Advertisement

Inovasi Terbaru: Superkomputer Canggih Sedang Dikembangkan di Luar Angkasa

China saat ini memimpin dalam perlombaan pembangunan superkomputer baru yang beroperasi di luar angkasa. Proyek ini bertujuan menempatkan pusat data AI berkapasitas tinggi di orbit rendah Bumi, menggunakan sekitar 10.000 kartu komputasi berperforma tinggi untuk mengolah data secara langsung di luar atmosfer.

Persaingan sengit tidak hanya terjadi di China, tetapi juga Amerika Serikat, di mana tokoh-tokoh teknologi ternama seperti Elon Musk, Jeff Bezos, dan Sundar Pichai menggelontorkan dana ratusan miliar dolar untuk mengembangkan infrastruktur AI di orbit. Siapa yang berhasil mempertahankan sistem ini tanpa kendala teknis akan menguasai masa depan komputasi luar angkasa.

Proyek AI Berbasis Satelit dari Cina dan Amerika
China melalui Institute of Computing Technology (ICT) dari Akademi Ilmu Pengetahuan Cina, menggandeng perusahaan seperti Guoxing Aerospace dan Zhejiang Lab untuk meluncurkan 12 satelit yang meluncurkan model AI dengan kapasitas 5 peta operasi per detik dan 8 miliar parameter. Ini menjadi konstelasi komputasi pertama di luar angkasa dengan aplikasi komersial nyata.

Sementara di Amerika Serikat, Blue Origin, perusahaan milik Jeff Bezos, telah mengembangkan pusat data AI orbit selama lebih dari setahun. Elon Musk dengan Starlink-nya berencana meningkatkan satelit agar dapat membawa muatan komputasi AI, sedangkan Google menjalankan Project Suncatcher yang menguji coba rangkaian mesin kecil di satelit.

Terobosan Nvidia dan Startup Starcloud
Startup Starcloud yang didukung Nvidia meluncurkan satelit Starcloud-1 dengan GPU Nvidia H100 berkapasitas 80 gigabyte, sebuah chip yang 100 kali lebih kuat dari chip luar angkasa sebelumnya. Satelit ini berhasil melatih model bahasa besar NanoGPT, AI pertama yang dilatih di luar angkasa dan dikembangkan oleh co-founder OpenAI, Andrej Karpathy. Starcloud-1 kini menjalankan model LLM Google Gemma, menandai pencapaian pertama Nvidia GPU yang mengoperasikan model bahasa besar dari orbit.

Keunggulan Superkomputer di Luar Angkasa
Menempatkan pusat data AI di luar angkasa dapat menghemat energi dan air secara signifikan. Pusat data orbit seperti yang dikembangkan Starcloud diklaim menggunakan listrik 10 kali lebih sedikit berkat tenaga surya, sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca dibandingkan pusat data konvensional yang beroperasi di darat.

Dalam kertas putih yang diterbitkan Starcloud, mereka menyatakan bahwa data center dengan skala gigawatt di orbit merupakan proyek luar angkasa paling ambisius. Proyek ini diyakini tidak hanya layak secara ekonomi, tetapi juga sangat diperlukan agar AI dapat tumbuh secara cepat dan berkelanjutan sebagai teknologi utama abad ini.

Tantangan Teknis Infrastruktur AI di Luar Angkasa
Mengoperasikan chip komputer dan satelit di ruang angkasa menghadapi kendala berat. Satelit harus tahan terhadap getaran keras saat peluncuran roket, gravitasi mikro, suhu ekstrim, dan partikel bermuatan tinggi dari angin matahari. Para insinyur berupaya mengatasi tantangan ini agar superkomputer dapat beroperasi stabil dalam jangka panjang.

Contohnya, satelit yang dikembangkan Zhongke Tiansuan, anak perusahaan ICT, telah beroperasi stabil dalam orbit lebih dari seribu hari sejak peluncuran pada 2022, meski kapasitasnya masih kalah dibandingkan Starcloud.

Dalam dekade mendatang, diperkirakan superkomputer orbit penuh akan mulai beroperasi, membuka era baru komputasi antariksa. Perlombaan siapa yang lebih dulu mewujudkan visi ini terus berlangsung, dengan Asia dan Amerika saling bersaing menguasai teknologi revolusioner tersebut.

Berita Terkait

Back to top button