Toyota Veloz Hybrid EV menempuh perjalanan sekitar 408,8 kilometer dari Kendari menuju Morowali tanpa perlu mengisi bahan bakar kembali. Dalam jarak tersebut, indikator bensin dilaporkan hanya berkurang sekitar tiga bar dari kondisi tangki penuh.
Catatan itu menjadi sorotan dalam etape awal EV Lintas Nusa 2.0 yang melintasi beragam karakter jalan di Sulawesi. Mobil tidak hanya menghadapi jalan nasional yang mulus, tetapi juga tanjakan, turunan, tikungan panjang, hingga ruas rusak yang menyerupai jalur off-road ringan.
Efisiensi Diuji di Medan yang Beragam
Rute panjang tersebut memberi gambaran tentang cara sistem hybrid bekerja di kondisi penggunaan yang tidak seragam. Kombinasi mesin bensin dan motor listrik tetap dituntut efisien saat kendaraan melaju di jalan datar, menanjak, menurun, maupun melewati permukaan bergelombang.
Berdasarkan laporan moladin.com, Veloz Hybrid EV masih dapat melanjutkan perjalanan setelah tiba di Morowali dengan bahan bakar dari pengisian awal di Kendari. Hasil sementara ini memperlihatkan efisiensi menjadi salah satu kekuatan utama mobil selama perjalanan lintas Sulawesi.
Sistem hybrid memungkinkan motor listrik mengambil alih penggerak pada kecepatan rendah atau kondisi tertentu. Peralihan kerja tersebut juga membuat suara mesin di dalam kabin terasa lebih halus dibandingkan mobil bermesin bensin konvensional.
Stabilitas Terasa Berbeda dari Model Bensin
Selain konsumsi bahan bakar, perjalanan ini memperlihatkan perubahan karakter pengendalian dibanding Veloz versi bermesin bensin. Baterai hybrid yang ditempatkan di bagian bawah kendaraan membuat titik gravitasi mobil lebih rendah.
Posisi baterai itu membantu Veloz Hybrid EV terasa lebih mantap ketika melintasi tikungan dan jalan bergelombang. Bobot tambahan dari komponen hybrid disebut turut menciptakan distribusi berat yang lebih seimbang saat kendaraan bermanuver.
Di jalur berliku, pengendalian mobil tetap terasa presisi dan tidak mudah limbung. Kondisi tersebut penting karena sebagian rute EV Lintas Nusa 2.0 menghadirkan tikungan tajam serta kontur perbukitan yang menuntut kestabilan kendaraan.
Ruas jalan yang rusak juga menjadi bagian dari pengujian karakter suspensi. Suspensi Veloz Hybrid EV masih mampu meredam guncangan dengan cukup baik sehingga kenyamanan berkendara tetap terjaga saat permukaan jalan tidak rata.
Kabin Dibuat Lebih Nyaman untuk Perjalanan Jauh
Tingkat kesenyapan kabin menjadi manfaat lain dari kerja sistem hybrid dalam perjalanan antarkota. Ketika motor listrik berperan sebagai penggerak, suara mesin yang masuk ke kabin dapat berkurang sehingga suasana perjalanan terasa lebih tenang.
Kenyamanan penumpang juga didukung ruang kaki baris kedua yang tergolong lega. Posisi duduk yang ergonomis membantu menjaga kenyamanan saat penumpang harus berada di dalam mobil selama berjam-jam.
Karakter kabin yang lebih senyap dan suspensi yang tetap mampu meredam guncangan menjadi kombinasi penting di rute panjang. Hal ini membuat fokus perjalanan tidak hanya tertuju pada angka efisiensi bahan bakar, melainkan juga pengalaman penumpang di berbagai kondisi jalan.
Pemeriksaan Dilakukan Sebelum Berangkat
Sebelum meninggalkan Kendari, seluruh armada Toyota Veloz Hybrid EV menjalani pemeriksaan menyeluruh. Pengecekan mencakup tekanan ban, sistem pengereman, kondisi oli mesin, serta seluruh lampu kendaraan.
Komponen khusus elektrifikasi juga mendapat perhatian, termasuk sistem pendingin baterai dan filter baterai. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk menjaga performa sistem hybrid sepanjang perjalanan ratusan kilometer.
Tangki bahan bakar diisi penuh sebelum keberangkatan sebagai bekal untuk etape awal menuju Morowali. Perjalanan juga didukung jaringan Kalla Toyota dengan layanan 3S yang mencakup Sales, Service, dan Spare Parts di sejumlah kota di Sulawesi.
Perjalanan EV Lintas Nusa 2.0 masih akan berlanjut hingga total sekitar 4.800 kilometer. Etape awal ini menunjukkan Toyota Veloz Hybrid EV mampu memadukan efisiensi bahan bakar, kestabilan pengendalian, serta kenyamanan kabin saat menghadapi rute jauh dengan medan yang berubah-ubah.
