Advertisement

7,9 Juta Orang Meninggal Akibat Polusi Udara, Laporan Global Ungkap Dampaknya

Laporan Global 2025 menunjukkan bahwa polusi udara masih menjadi ancaman besar bagi kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Setiap tahun, paparan udara tercemar berkontribusi pada sekitar 7,9 juta kematian global, yang berarti satu dari delapan kematian terkait langsung dengan kualitas udara buruk.

Data ini didasarkan pada kajian komprehensif dari State of Global Air 2025 yang menghubungkan kualitas udara dengan berbagai penyakit kronis dan kematian dini di hampir seluruh kawasan dunia. Penelitian ini dipimpin oleh Michael Brauer dari Institute for Health Metrics and Evaluation dan University of British Columbia.

Dampak Polusi Udara pada Kesehatan
Polusi udara menyebabkan hilangnya sekitar 232 juta tahun hidup sehat secara global setiap tahunnya. Ini mencakup kematian dini dan tahun yang dijalani dengan penyakit atau disabilitas akibat paparan polutan. Beban ini meningkatkan kebutuhan layanan kesehatan dan menurunkan produktivitas masyarakat secara signifikan.

Sebagian besar kematian yang terkait dengan polusi berasal dari penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, dan gangguan pernapasan kronis. Sekitar 86 persen kematian akibat polusi disebabkan oleh kondisi-kondisi tersebut.

Peran Partikel PM2.5
Partikel halus PM2.5, yang berukuran kurang dari 2,5 mikrometer, menjadi faktor utama dalam ancaman kesehatan ini. Partikel ini mampu menembus paru-paru dan memasuki aliran darah, meningkatkan risiko penyakit jantung iskemik, stroke, dan komplikasi pembuluh darah lainnya.

WHO menetapkan batas aman paparan PM2.5 jangka panjang sebesar 5 mikrogram per meter kubik. Namun, sekitar 99 persen populasi dunia menghirup udara yang melampaui batas tersebut, dan sepertiga penduduk tinggal di wilayah dengan kadar PM2.5 lebih dari 35 mikrogram per meter kubik.

Gangguan Fungsi Otak dan Kematian Akibat Demensia
Selain efek pada jantung dan paru-paru, polusi udara juga berkontribusi pada gangguan fungsi otak. Diperkirakan terdapat sekitar 626 ribu kematian akibat demensia yang berhubungan langsung dengan paparan polutan udara. Tahun fungsi otak sehat yang hilang akibat ini mencapai 11,6 juta tahun pada kelompok usia lanjut.

Partikel polusi yang masuk ke dalam aliran darah dapat mencapai otak dan organ penting lainnya, memperburuk risiko penyakit degeneratif.

Ketimpangan Dampak Polusi di Seluruh Dunia
Sekitar 90 persen kematian terkait polusi terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Tingginya tingkat polusi dan terbatasnya akses layanan kesehatan menjadi penyebab utama kondisi ini. Ironisnya, 11 persen populasi dunia tinggal di negara yang belum memiliki standar kualitas udara nasional.

Meski negara maju memiliki regulasi ketat, banyak kota tetap mengalami tingkat polusi yang melebihi pedoman kesehatan WHO. Kota-kota ini mungkin memenuhi batas hukum nasional, tetapi kualitas udaranya masih dua kali lebih buruk dibanding standar global.

Upaya Pengendalian dan Peran Kebijakan
Laporan ini menggarisbawahi pentingnya perubahan kebijakan dalam menurunkan polusi udara. Kota-kota yang mengadopsi bahan bakar bersih, mengurangi penggunaan batu bara, serta memperbaiki transportasi umum mencatat penurunan polusi signifikan.

Analisis kesehatan masyarakat kini dapat mengevaluasi efektivitas kebijakan seperti penerapan zona emisi rendah, penggunaan bus ramah lingkungan, dan program memasak bersih.

Saran untuk Masyarakat Umum
Masyarakat dianjurkan meningkatkan kesadaran terhadap kualitas udara di lingkungan sekitar. Memantau indeks kualitas udara harian dapat membantu menentukan waktu dan jenis aktivitas luar ruangan yang aman.

Saat tingkat polusi tinggi, memilih rute yang lebih sepi kendaraan atau menggunakan masker yang sesuai dapat mengurangi paparan polutan. Langkah sederhana ini penting untuk melindungi kesehatan di tengah kondisi udara yang semakin menantang.

Baca selengkapnya di: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button