Opel mengambil arah yang berlawanan dari banyak merek Eropa lain. Saat rival berlomba menaruh dana ke SUV dan meninggalkan wagon, merek Stellantis ini justru melihat wagon sebagai bentuk yang masih masuk akal untuk Astra generasi berikutnya.
Pilihan itu penting karena Astra selama ini identik dengan hatchback dan estate. Untuk model baru, Opel memberi sinyal bahwa hatchback tradisional tidak lagi wajib, sementara versi station wagon tetap dipertahankan karena pasar domestik Jerman masih membutuhkannya.
Astra berikutnya tidak harus hatchback
Astra saat ini hadir sejak 2021 sebagai kerabat dekat Peugeot 308. Keduanya mendapat pembaruan di pertengahan siklus pada akhir 2025 agar tetap sejalan dengan VW Golf dan Toyota Corolla.
Namun Opel sudah memastikan penerus Astra akan hadir sebelum dekade ini berakhir. Ketika Auto Express menanyakan apakah hatchback kompak masih relevan, CEO Opel Florian Huettl tidak menutup kemungkinan perubahan besar pada bentuk bodinya.
“It doesn’t mean necessarily that the new Astra is a traditional hatchback,” ujar Huettl. Ia juga menegaskan bahwa station wagon akan tetap ada karena “that’s what our home market in Germany requires, and this is what we will serve.”
Fokus baru ada pada ruang kabin dan fleksibilitas
Pernyataan itu memberi petunjuk soal arah pengembangan Astra baru. Opel tampaknya ingin menempatkan ruang interior sebagai salah satu perhatian utama, bukan sekadar mempertahankan siluet hatchback yang sudah lama menjadi kebiasaan di kelas kompak.
Langkah ini juga terasa berbeda karena Astra punya sejarah panjang dengan dua format bodi utama. Sejak generasi pertama muncul 35 tahun lalu, model ini membawa hatchback dan estate, sementara bodi sedan, coupe, dan convertible sudah lama hilang dari daftar.
Kini, ada peluang besar pola itu berubah. Jika benar Astra baru lahir tanpa hatchback konvensional, maka ini bisa menjadi titik balik penting dalam riwayat model tersebut.
Basis baru membuka opsi lebih luas
Generasi berikut Astra akan memakai arsitektur STLA One yang baru. Huettl mengatakan mobil ini “certainly be a BEV,” tetapi platform tersebut juga mendukung teknologi lain sehingga Opel masih mencari komposisi yang tepat untuk lini penggeraknya.
Opel belum mengunci satu formula mesin saja. Menurut Huettl, perusahaan masih menilai “the right calibration of the powertrain offer” untuk Astra baru.
Ia juga menjelaskan bahwa plug-in hybrid pada Astra dan Grandland memang tersedia, tetapi belum sepenting varian listrik penuh atau hybrid biasa dalam strategi penjualan Opel. Di sisi lain, sistem range extender dinilai menarik, meski generasi awal teknologinya disebut mungkin kesulitan menghadapi kecepatan jalan raya Jerman di kisaran 130-140 km/jam.
Produksi tetap di Jerman
Meski ada pemutusan hubungan kerja baru-baru ini di fasilitas R&D di markas Russelsheim, Astra baru tetap akan dibuat di pabrik yang sama. Produksi itu akan didukung investasi baru, menandakan model ini tetap punya posisi penting dalam portofolio Opel.
Di luar Astra, jadwal produk Opel juga sudah berisi model lain lebih dulu. Generasi baru Corsa diperkirakan hadir pada 2027, lalu disusul compact SUV berbasis Leapmotor dan Mokka baru.
Strategi itu menunjukkan Opel tidak sedang memburu segmen budget EV seperti Citroen dan Fiat, yang sama-sama sibuk dengan proyek 2CV dan Pandina baru. Dalam konteks itu, keputusan mempertahankan wagon untuk Astra terasa seperti taruhan pada kebutuhan nyata pembeli Eropa, terutama di Jerman, ketimbang mengikuti arus pasar yang semakin condong ke SUV.
Source: www.carscoops.com






