
Toyota kembali menunda pembangunan pabrik baterai mobil listrik di Prefektur Fukuoka, Jepang. Ini merupakan kali kedua dalam tahun 2025 perusahaan Jepang tersebut menunda proyek tersebut karena permintaan mobil listrik yang melambat secara global.
Penundaan ini menunjukkan sikap berhati-hati Toyota dalam menghadapi pasar kendaraan listrik yang belum stabil. Meski begitu, Toyota menyatakan pembangunan pabrik tetap akan dilanjutkan, dengan batas waktu pembangunan paling lambat tiga tahun sejak pembelian lahan.
Toyota telah menginvestasikan sekitar 6 miliar yen atau setara 39 juta dolar AS untuk lahan pabrik di kawasan industri timur laut Prefektur Fukuoka. Gubernur Fukuoka dan Presiden Toyota, Koji Sato, mengonfirmasi penundaan ini pada November 2025, sekaligus mengakui kondisi pasar yang lebih menantang dari perkiraan sebelumnya.
Awalnya, pabrik direncanakan mulai berproduksi pada 2028, tetapi hingga kini belum ada jadwal baru yang diumumkan. Menurut laporan Nikkei Asia, perubahan jadwal ini juga mencerminkan strategi Toyota untuk menyesuaikan diri dengan perlambatan pasar mobil listrik global.
Toyota menurunkan target penjualan kendaraan listrik global sebesar 10 persen menjadi 277.000 unit untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2026. Penurunan target ini tercantum dalam laporan keuangan terbaru perusahaan yang dirilis pada akhir 2025.
Namun demikian, dalam jangka panjang, Toyota tetap optimistis dengan target menjual 1,5 juta mobil listrik secara global pada 2026. Target ini masih memungkinkan untuk disesuaikan tergantung dinamika pasar yang terus berkembang.
Secara garis besar, penundaan pembangunan pabrik baterai mencerminkan kondisi pasar mobil listrik yang belum sepenuhnya solid. Toyota menilai pembangunan pabrik hanya akan efektif jika penjualan kendaraan listrik telah menunjukkan tren peningkatan yang stabil.
Toyota khawatir jika pabrik baterai dibuka dalam kondisi permintaan rendah, fasilitas tersebut bisa beroperasi di bawah kapasitas atau bahkan menganggur. Risiko seperti ini ingin dihindari demi menjaga efisiensi produksi dan kestabilan finansial perusahaan.
Meski menunda pabrik baterai di Jepang, Toyota tetap berkomitmen memperluas produksi EV melalui proyek lain. Salah satunya adalah rencana membuka pabrik kendaraan listrik merek Lexus di Shanghai, Tiongkok, pada sekitar 2027.
Pabrik di Shanghai nanti akan memproduksi model LF-ZC dan LF-ZL, dua mobil listrik yang sebelumnya ditampilkan dalam bentuk konsep. Hal ini menunjukkan fokus Toyota dalam mengembangkan produk EV di pasar Asia yang potensial.
Dari sisi penjualan, mobil listrik Toyota masih mencatat pertumbuhan 20,6 persen selama sembilan bulan pertama 2025 dengan total 117.031 unit. Namun, angka ini belum memenuhi ekspektasi internal perusahaan.
Pemerintah Jepang dan otoritas lokal di Fukuoka mendukung penuh perkembangan industri baterai dan kendaraan listrik. Mereka berharap proyek pabrik baterai Toyota dapat segera berjalan ketika kondisi pasar mulai membaik.
Pergerakan strategi Toyota ini menjadi indikator penting bagi industri otomotif global. Terutama menunjukkan bahwa perkembangan pasar EV belum selalu mulus dan memerlukan penyesuaian perencanaan perusahaan.
Kondisi ini juga menunjukkan bahwa pertumbuhan pasar mobil listrik masih dipengaruhi berbagai faktor eksternal seperti ekonomi global, harga bahan baku, dan perubahan regulasi emisi kendaraan.
Toyota memilih pendekatan konservatif dengan menunda proyek besar sambil tetap fokus pada pengembangan teknologi dan produksi EV. Langkah ini dianggap wajar dalam kondisi ketidakpastian pasar saat ini.
Jadi, penundaan pabrik baterai EV Toyota menjadi sinyal bahwa pasar kendaraan listrik mengalami masa adaptasi dan pertumbuhan yang lebih lambat dari yang diantisipasi. Namun, industri tetap bergerak menuju elektrifikasi jangka panjang.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com




