-hari.

Secara tampilan, VF 3 mengusung desain bergaya SUV mini kotak atau boxy. Karakter maskulin itu dipadukan dengan ground clearance yang cukup tinggi, sehingga lebih percaya diri saat menghadapi polisi tidur atau genangan air di jalan perkotaan.

Untuk kemampuan jelajah, VinFast VF 3 memiliki estimasi jarak tempuh hingga 210 km. Angka ini menempatkannya sebagai pilihan yang cukup masuk akal bagi pengguna yang lebih banyak berkendara di dalam kota.

Pilihan berikutnya adalah Seres E1 B-Type dengan harga Rp 189 juta. Model ini ditawarkan sudah termasuk baterai, sehingga cocok bagi konsumen yang tidak ingin terbebani skema langganan tambahan.

Seres E1 B-Type memakai konfigurasi tiga pintu dan dimensi mikro yang sangat mungil. Ukuran tersebut membuat mobil ini lincah saat digunakan di lalu lintas padat dan lebih mudah saat mencari ruang parkir sempit.

Kabinnya disebut minimalis, tetapi tetap fungsional untuk kebutuhan komuter jarak pendek. Daya jelajah baterainya berada di kisaran 180 km, cukup untuk mobilitas harian di area perkotaan.

Di batas atas segmen ini, BYD Atto 1 Standard dipasarkan dengan harga Rp 199 juta. Posisi harganya memang berada tepat di ambang psikologis Rp 100 jutaan, tetapi masih menjadi salah satu pilihan paling dekat untuk konsumen yang mencari EV murah.

Berbeda dari rival yang banyak bermain di format mikro, Atto 1 hadir sebagai hatchback 5-pintu. Format ini memberi nilai lebih pada akomodasi kabin dan kapasitas bagasi yang lebih realistis untuk penumpang dewasa.

Salah satu daya tarik utamanya ada pada baterai LFP Blade Battery berkapasitas 30,08 kWh. BYD mengklaim mobil ini mampu menempuh jarak hingga 300 km dalam sekali pengisian.

Jarak tempuh itu menjadi angka paling panjang di antara tiga model yang berada di daftar ini. Untuk kebutuhan komuter dari pinggiran Jakarta ke pusat kota, kemampuan tersebut dinilai memberi ruang lebih lega tanpa harus terlalu sering mengisi daya.

Apa yang perlu diperhatikan sebelum membeli

Harga murah bukan satu-satunya faktor saat memilih mobil listrik di kelas ini. Konsumen tetap perlu menyesuaikan pilihan dengan pola penggunaan harian dan kebutuhan kabin.

Pengguna yang lebih sering berkendara sendirian di dalam kota mungkin akan cocok dengan mobil berdimensi sangat ringkas. Sebaliknya, konsumen yang membutuhkan ruang lebih untuk penumpang dan barang akan cenderung melirik model dengan format 5-pintu.

Aspek jarak tempuh juga penting karena tiap model menawarkan karakter berbeda. VF 3 berada di angka 210 km, Seres E1 B-Type di kisaran 180 km, sedangkan BYD Atto 1 Standard diklaim mencapai 300 km.

Selain itu, skema kepemilikan baterai juga perlu dipahami sejak awal. VinFast memakai pendekatan sewa baterai bulanan, sementara Seres E1 B-Type sudah mencakup baterai dalam harga jualnya.

Pada akhirnya, persaingan mobil listrik Rp 100 jutaan menunjukkan bahwa pasar EV Indonesia tidak lagi hanya menyasar konsumen premium. Pilihan yang tersedia kini mulai mengarah pada kebutuhan praktis masyarakat urban yang mencari kendaraan harian dengan biaya operasional lebih rendah.

Source: otomotif.kompas.com
Terkait