Update Harga BBM Usai Demo Reset Indonesia: Pertamina vs SPBU Swasta, Ini Faktanya

Setelah aksi demonstrasi besar bertajuk Reset Indonesia yang sempat mengganggu distribusi bahan bakar minyak (BBM), kini perhatian publik tertuju pada perkembangan harga BBM di pasaran. Penyesuaian harga berlaku mulai 1 September 2025 baik pada SPBU milik Pertamina maupun SPBU swasta yang mengalami dinamika kenaikan dan penurunan harga tergantung jenis BBM yang diperdagangkan. Pemerintah juga telah berupaya menambah pasokan BBM hingga 10 persen guna mengatasi gangguan distribusi selama demo sehingga pasokan kini sudah kembali normal sejak 2 September 2025.

Kondisi distribusi yang mulai stabil memungkinkan masing-masing perusahaan BBM melakukan evaluasi harga sesuai dengan kondisi pasar dan biaya operasional terkini. Dari data resmi yang diumumkan oleh beberapa operator SPBU swasta maupun Pertamina, terlihat adanya tren harga bensin yang naik tipis sementara harga solar atau diesel cenderung mengalami penurunan. Kebijakan ini tentunya dipengaruhi oleh peraturan dan faktor pasar yang berbeda antara Pertamina sebagai BUMN dan perusahaan swasta seperti Shell, BP-AKR, serta Vivo.

Penyesuaian Harga BBM di SPBU Swasta

Shell Indonesia mengumumkan update harga khusus di wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Untuk bensin, Shell Super (RON 92) tetap stabil di harga Rp12.580 per liter, namun Shell V-Power dengan RON 95 naik tipis menjadi Rp13.140 per liter dan Shell V-Power Nitro Plus RON 98 juga naik ke Rp13.300 per liter. Sementara itu, Shell V-Power Diesel mengalami penurunan harga menjadi Rp14.130 per liter.

BP-AKR Indonesia menyusul dengan menaikkan harga bensin BP 92 menjadi Rp12.610 per liter dan BP Ultimate RON 95 naik menjadi Rp13.120 per liter. Kebalikannya, BP Ultimate Diesel turun harga dari Rp14.380 menjadi Rp14.140 per liter. Pola yang sama juga terjadi pada Vivo dengan kenaikan pada produk bensin Revvo 90, 92, dan 95, masing-masing menjadi Rp12.530, Rp12.610, dan Rp13.140 per liter. Diesel Primus Plus mengalami penurunan harga menjadi Rp14.140 per liter.

Kebijakan Harga BBM di Pertamina

Sementara itu, Pertamina justru memilih mengoreksi harga diesel nonsubsidi secara signifikan turun. Dexlite turun dari Rp13.850 menjadi Rp13.600 per liter dan Pertamina Dex turun dari Rp14.150 menjadi Rp13.850 per liter. Pada sisi bensin nonsubsidi, harga Pertamax (RON 92), Pertamax Green (RON 95), dan Penurunan tipis pada Pertamax Turbo (RON 98) masing-masing tetap di kisaran Rp12.200, Rp13.000, dan Rp13.100 per liter. Sementara itu BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak mengalami perubahan harga yakni Rp10.000 dan Rp6.800 per liter.

Penurunan harga diesel oleh Pertamina mengacu pada Kepmen ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022 yang mengatur formula dasar penentuan harga BBM umum berdasarkan kurs mata uang, harga minyak mentah global, dan biaya distribusi. Hal ini membuat harga BBM di Pertamina lebih stabil dan terukur secara regulasi dibandingkan dengan SPBU swasta yang lebih fleksibel mengikuti dinamika pasar.

Perbandingan Pola Harga BBM Usai Demo Reset Indonesia

Secara garis besar, pola update harga BBM setelah demo Reset Indonesia sebagai berikut:

  1. SPBU Swasta (Shell, BP, Vivo):

    • Bensin mengalami kenaikan harga tipis.
    • Diesel mengalami penurunan harga.
  2. Pertamina:
    • Diesel mengalami penurunan harga signifikan.
    • Bensin relatif stabil tanpa perubahan harga berarti.

Perbedaan ini mencerminkan kebijakan yang berbeda antara BUMN dan swasta dalam mengelola harga BBM. Pertamina yang terikat regulasi memiliki mekanisme penyesuaian yang lebih terukur, sementara SPBU swasta cenderung lebih responsif terhadap perubahan pasar dan pasokan.

Walaupun terjadi kenaikan kecil pada bensin di beberapa SPBU swasta, penurunan diesel di berbagai merek justru memberikan ruang bagi konsumen untuk memperoleh BBM dengan harga lebih kompetitif pada jenis solar. Dengan pasokan yang telah kembali normal dan dukungan pemerintah terhadap kelancaran distribusi, dinamika harga BBM ini menjadi gambaran adaptasi pasar yang tetap mengutamakan keseimbangan antara kebutuhan konsumen dan kelangsungan bisnis operator BBM nasional.

Berita Terkait

Back to top button