Mobil Listrik Belum Sepenuhnya Ramah Lingkungan, Ini Dua Masalah Besarnya

Mobil listrik sering dianggap sebagai jawaban paling bersih untuk mobilitas modern. Namun, di balik emisi knalpot yang nyaris hilang, masih ada dua persoalan besar yang membuatnya belum sepenuhnya ramah lingkungan.

Masalah itu datang dari sumber listrik yang dipakai untuk mengisi daya dan dari potensi limbah baterai di masa depan. Dosen Program Studi Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Tony K. Hariadi, menegaskan bahwa manfaat kendaraan listrik tetap perlu dilihat dari keseluruhan rantai energinya.

Emisi Tetap Muncul Dari Hulu

Menurut Tony, kendaraan listrik memang hampir tidak menghasilkan polusi saat digunakan langsung di jalan. Tetapi listrik di Indonesia masih banyak berasal dari pembangkit berbahan bakar batu bara, sehingga emisi tetap muncul di sisi produksi energi.

Dalam keterangannya yang dikutip otomotif.kompas.com, Tony menyebut kendaraan listrik secara umum mampu memangkas emisi karbon sekitar 50 persen dibandingkan kendaraan konvensional. Meski begitu, jika jumlah pengguna terus bertambah, kebutuhan listrik nasional juga akan naik.

Ia mengingatkan bahwa bauran energi nasional yang masih bergantung pada batu bara bisa membuat emisi dari sektor pembangkitan ikut bertambah. Artinya, keuntungan lingkungan dari kendaraan listrik tidak otomatis maksimal bila sumber listriknya belum bersih.

AspekKendaraan ListrikTantangan
Emisi saat digunakanHampir tidak adaEmisi berpindah ke pembangkit listrik
Penghematan emisiSekitar 50 persen dibanding kendaraan konvensionalMasih bergantung pada bauran energi nasional
Dampak pertumbuhan penggunaLebih efisien saat dipakaiKebutuhan daya nasional ikut meningkat

Limbah Baterai Perlu Disiapkan Dari Sekarang

Selain soal sumber listrik, Tony juga menyoroti limbah baterai kendaraan listrik yang berpotensi menjadi persoalan baru dalam 10 hingga 20 tahun mendatang. Ia menilai sistem pengelolaan dan daur ulang baterai harus disiapkan sejak dini karena usia pakainya terbatas.

Menurut dia, kandungan material di dalam baterai memerlukan penanganan khusus. Jika tidak dirancang sejak awal, penumpukan limbah baterai justru bisa menjadi masalah lingkungan baru di masa depan.

“Kita harus mulai memikirkan sistem daur ulang baterai dari sekarang. Jangan sampai puluhan tahun lagi justru muncul masalah lingkungan baru akibat penumpukan limbah baterai,” katanya.

Infrastruktur Pengisian Cukup, Tapi Belum Menjawab Masalah Utama

Tony juga menanggapi rencana pembangunan 2.000 titik Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Muhammadiyah atau SKPL-MU. Ia menilai penambahan infrastruktur pengisian daya merupakan langkah positif untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik.

Meski begitu, ia menilai penyediaan stasiun pengisian saja belum cukup untuk menyelesaikan persoalan transportasi di Indonesia. Menurut Tony, akar masalahnya tetap ada pada ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.

Sebagai solusi, ia mengusulkan konsep TransportMU, yaitu layanan angkutan umum berbasis listrik yang menghubungkan berbagai Amal Usaha Muhammadiyah, mulai dari kampus, rumah sakit, hingga sekolah. Transportasi publik dinilai lebih efisien karena mampu mengangkut banyak penumpang dalam satu perjalanan.

“Penyebab utama tingginya konsumsi energi adalah ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi. Kalau Muhammadiyah memiliki sistem transportasi umum listrik yang nyaman dan tepat waktu, warga akan terdorong untuk beralih,” ucap Tony.

InisiatifTujuanCatatan
SKPL-MUMemperluas titik pengisian kendaraan listrikDinilai positif, tetapi belum cukup
TransportMUMendorong angkutan umum listrikMenghubungkan kampus, rumah sakit, dan sekolah

Ia menegaskan bahwa keberhasilan ekosistem kendaraan listrik tidak cukup diukur dari banyaknya mobil listrik di jalan. Yang lebih penting adalah terciptanya sistem transportasi yang efisien, mudah diakses, dan berkelanjutan.

“Hal paling penting sebenarnya bukan sekadar mengganti mobil bensin menjadi mobil listrik. Tantangan utamanya adalah mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi melalui penyediaan transportasi publik yang aman,” kata Tony.

Jika sumber listrik belum lebih bersih, pengelolaan baterai belum siap, dan masyarakat masih bergantung pada kendaraan pribadi, kendaraan listrik hanya akan memindahkan masalah dari satu sektor ke sektor lain. Karena itu, transisi yang benar-benar ramah lingkungan perlu berjalan dari hulu ke hilir.

Source: otomotif.kompas.com
Terkait