Gempa bumi di San Francisco kerap terasa unik karena gerakannya yang seolah memutar, bukan hanya hentakan vertikal yang keras. Sensasi ini memicu pertanyaan mengapa getaran gempa di kawasan ini berbeda dibandingkan titik gempa di wilayah lain.
Fenomena ini tidak lepas dari kondisi geologi dan mekanisme patahan San Andreas yang menjadi sumber utama gempa di San Francisco. Berikut beberapa faktor utama yang menjelaskan sensasi gempa berputar tersebut.
1. Patahan San Andreas dan Gerakan Mendatar
Patahan San Andreas merupakan jenis patahan geser mendatar, di mana dua lempeng tektonik bergerak saling menggeser secara horizontal. Gerakan ini berbeda dengan patahan naik-turun yang menghasilkan hentakan ke atas dan bawah. Akibatnya, energi gempa lebih dominan dalam arah horizontal sehingga bangunan dan tanah bergeser ke samping lebih daripada terdorong vertikal.
Otak manusia cenderung menginterpretasikan gerakan horizontal seperti ini sebagai ayunan atau putaran, bukan hentakan langsung. Karena itu, getaran gempa San Andreas cenderung terasa seperti dorongan berayun.
2. Gelombang Permukaan yang Membawa Gerakan Melingkar
Gempa bumi tidak hanya menghasilkan gelombang primer dan sekunder, tetapi juga gelombang permukaan yang merambat di lapisan atas kerak bumi. Gelombang permukaan ini bergerak lambat namun membawa energi besar yang bertahan lama di permukaan.
Gerakan gelombang permukaan tidak hanya maju mundur, melainkan juga bisa membuat tanah melakukan pergerakan melingkar kecil. Kombinasi gerak lateral dan rotasi ini menimbulkan sensasi seperti tanah berputar atau berayun. Hal inilah yang membingungkan persepsi manusia dan memperkuat efek putaran saat gempa.
3. Pengaruh Tanah Urug dan Sedimen Lunak
Beberapa wilayah di San Francisco dibangun di atas tanah urug atau sedimen lunak bekas rawa dan teluk. Material ini lebih lunak dan kurang padat dibanding batuan keras. Gelombang gempa yang melewati tanah lunak akan mengalami amplifikasi getaran sehingga menjadi lebih besar dan tidak beraturan.
Tanah lunak ini bergerak seolah mengikuti gerak gelombang dan meningkatkan ayunan horizontal. Akibatnya, beberapa distrik yang berdiri di atas sedimen lunak merasakan gempa dengan sensasi berputar lebih kuat daripada area berbatuan keras.
4. Respons Bangunan terhadap Getaran
Bangunan tidak bergetar secara seragam saat gempa. Setiap bagian, terutama yang tinggi dan fleksibel, merespons getaran berbeda dari bagian bawahnya. Saat getaran horizontal kuat terjadi, puncak gedung bisa bergerak lebih jauh dan menghasilkan puntiran kecil pada konstruksi.
Efek puntiran ini membuat orang di dalam bangunan merasa seakan-akan lantai dan dinding bergerak memutar. Fenomena ini nyata dan bukan ilusi, sebagai hasil interaksi antara bentuk bangunan dan gelombang gempa.
5. Persepsi Sistem Keseimbangan Manusia
Tubuh manusia memiliki sistem keseimbangan yang peka terhadap perubahan arah gerak. Getaran vertikal yang cepat biasanya mudah dikenali dan singkat. Sebaliknya, gerakan lateral yang berlangsung selama beberapa detik dapat membingungkan otak dalam menentukan arah.
Gerakan tanah berulang ke kiri dan kanan ini ditafsirkan oleh otak sebagai rotasi atau ayunan. Oleh sebab itu, banyak saksi gempa San Francisco melaporkan perasaan pusing, kehilangan orientasi, dan sensasi berputar.
Secara keseluruhan, sensasi gempa yang terasa seperti berputar di San Francisco merupakan hasil interaksi kompleks antara jenis patahan, gelombang permukaan gempa, karakteristik tanah setempat, respons bangunan, dan cara tubuh manusia membaca gerakan. Pengalaman gempa bukan hanya soal besar magnitudo, melainkan juga konteks geologi dan mekanika getaran di lokasi tersebut.
Dengan pemahaman ini, gambaran tradisional bahwa gempa hanya berupa hentakan keras dari bawah tanah perlu dipertimbangkan ulang. Sensasi memutar menunjukkan betapa dinamis dan bervariasinya pengalaman manusia saat terjadi gempa di medan geologi tertentu.
