Puluhan ribu calon mahasiswa yang lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri ternyata tidak semuanya hilang karena masalah Uang Kuliah Tunggal. Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB Prof Eduart Wolok menegaskan angka 60 ribu itu adalah total kuota yang tidak terisi dari seluruh jalur penerimaan PTN.
Penjelasan ini penting karena angka tersebut sering dipahami sebagai satu gelombang besar calon mahasiswa yang batal daftar ulang. Padahal, menurut Eduart, jumlah itu merupakan gabungan dari jalur nasional SNBP, SNBT, dan jalur mandiri yang dibuka masing-masing PTN.
Bukan satu jalur penerimaan
Eduart menyebut perlu ada pelurusan agar publik tidak salah membaca data. Ia mengatakan 60 ribu siswa yang tidak daftar ulang bukan berasal dari satu jalur, melainkan akumulasi dari seluruh jalur penerimaan di PTN.
Ia menyampaikan penjelasan itu usai acara Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta. Menurut dia, gambaran yang benar adalah kuota yang tidak terisi, bukan satu kelompok siswa yang seluruhnya mundur dari daftar ulang.
Alasan tidak daftar ulang lebih beragam
Eduart juga menekankan bahwa penyebabnya tidak tunggal. Selain soal biaya, ada calon mahasiswa yang tetap mengejar program studi impian meski sudah lolos di pilihan lain.
Dalam penjelasannya, ada siswa yang memilih tidak mengambil hasil kelulusan sebelumnya karena ingin mencoba jalur berikutnya. Pola seperti ini membuat kursi yang sebenarnya sudah terisi kemudian kembali kosong.
Masalah UKT memang jadi faktor, tetapi bukan satu-satunya
Salah satu penyebab yang ikut mendorong calon mahasiswa batal daftar ulang adalah besaran Uang Kuliah Tunggal yang dianggap tidak sesuai. Eduart menyebut penetapan UKT di kampus dilakukan berdasarkan profiling data mahasiswa dan kondisi kemampuan masing-masing calon mahasiswa.
Ia menegaskan logikanya sederhana, karena kategori UKT harus mengikuti hasil pemetaan kemampuan mahasiswa. Dengan begitu, mahasiswa yang masuk kategori awal tidak akan langsung ditempatkan pada kategori UKT yang jauh lebih tinggi.
Kampus diminta tetap membuka ruang
Meski begitu, Eduart mengatakan keberatan soal UKT tidak berarti tertutup sepenuhnya. Menurut dia, kampus tetap membuka ruang untuk calon mahasiswa yang meminta keringanan biaya.
Ia menyebut permintaan seperti itu pasti dipertimbangkan oleh perguruan tinggi. Dalam pandangannya, kesempatan untuk mencari solusi harus tetap ada agar calon mahasiswa tidak langsung kehilangan peluang melanjutkan studi.
Pernyataan ini juga menegaskan bahwa persoalan tidak terisinya kuota PTN tidak bisa disederhanakan hanya sebagai akibat mahalnya biaya kuliah. Di lapangan, faktor pilihan prodi, strategi ikut jalur seleksi berikutnya, dan penyesuaian UKT sama-sama ikut membentuk angka 60 ribu kuota yang belum terisi itu.
