Kapasitas produksi mobil nasional sudah mencapai 2,5 juta unit per tahun, tetapi pasar domestik baru menyerap sekitar 780 ribu sampai 800 ribu unit. Kesenjangan ini menunjukkan industri otomotif Indonesia masih menyimpan ruang tumbuh yang besar, sekaligus menghadapi tantangan serius dalam mengoptimalkan pabrik yang sudah terbangun.
Di saat kemampuan produksi jauh melampaui penjualan dalam negeri, arah ekspor menjadi semakin penting. Pabrikan dinilai tidak lagi cukup hanya mengandalkan pasar lokal jika ingin menjaga utilisasi pabrik dan mendorong industri tetap kompetitif.
Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia Fransiscus Soerjopranoto menilai Indonesia sebenarnya pernah berada di level penjualan satu juta unit per tahun. Namun, capaian itu belum kembali terulang dalam beberapa tahun terakhir meski kapasitas industri terus besar.
Menurut dia, kemampuan produksi 2,5 juta unit itu harus dimanfaatkan untuk dua jalur sekaligus, yaitu penjualan domestik dan ekspor. Dengan kondisi pasar dalam negeri yang masih berada di kisaran 780 ribu hingga 800 ribu unit, ekspor menjadi saluran penting agar fasilitas produksi tidak menganggur.
Situasi ini memperlihatkan paradoks di industri otomotif nasional. Di satu sisi, Indonesia memiliki basis manufaktur besar yang siap memproduksi jutaan kendaraan, tetapi di sisi lain permintaan domestik belum cukup kuat untuk menyerap kapasitas tersebut.
Pasar domestik belum kembali ke level tertinggi
Fransiscus Soerjopranoto menegaskan pasar otomotif Indonesia pernah menyentuh satu juta unit. Kini, pasar itu masih tertahan di bawah level tersebut dan belum menunjukkan pemulihan penuh ke angka yang pernah dicapai sebelumnya.
Angka itu penting karena menjadi ukuran seberapa besar pasar lokal mampu menopang industri. Jika penjualan tetap berada di kisaran 780 ribu sampai 800 ribu unit, maka ada selisih sangat besar dibanding kemampuan produksi nasional yang sudah mencapai 2,5 juta unit per tahun.
Kondisi tersebut membuat strategi industri tidak bisa hanya bertumpu pada penjualan di showroom dalam negeri. Produsen harus mencari keseimbangan baru antara kebutuhan pasar lokal dan permintaan dari luar negeri.
Ekspor jadi kunci pemakaian kapasitas pabrik
Hyundai menjadi salah satu contoh pabrikan yang menjadikan Indonesia sebagai basis produksi sekaligus pusat ekspor. Model seperti Hyundai Stargazer dan Creta diproduksi di pabrik Hyundai di Cikarang sebelum dikirim ke berbagai negara.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, Hyundai mengekspor 4.145 unit kendaraan completely built up pada Mei 2026. Secara kumulatif, ekspor Hyundai pada Januari hingga Mei 2026 mencapai 18.525 unit.
Negara tujuan ekspor Hyundai dari Indonesia mencakup Filipina, Thailand, Vietnam, kawasan Timur Tengah, Asia Pasifik, Afrika, hingga Meksiko. Jangkauan itu menunjukkan pabrik di Indonesia tidak hanya ditujukan untuk memenuhi pasar domestik, melainkan juga untuk memasok berbagai kawasan.
Pola ini dinilai relevan dengan kondisi industri saat ini. Saat pasar dalam negeri belum kembali ke level satu juta unit, ekspor menjadi instrumen yang bisa membantu menjaga volume produksi tetap tinggi.
Tantangan industri: permintaan lokal dan pasar baru
Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara sebelumnya juga menyoroti tantangan yang dihadapi industri otomotif Indonesia. Menurut dia, pekerjaan besar industri saat ini adalah meningkatkan permintaan pasar domestik sekaligus memperluas pasar ekspor.
Kukuh menilai industri otomotif tidak boleh hanya bergantung pada penjualan di dalam negeri. Untuk keluar dari jebakan sales trap of 1 million units, Indonesia perlu bergerak lebih agresif membuka pasar ekspor baru.
Pandangan ini menempatkan ekspor bukan sekadar tambahan, melainkan bagian dari strategi utama industri. Dengan kapasitas yang sudah besar, perluasan pasar menjadi syarat agar investasi pabrik, tenaga kerja, dan rantai pasok bisa terus berjalan optimal.
Ia juga menekankan bahwa industri otomotif termasuk sektor yang terbukti mampu bertahan dalam situasi sulit, termasuk saat pandemi Covid-19. Karena itu, ruang yang masih tersedia di sektor ini dinilai layak dimanfaatkan lebih jauh melalui penguatan pasar dan diversifikasi tujuan ekspor.
Varian dan tujuan ekspor perlu diperbanyak
Menurut Kukuh, optimalisasi kapasitas industri juga perlu ditopang oleh penambahan varian mobil yang diproduksi di Indonesia. Semakin banyak model yang dibuat di dalam negeri, semakin besar peluang untuk menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar yang berbeda-beda.
Selain itu, negara tujuan ekspor juga harus diperluas. Strategi ini penting agar industri tidak bergantung pada pasar tertentu dan punya ruang lebih besar untuk menyalurkan produksi dari pabrik-pabrik di Indonesia.
Kukuh juga melihat minat negara lain terhadap Indonesia terus tumbuh. Menurut dia, pasar Indonesia masih besar dan potensinya tidak hanya bertumpu pada Jawa, karena daerah lain juga mulai berkembang.
Respons itu terlihat dari ketertarikan berbagai negara dan pelaku industri terhadap Indonesia. Bukan hanya Korea, tetapi juga China, sementara Eropa disebut kembali datang, sebuah sinyal bahwa Indonesia tetap dipandang menarik sebagai pasar sekaligus basis produksi otomotif.
Source: oto.detik.com






