Di kisaran harga Rp88 jutaan, Honda Monkey terbaru berdiri di jalur yang tak biasa. Angkanya memang mepet dengan skutik premium Honda Forza 250, tetapi targetnya jelas berbeda: bukan pencari motor harian, melainkan kolektor dan pecinta motor hobi premium.
Penyegaran yang dibawa pun tidak sekadar kosmetik. Honda Monkey tetap mempertahankan aura klasiknya, sambil menambahkan sentuhan baru yang membuat motor mungil ini makin kuat sebagai barang koleksi dan simbol gaya hidup.
Nilai jual utama yang membuatnya terasa premium
Sejak awal, Honda Monkey punya modal historis yang panjang. Model ini disebut membawa nilai legendaris sejak 1961, dan karakter itu masih dipertahankan lewat bodi compact yang khas.
Di atas fondasi tersebut, AHM menyematkan komponen yang biasanya identik dengan motor yang lebih serius. Suspensi depan upside down Showa menjadi salah satu elemen paling menonjol, lalu dipasangkan dengan suspensi belakang ganda agar tetap seimbang saat dipakai di jalanan kota.
| Bagian | Spesifikasi Utama | Daya Tarik |
|---|---|---|
| Suspensi depan | Upside down Showa | Memberi kesan premium |
| Suspensi belakang | Twin rear suspension | Menjaga kenyamanan dan karakter sporty |
| Ban depan | 120/80-12 65J | Block pattern untuk cengkeraman kota |
| Ban belakang | 130/80-12 69J | Menegaskan karakter kokoh |
Karakter itu diperkuat oleh ban tipe block pattern yang digunakan di depan dan belakang. Kombinasi tersebut membantu menjaga cengkeraman optimal saat motor kecil ini dipakai menembus padatnya lalu lintas perkotaan.
Mesin 125cc yang dibuat tetap fun
Di sektor dapur pacu, Honda Monkey mengandalkan mesin silinder tunggal 125cc SOHC 2-valve berpendingin udara. Mesin ini sudah didukung PGM-FI dan dipasangkan dengan transmisi 5 percepatan untuk respons yang lincah.
Spesifikasinya mencakup diameter dan panjang langkah 50,0 x 63,1 mm dengan rasio kompresi 10,0:1. Racikan tersebut diarahkan untuk memberi sensasi berkendara yang fun, sekaligus tetap sigap saat dipakai di lingkungan urban.
Transmisi 5-percepatan menjadi salah satu alasan Honda Monkey terasa lebih matang dari ukurannya. Kombinasi itu membuat karakter akselerasinya responsif dari putaran bawah hingga atas.
Wujud klasik, fitur modern
Walau siluetnya masih setia pada generasi pertama, Honda Monkey terbaru tidak meninggalkan sentuhan modern. Seluruh sistem pencahayaan sudah memakai LED untuk visibilitas yang lebih maksimal.
Panel meter di area kemudi juga dibuat ringkas, tetapi tetap informatif. Di sana tersedia speedometer digital minimalis, indikator level bensin enam segmen, odometer, serta dua trip meter.
Penyegaran visual menjadi elemen yang paling mudah terlihat. Honda Monkey kini hadir dengan tiga warna baru, yakni Banana Yellow, Millenium Red, dan Pearl Cadet Gray.
Ubahan yang paling mencolok ada pada jok bermotif kotak-kotak atau tartan klasik. Sentuhan ini membuat tampilannya makin fashionable dan menguatkan posisinya sebagai hobby bike premium yang ingin tampil beda.
Marketing Director AHM Octavianus Dwi mengatakan kombinasi warna dan motif jok terbaru itu dirancang untuk memberi tampilan yang lebih menarik dan penuh daya tarik. Ia juga menyebut Honda Monkey tetap mempertahankan keunikannya bagi pecinta motor hobi yang ingin mengekspresikan gaya diri.
“Honda Monkey memang punya tempat istimewa bagi mereka yang menganggap sepeda motor sebagai bagian dari gaya hidup. Lewat warna dan motif jok yang baru ini, kami ingin memberikan pilihan yang lebih unik dan ikonik bagi konsumen yang ingin mengekspresikan diri melalui motor hobi mereka, sekaligus berani tampil unik, fun, dan fashionable,” ujar Octa.
Harga yang membuatnya terasa beda kelas
Di pasar Indonesia, Honda Monkey terbaru dipasarkan secara resmi dengan harga On The Road (OTR) DKI Jakarta sebesar Rp88.094.000. Banderol itu membuatnya berada di wilayah harga yang biasanya identik dengan skutik premium 250cc, tetapi dengan pendekatan yang jauh lebih emosional dan kolektibel.
