Pendanaan besar mengalir deras ke perusahaan psychedelic di Silicon Valley meski bukti ilmiah tentang manfaat psilocybin untuk memperpanjang umur masih terbatas. Para pengusaha dan biohacker berlomba menggunakan psilocybin sebagai strategi anti-penuaan, padahal riset yang ada belum menunjukkan hasil langsung pada manusia.
Penelitian di laboratorium menunjukkan efek positif psilocybin pada perpanjangan umur sel dan tikus tua. Tim peneliti dari Emory dan Baylor menemukan bahwa senyawa ini mengaktifkan jalur-jalur biologis yang mirip dengan intervensi anti-penuaan yang sudah terbukti. Namun, temuan ini belum diterjemahkan ke dalam hasil yang bisa dirasakan oleh pengguna sehari-hari.
Para biohacker mengandalkan data biometrik seperti variabilitas detak jantung dan marker inflamasi saat mencoba efek psilocybin. Meskipun alat pemantau kesehatan modern sangat detail, pengukuran tersebut belum mampu membuktikan klaim manfaat anti-penuaan. Tanpa uji coba acak terkontrol, data tersebut sekadar anekdot yang berpotensi menyesatkan.
Silicon Valley seperti mengabaikan proses validasi klinis yang ketat demi mengejar peluang disruptif. Industri teknologi cenderung cepat meluncurkan inovasi baru tanpa mempertimbangkan risiko efek samping psilocybin, seperti gangguan psikologis atau interaksi obat yang tidak terduga. Pendekatan ini sangat riskan mengingat kompleksitas biokimia manusia.
Budaya “move fast and break things” yang populer di dunia teknologi tidak cocok untuk intervensi yang berurusan dengan otak dan kesehatan manusia. Otak tidak seperti ponsel yang bisa diperbarui perangkat lunaknya secara mudah. Perusahaan yang berjanji mengatasi penuaan seolah menguji coba manusia secara langsung tanpa jaminan keamanan.
Realitas bahwa pengguna psilocybin anti-penuaan sedang menjalani “beta-testing” atas kesehatannya menunjukkan ketidaksiapan industri ini dalam menghadapi regulasi dan penelitian mendalam. Beberapa efek negatif bahkan tidak bisa diatasi dengan mudah, seperti episode psikotik atau reaksi negatif lain yang serius.
Ketegangan antara potensi terobosan dan adopsi prematur menjadi ciri khas fenomena ini. Inovasi sesungguhnya memerlukan waktu dan penelitian yang matang, sesuatu yang sulit ditemukan dalam ekosistem teknologi yang serba cepat dan penuh tekanan untuk segera menghasilkan. Psilocybin sebagai solusi umur panjang harus melewati tahap uji klinis manusia yang ketat sebelum bisa dianggap valid dan aman untuk digunakan secara luas.
Dalam konteks investasi dan pengembangan teknologi, langkah mempercepat aplikasi psilocybin dapat menimbulkan risiko besar yang belum terlihat secara kasat mata. Pengawasan ilmiah dan regulasi yang lebih ketat penting untuk mencegah kegagalan yang merugikan kesehatan masyarakat. Pengembangan terapeutik yang bertanggung jawab harus mendahulukan bukti ilmiah di atas euforia pasar.





