Mulai tahun depan, bensin di Indonesia akan masuk fase baru karena etanol wajib dicampur ke dalam bahan bakar secara bertahap. Kebijakan ini disiapkan pemerintah dengan mengacu pada pola penerapan biodiesel yang juga dimulai dari tahapan kecil sebelum terus naik.
Yang paling perlu dicermati bukan hanya target kebijakannya, tetapi juga dampaknya ke kendaraan yang dipakai sehari-hari. Pemerintah menyiapkan mandatori bioetanol sedikit demi sedikit, sementara kendaraan yang lebih lama berpotensi lebih sensitif terhadap kadar etanol yang lebih tinggi.
Mandatori Bertahap, Dimulai dari E5
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyebut penerapan bioetanol akan dilakukan secara bertahap. Dalam pernyataannya yang dikutip Antara, ia mengatakan, “Arahan Bapak Presiden (Prabowo Subianto), etanol kita harus lakukan. Maka, mandatori akan kami lakukan 2027,” ucap Bahlil.
Di sisi lain, Kementerian ESDM juga sudah menyiapkan langkah awal sebelum target itu berjalan penuh. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan, dan Konservasi Energi Eniya Listiani Dewi mengatakan pihaknya mendorong mandatori bioetanol 5 persen atau E5 agar segera berjalan sebelum Desember tahun ini.
Setelah E5, pemerintah menargetkan peningkatan ke 10 persen atau E10 pada awal 2027. Tahap berikutnya adalah E20 yang ditargetkan pada 2028, dan Eniya juga menyebut teknologi mesin kendaraan saat ini diyakini bisa mengonsumsi bensin dengan campuran etanol sampai 30 persen.
Uji E20 dan Risiko di Kendaraan Lama
Sebelum masuk ke E20, Eniya mengungkapkan pihaknya telah berkomunikasi dengan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo untuk memulai uji jalan BBM E20. Ia mendorong agar pengujian itu dilakukan secepatnya.
| Tahap Campuran Etanol | Target | Keterangan |
|---|---|---|
| E5 | Mulai berjalan tahun ini | Ditargetkan sebelum Desember |
| E10 | Awal 2027 | Menjadi target peningkatan setelah E5 |
| E20 | 2028 | Masuk tahap uji jalan lebih dulu bersama Gaikindo |
Menurut pengamat otomotif Yannes Pasaribu, mobil keluaran 2010 ke atas umumnya sudah dirancang untuk memenuhi standar emisi Euro 4 dan Euro 5. Model-model itu biasanya sudah memakai teknologi injeksi modern dan material yang tahan etanol.
Yannes menjelaskan desain kendaraan modern memang disiapkan untuk konsumsi bahan bakar beretanol hingga E10, bahkan lebih. Ia menyebut sistem pembakaran yang kompatibel bisa membantu meningkatkan performa mesin sekaligus menurunkan emisi gas buang.
Namun, kondisi berbeda berlaku untuk kendaraan yang lebih tua. Untuk mobil produksi sebelum 2010, material pada saluran bahan bakar umumnya belum sepenuhnya kompatibel dengan etanol di atas 5 persen, terutama pada komponen karet yang bisa cepat getas dan memicu kebocoran bahan bakar.
Masih Sesuai Batas Manual Beberapa Mobil
Keterangan dalam buku manual salah satu mobil terlaris di Indonesia, Toyota Avanza, juga menunjukkan bahwa campuran etanol masih diperbolehkan. Batasnya disebut tidak lebih dari 10 persen, dengan catatan angka oktan bahan bakar tetap sesuai dengan ketentuan di atas.
Dengan rencana penerapan yang naik bertahap dari E5, E10, hingga E20, perhatian terbesar kini tertuju pada kesiapan kendaraan di lapangan. Mobil yang lebih baru tampak lebih siap, sementara kendaraan lama diperkirakan perlu perhatian ekstra saat kadar etanol di bensin mulai meningkat.
Source: oto.detik.com






