Toyota kembali menanggung tekanan besar di pasar global setelah penjualannya turun selama empat bulan berturut-turut. Meski masih memimpin sebagai produsen mobil terbesar di dunia, performa perusahaan asal Jepang itu terus tergerus oleh pelemahan permintaan di China, Amerika Serikat, dan Timur Tengah.
Dalam laporan penjualan global Mei 2026 yang disitat dari Carscoops, Toyota membukukan penjualan 898.721 unit. Angka itu turun 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menandai bahwa laju negatif belum juga berakhir sejak Februari 2026.
China jadi pusat tekanan
China menjadi penyumbang terbesar dalam pelemahan kinerja Toyota. Penjualan di negara itu anjlok 31,7 persen menjadi 102.299 unit, sementara persaingan dari produsen lokal makin ketat.
Tekanan paling besar datang dari segmen mobil listrik dan hybrid plug-in atau PHEV. Kondisi itu membuat posisi Toyota di pasar terbesar dunia tersebut semakin berat, terutama ketika konsumen semakin banyak beralih ke model elektrifikasi yang ditawarkan merek-merek domestik.
Di Amerika Serikat, penurunan memang tidak sedalam China, tetapi tetap menambah beban. Penjualan Toyota di pasar itu turun tipis 0,6 persen menjadi 238.800 unit.
Timur Tengah ikut melemah
Pasar Timur Tengah justru mencatat kontraksi paling dalam di antara wilayah yang disebutkan. Penjualan Toyota di kawasan itu turun 38,6 persen, memperlihatkan bahwa pelemahan tidak hanya terjadi di satu pasar utama.
Kombinasi tekanan dari beberapa kawasan ini membuat total performa global Toyota sulit pulih. Meski beberapa negara masih menunjukkan permintaan kuat untuk model hybrid, kontribusinya belum cukup besar untuk menutup pelemahan di pasar-pasar utama.
Hybrid masih jadi penopang, tapi belum cukup
Di tengah kondisi yang menantang, Toyota masih melihat kekuatan pada kendaraan hybrid. Permintaan model tersebut tetap tinggi di sejumlah negara dan menjadi salah satu faktor yang menjaga bisnis tetap bergerak.
Namun, permintaan itu belum mampu mengimbangi penurunan di pasar besar seperti China dan Timur Tengah. Toyota pun masih menghadapi situasi yang membuat pemulihan penjualan berjalan lambat.
Tekanan tak hanya terasa di sisi penjualan. Produksi global Toyota juga merosot setelah perusahaan mengakui adanya perubahan jadwal produksi sejumlah model.
Penyesuaian kapasitas di beberapa fasilitas manufaktur turut memengaruhi total kapasitas produksi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa tantangan yang dihadapi Toyota tidak hanya berasal dari permintaan pasar, tetapi juga dari sisi operasional.
Pasar global masih sulit
Toyota menyebut situasi pasar otomotif global masih penuh tantangan. Harga bahan bakar yang tinggi di sejumlah wilayah juga ikut memberi beban tambahan pada permintaan kendaraan.
Di tengah kondisi tersebut, Toyota tetap optimistis kendaraan elektrifikasi, terutama hybrid, akan menjadi penopang bisnis perusahaan dalam jangka panjang. Meski begitu, data terbaru menunjukkan bahwa optimisme itu belum cukup untuk menghentikan penurunan penjualan dalam jangka pendek.
Pelemahan selama empat bulan berturut-turut menjadi sinyal bahwa Toyota masih harus bekerja keras menjaga posisinya di tengah perubahan cepat pasar otomotif dunia. Dengan tekanan yang datang dari pasar utama sekaligus sisi produksi, fokus perusahaan kini tertuju pada upaya mempertahankan momentum di segmen hybrid dan menahan laju penurunan di wilayah yang paling terdampak.
Source: www.liputan6.com






