BYD memasang target besar untuk menjadi produsen mobil terbesar di dunia dalam lima tahun mendatang. Ambisi itu langsung menempatkan perusahaan asal Tiongkok tersebut dalam persaingan terbuka dengan Toyota, pemimpin penjualan otomotif global saat ini.
Taruhannya bukan hanya volume kendaraan, melainkan kemampuan BYD membawa pertumbuhan kendaraan energi baru ke pasar internasional. Strategi ini menjadi penting ketika penjualan domestiknya di China justru mengalami tekanan pada semester pertama 2026.
Jarak Penjualan yang Masih Lebar
Toyota masih berada di puncak dengan penjualan global sekitar 11,3 juta unit per tahun. Untuk melampauinya, BYD perlu menambah kira-kira 1 juta unit penjualan setiap tahun selama lima tahun berturut-turut.
Target tersebut tergolong berat karena Toyota memiliki reputasi kuat serta jaringan global yang telah mapan. Namun, BYD datang dengan momentum produksi kendaraan energi baru yang meningkat sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir.
| Indikator | Data | Periode |
|---|---|---|
| Produksi NEV BYD | Lebih dari 17 juta unit | Hingga Juli 2026 |
| Produksi NEV BYD sebelumnya | 1 juta unit | 2021 |
| Penjualan domestik BYD di China | Turun 45,9% | Semester I 2026 |
| Ekspor kendaraan BYD | Lebih dari 160.000 unit, naik 80% | Mei 2026 |
Hingga Juli 2026, BYD telah memproduksi lebih dari 17 juta kendaraan energi baru atau NEV. Angka itu melonjak tajam dibandingkan capaian 1 juta unit pada 2021, yang memperlihatkan laju ekspansi kapasitas perusahaan.
Di sisi lain, penjualan domestik BYD di China disebut turun 45,9% pada semester pertama 2026. Kondisi tersebut mendorong perusahaan memperbesar fokus ke pasar di luar negeri agar tidak terlalu bergantung pada permintaan domestik.
Ekspor Menjadi Mesin Pertumbuhan
Ekspor menjadi salah satu penopang penting strategi BYD, dengan pengiriman lebih dari 160.000 kendaraan pada Mei 2026. Angka tersebut naik 80% dibandingkan periode tahun sebelumnya dan menandakan perluasan pengaruh BYD di luar Asia.
Menurut laporan flotim.pikiran-rakyat.com, BYD mengarahkan ekspansinya ke Eropa, Amerika Latin, Asia Tenggara, dan Australia. Pasar Amerika Serikat masih sulit ditembus karena tarif tinggi, sehingga perusahaan memilih wilayah lain yang lebih terbuka terhadap kendaraan listrik.
Eropa menjadi pasar penting karena regulasi emisi di kawasan itu semakin ketat. Perubahan kebijakan tersebut dapat mendorong lebih banyak konsumen mempertimbangkan mobil listrik sebagai alternatif kendaraan berbahan bakar konvensional.
Asia Tenggara juga dinilai memiliki potensi karena permintaan kendaraan ramah lingkungan terus tumbuh. Bagi BYD, kawasan ini dapat menjadi salah satu pasar untuk memperluas penjualan di luar China.
Baterai Blade dan Pengisian Cepat
Selain mengandalkan volume produksi, BYD menyiapkan inovasi teknologi sebagai pembeda dalam persaingan global. Salah satu andalannya adalah baterai Blade generasi kedua yang disebut lebih aman, efisien, dan tahan lama.
BYD juga menyiapkan jaringan pengisian cepat di Eropa yang disebut mampu mengisi penuh baterai mobil listrik dalam lima menit. Investasi untuk langkah ini mencapai hampir Rp37 triliun dan diarahkan untuk menjawab keraguan konsumen terhadap waktu pengisian daya.
Penguatan infrastruktur itu dapat menjadi faktor penting bagi pembeli yang masih menilai kendaraan listrik dari sisi kemudahan penggunaan sehari-hari. Kecepatan pengisian dan jangkauan layanan menjadi bagian dari persaingan yang tidak hanya ditentukan oleh harga atau jumlah model.
Pabrik Hongaria untuk Hadapi Tarif
BYD juga membangun fasilitas produksi baru di Hongaria, dengan mobil perdana dijadwalkan mulai diproduksi pada kuartal IV 2026. Pabrik ini menjadi bagian dari upaya memperkuat basis manufaktur di luar Tiongkok.
Keberadaan pabrik di Hongaria sekaligus berkaitan dengan strategi menghadapi tarif impor tinggi Uni Eropa terhadap kendaraan listrik asal Tiongkok. Produksi lokal dapat membantu BYD menata ekspansi Eropa di tengah kebijakan perdagangan yang lebih ketat.
Meski pertumbuhan BYD cepat, persaingan menuju posisi teratas tetap tidak sederhana. Volkswagen, Hyundai, dan General Motors juga agresif mengembangkan kendaraan listrik, sementara kebijakan proteksi perdagangan dapat menghambat laju ekspansi di sejumlah negara.
Toyota pun tidak tinggal diam dalam menghadapi perubahan pasar otomotif global. Produsen Jepang itu terus memperkuat lini hybrid dan mulai mempercepat pengembangan kendaraan listrik murni, sehingga persaingan dengan BYD akan ditentukan oleh kemampuan masing-masing merebut pasar global.







