Ilmuwan akhirnya mengungkap alasan utama mengapa wajah Neanderthal sangat berbeda dengan manusia modern. Penelitian terbaru menunjuk pada perubahan kecil pada bagian tertentu dari genom manusia yang disebut sebagai “dark genome.”
Neanderthal, yang hidup antara 400.000 hingga 40.000 tahun lalu, memiliki ciri wajah khas seperti rahang besar, dahi menonjol, dan hidung besar. Meski begitu, secara genetik mereka 99,7 persen identik dengan manusia modern. Perbedaan besar ini pun menjadi misteri hingga kini.
Peranan Kunci Gen SOX9 dalam Perbedaan Wajah
Dr. Hannah Long, ahli genetika dari University of Edinburgh, menemukan bahwa perbedaan wajah tersebut berasal dari perbedaan tiga huruf DNA pada bagian enhancer cluster 1.45, atau EC 1.45. Bagian ini berfungsi mengatur gen SOX9 yang penting dalam pembentukan wajah dan rahang saat janin berkembang.
“Meski hampir sama, tiga huruf DNA ini membuat gen SOX9 bekerja lebih aktif pada Neanderthal,” jelas Dr. Long. Aktivitas lebih tinggi ini menyebabkan rahang Neanderthal tumbuh lebih besar dan wajah mereka menjadi lebih menonjol dibandingkan manusia modern.
Eksperimen pada Embrio Ikan Zebra Membuktikan Perbedaan Aktivitas Gen
Untuk menguji hipotesis ini, tim peneliti menggunakan embrio ikan zebra yang transparan. Mereka menyisipkan versi EC 1.45 dari manusia dan Neanderthal ke dalam DNA ikan tersebut. Dengan penanda fluoresen, aktivitas gen SOX9 dapat diamati secara langsung selama perkembangan.
Hasilnya membuktikan bahwa versi Neanderthal lebih aktif dalam sel-sel pembentuk rahang ikan zebra. Penambahan gen SOX9 membuat rahang ikan menjadi lebih besar, memperkuat teori bahwa gen ini menjadi penggerak utama perbedaan wajah Neanderthal.
Peranan “Dark Genome” dalam Evolusi Wajah Manusia
Menariknya, bagian genom ini termasuk dalam “dark genome,” yang sebelumnya dianggap sebagai DNA sampah (junk DNA). Sekitar 98 persen DNA manusia berada dalam kategori ini, yang tidak mengandung gen aktif tetapi berfungsi mengatur kapan dan bagaimana gen lain bekerja.
Penelitian ini menunjukkan bahwa bagian gelap dari genom ternyata memiliki peranan besar dalam evolusi wajah manusia. Dr. Long mengungkapkan, “Dark genome menyimpan kunci besar untuk memahami evolusi wajah manusia.”
Adaptasi Genetik dalam Perubahan Lingkungan
Rahang besar Neanderthal bukanlah hasil mutasi acak, melainkan adaptasi genetik terhadap lingkungan zaman es yang lebih keras. Rahang kuat membantu mereka mengunyah makanan keras seperti daging mentah dan akar tumbuhan. Sementara hidung besar berfungsi menghangatkan udara dingin sebelum masuk ke paru-paru.
Perbedaan kecil dalam DNA yang menyebabkan aktivitas gen SOX9 berbeda telah menghasilkan perubahan besar dalam anatomi dan evolusi manusia. Penemuan ini membuat kita lebih memahami bagaimana manusia modern berevolusi dari nenek moyang purba mereka.
Dampak Penemuan untuk Studi Kelainan Bawaan
Selain menjelaskan evolusi wajah Neanderthal, studi ini juga bisa membantu memahami kelainan bawaan wajah pada manusia modern. Salah satunya adalah Pierre Robin sequence, sebuah kondisi di mana rahang bawah tidak berkembang sempurna.
“Memahami peran gen SOX9 dan dark genome dapat membuka jalan baru bagi studi kelainan bawaan pada wajah manusia,” tambah Dr. Long.
Warisan Genetik Neanderthal pada Manusia Modern
Penelitian juga menyoroti bahwa banyak manusia modern masih membawa sebagian kecil DNA Neanderthal akibat perkawinan silang sekitar 50.000 tahun lalu. Sebagian dari kita mungkin menyimpan warisan gen SOX9 versi Neanderthal dalam tubuh, walaupun dalam jumlah yang sangat kecil.
Temuan ini menegaskan betapa variasi kecil dalam DNA dapat membentuk siapa kita hari ini dan memberikan wawasan penting tentang perjalanan evolusi manusia. Memahami bagaimana bagian kecil ini bekerja bisa menjelaskan perbedaan fisik yang kita lihat antara manusia dan kerabat purba kita.
Baca selengkapnya di: www.suara.com





