Hyundai Motor India secara diam-diam menghentikan penjualan Hyundai Tucson di pasar domestik. Model SUV premium ini sudah tidak lagi muncul di situs resmi Hyundai India sebagai bagian dari jajaran produk mereka.
Tucson hadir sebelumnya sebagai SUV segmen menengah atas dengan dua pilihan mesin bensin dan diesel yang seluruhnya dikawinkan dengan transmisi otomatis. Varian diesel bahkan mendapat fitur penggerak semua roda (AWD), yang cukup langka di kelasnya.
Meskipun dibekali teknologi canggih, Tucson gagal menarik minat konsumen India yang dikenal sangat sensitif terhadap harga. Mobil ini mengusung fitur keselamatan Level 2 ADAS, layar sentuh 10,25 inci, panel instrumen digital, serta kursi pengemudi elektrik dengan memori.
Model ini juga sempat memperoleh rating keselamatan lima bintang dari Bharat NCAP, lembaga pengujian keselamatan kendaraan di India. Namun, penjualan Tucson terus menurun di tengah persaingan ketat segmen SUV premium.
Dengan harga awal sekitar Rs 27,31 lakh (sekitar Rp 500 jutaan), Tucson harus bersaing langsung dengan Jeep Compass dan Citroen C5 Aircross yang telah lebih dulu mendominasi pasar. Faktor harga membuat Tucson dianggap terlalu mahal untuk konsumen yang lebih mengutamakan nilai dan efisiensi.
Selain itu, Tucson posisinya dianggap terlalu premium jika dibandingkan dengan SUV Hyundai lainnya seperti Creta dan Alcazar. Pasar otomotif India lebih condong ke kendaraan yang menawarkan kombinasi harga terjangkau dan fitur cukup lengkap.
Keputusan Hyundai menghentikan Tucson diyakini sebagai bagian dari strategi penataan ulang lini produk. Hyundai sekarang berfokus memperkuat SUV volume tinggi di segmen menengah yang lebih berkontribusi besar terhadap penjualan keseluruhan.
Penghentian Tucson meninggalkan kekosongan di segmen SUV premium Hyundai di India. Saat ini, pihak Hyundai belum menghadirkan pengganti langsung model ini untuk pasar domestik.
Beberapa analis memperkirakan Hyundai akan menghadirkan model baru yang lebih kompetitif dari segi harga di kemudian hari. Model pengganti kemungkinan mengusung teknologi hibrida atau listrik sebagai bagian dari tren elektrifikasi global.
Langkah Hyundai ini menunjukkan perubahan fokus bisnis dari mengedepankan citra premium ke efisiensi harga dan volume penjualan yang lebih tinggi. Mobil seperti Tucson pergi tanpa banyak pengumuman publik.
Kepergian Tucson menyiratkan bahwa persaingan di segmen SUV India kini semakin berat ditentukan oleh strategi harga dan nilai daya saing, bukan hanya fitur dan teknologi canggih semata. Hyundai berusaha menyesuaikan diri dengan karakter pasar otomotif lokal yang sangat sensitif terhadap biaya.
Dengan kondisi ini, Hyundai perlu menyiapkan portofolio SUV yang lebih sesuai dengan preferensi konsumen India. Penyesuaian ini menjadi krusial agar dapat mempertahankan posisi kompetitif di pasar yang terus berkembang dan sangat kompetitif.







