Pasar otomotif Indonesia memasuki semester I 2026 dengan kejutan yang sulit diabaikan. BYD bukan hanya masuk jajaran merek terlaris, tetapi juga berhasil menyalip Honda dalam penjualan wholesales.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo menunjukkan penjualan wholesales sepanjang periode itu mencapai 436.564 unit, naik 15,9 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Penjualan ritel juga bergerak naik menjadi 433.848 unit, tumbuh 10,5 persen.
Di tengah kenaikan pasar, pergeseran paling mencolok datang dari merek Tiongkok. BYD membukukan 23.257 unit wholesales, sedangkan Honda berada di 20.673 unit. Pada ritel, Honda masih unggul tipis dengan 23.847 unit, tetapi selisihnya hanya 659 unit.
| Merek | Wholesales | Ritel |
|---|---|---|
| Toyota | 133.928 unit | – |
| Daihatsu | 73.545 unit | – |
| Suzuki | 36.319 unit | – |
| Mitsubishi Motors | 32.588 unit | – |
| BYD | 23.257 unit | – |
| Honda | 20.673 unit | 23.847 unit |
Jaecoo ikut mendorong perubahan
Selain BYD, merek Tiongkok lain yang mencuri perhatian adalah Jaecoo. Pendatang baru ini langsung menembus delapan besar dengan 17.334 unit wholesales dan 16.986 unit ritel, melampaui Wuling, Hyundai, dan Geely.
Fenomena itu menunjukkan pasar Indonesia semakin terbuka terhadap merek baru, terutama yang menawarkan teknologi mutakhir dengan harga kompetitif. BYD dan Jaecoo tampil di saat konsumen juga makin akrab dengan kendaraan listrik.
Flotim.pikiran-rakyat.com mencatat, dorongan lain datang dari kebijakan pemerintah yang mendukung percepatan adopsi kendaraan listrik melalui insentif pajak dan regulasi ramah lingkungan. Kombinasi itu membuat EV asal Tiongkok punya ruang tumbuh yang semakin besar.
Harga kompetitif dan agenda besar industri
Setidaknya ada tiga pendorong yang memperkuat penjualan semester I 2026. Pertama, harga EV asal Tiongkok relatif lebih terjangkau dibanding produk Jepang atau Korea.
Kedua, insentif pemerintah ikut mempercepat penetrasi kendaraan listrik. Ketiga, pameran GIIAS 2026 yang digelar pada 29 Juli–9 Agustus diperkirakan memberi dorongan tambahan untuk penjualan semester II.
Di sisi lain, industri masih menghadapi tekanan. Nilai tukar rupiah yang bertahan di Rp17.900 per dolar AS berpotensi menaikkan biaya produksi, sementara suku bunga acuan BI naik ke 5,75 persen dan dapat menekan permintaan kredit kendaraan.
Persaingan pun belum akan mereda dalam waktu dekat. Jepang berusaha mempertahankan dominasi, sedangkan merek Tiongkok terus agresif memperluas pasar di Indonesia.
Semester I 2026 menjadi penanda penting bahwa peta persaingan otomotif nasional mulai berubah. BYD berhasil menyalip Honda, Jaecoo muncul sebagai pendatang baru yang langsung masuk delapan besar, dan merek Tiongkok kini memberi tekanan nyata pada pemain lama.







