Mobil produksi Indonesia berhasil menguasai pasar otomotif di Vietnam pada Agustus 2025, mengungguli beberapa pesaing utama seperti Thailand dan China. Data dari Kantor Statistik Umum Kementerian Keuangan Vietnam menunjukkan bahwa meskipun impor mobil secara keseluruhan ke Vietnam mengalami penurunan, produk asal Indonesia tetap mendominasi secara jumlah unit kendaraan yang masuk ke negara tersebut.
Pada Agustus 2025, total impor mobil ke Vietnam mencapai sekitar 14.913 unit, turun 19% dari bulan sebelumnya dan sedikit menurun 0,6% dibandingkan Agustus 2024. Namun, mobil Indonesia berada di posisi teratas dengan total pengiriman sebesar 6.673 unit, yang bernilai hampir US$ 91,5 juta. Posisi kedua ditempati oleh Thailand dengan 5.346 unit dan nilai impor US$ 113,4 juta, serta China di urutan ketiga dengan 3.206 unit, bernilai lebih dari US$ 106,4 juta. Data ini mengindikasikan dominasi kuantitas mobil Indonesia di pasar Vietnam meski nilainya masih kalah dari Thailand dan China.
Tren Impor Mobil di Pasar Vietnam
Secara kumulatif dari Januari hingga Agustus 2025, Vietnam mengimpor total 136.490 unit mobil utuh (completely built-up/CBU) senilai sekitar US$ 3,02 miliar. Jumlah ini meningkat 28,1% dari sisi volume dan 38,3% dari nilai dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menandakan pasar Vietnam tumbuh signifikan. Selain merek dari Indonesia, Thailand, dan China, pasar Vietnam juga mengimpor mobil berbagai negara seperti Jepang, Rusia, Korea Selatan, Jerman, Amerika Serikat, dan Inggris.
Mobil Indonesia yang Mendominasi Pasar Vietnam
Beberapa model mobil rakitan Indonesia yang telah merambah pasar Vietnam dengan sukses antara lain Mitsubishi Xpander, Mitsubishi Xpander Cross, Mitsubishi XForce, Toyota Rush, Toyota Avanza, dan Toyota Fortuner. Popularitas model-model ini di Vietnam menunjukkan keberhasilan produk otomotif Indonesia dalam menarik minat konsumen di luar negeri.
Perbandingan Kinerja Ekspor Mobil Indonesia dengan Negara Lain
Dari sisi volume, Indonesia mengekspor 51.955 unit mobil ke Vietnam sepanjang delapan bulan pertama 2025, lebih tinggi dari Thailand yang mengekspor 47.344 unit dan China dengan 30.506 unit. Namun demikian, dari aspek nilai impor, China unggul dengan nilai tertinggi mencapai US$ 993,7 juta, diikuti Thailand senilai US$ 935 juta, dan Indonesia dengan nilai sebesar US$ 736,4 juta.
Fenomena ini menunjukkan bahwa mobil-mobil dari China dan Thailand cenderung memiliki harga per unit lebih tinggi dibandingkan produk Indonesia, meskipun dalam kuantitas Indonesia jauh lebih unggul. Hal ini juga memperlihatkan strategi Indonesia yang fokus pada volume dan keberagaman produk untuk menancapkan posisi kuat di pasar Vietnam.
Dinamika Pasar Otomotif Asia Tenggara
Melihat perkembangan ini, Indonesia semakin diakui sebagai produsen mobil kompetitif di pasar Asia Tenggara. Dominasi di pasar Vietnam sekaligus menunjukkan keefektifan strategi manufaktur dan ekspor mobil Indonesia yang mampu menembus pasar negara dengan persyaratan ketat dan persaingan sengit. Sementara itu, Thailand dan China yang selama ini menjadi pemain utama harus mengantisipasi pergeseran ini untuk mempertahankan posisi mereka.
Ke depan, Indonesia berpotensi memperluas pangsa pasar mobilnya tidak hanya di Vietnam tetapi juga negara-negara lain di kawasan regional, dengan terus meningkatkan kualitas, fitur teknologi, dan daya saing harga. Data terbaru ini juga memberi sinyal kepada pelaku industri otomotif dan pembuat kebijakan untuk mendorong daya saing produk lokal agar dapat bersaing di tingkat internasional.
Dengan tren peningkatan nilai impor dan volume mobil yang didominasi oleh produk Indonesia, pasar Vietnam menjadi contoh nyata keberhasilan ekspor otomotif Indonesia yang sudah mampu menyingkirkan Thailand dan China dalam hal kuantitas kendaraan. Strategi yang berkelanjutan dalam inovasi dan penyesuaian produk tentu akan semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama di pasar otomotif Asia Tenggara.





