Inovasi Alat Rumah Tangga Bernuansa Futuristik yang Hadirkan Sensasi Ajaib ala Sci-Fi

Sebuah inovasi pencahayaan rumah tangga kini muncul dari laboratorium desain di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Tim peneliti mengembangkan lampu dengan bahan geopolymer yang tampak seperti sesuatu dari film fiksi ilmiah, contohnya serial “Star Trek”.

Lampu ini tidak hanya menarik secara visual, melainkan menggunakan material baru yang ramah lingkungan. Bahan geopolymer menyerupai keramik dan bisa dibentuk pada suhu ruang. Proses ini memungkinkan elektronik tertanam langsung di dalam lampu sebelum mengeras.

Menurut Marcelo Coelho, direktur lab MIT, penggunaan geopolymer mengubah cara pembuatan elektronik dari yang biasanya berbahan plastik atau karet menjadi lebih berkelanjutan. Bahan ini diklaim memiliki jejak karbon lebih rendah dan lebih mudah didaur ulang dibandingkan plastik konvensional.

Salah satu lampu hasil inovasi tersebut diberikan kepada mantan Presiden Irlandia, Mary Robinson, saat kunjungannya ke kampus MIT. Lampu ini memiliki fitur sentuhan inovatif. Ketika tangan didekatkan ke tabung kaca bertekstur, cahaya semakin terang lalu menyala sempurna saat disentuh.

Desain lampu ini mengingatkan pada alat canggih dalam serial “Star Trek” yang futuristik. Coelho menyebut pengalaman menggunakan lampu tersebut sangat “magis”. Tim MIT berambisi memperluas penggunaan teknologi geopolymer di berbagai perangkat elektronik dan furnitur.

Mereka tengah menguji konsep meja dapur dengan pemanas, sensor, dan antarmuka sentuh yang bisa terhubung dengan kecerdasan buatan. Fungsi ini akan membantu dan mengajarkan pengguna memasak secara interaktif.

Selain itu, penggunaan geopolymer untuk perabot luar ruang juga sedang dieksplorasi. Produk tersebut dirancang untuk menciptakan permainan sosial dan interaksi baru di ruang publik kota. Jadi, teknologi ini tidak hanya mempercantik rumah tapi juga memperkaya pengalaman sosial masyarakat.

Selain MIT, beberapa perusahaan lain juga mengembangkan lampu dan peralatan ramah lingkungan. Contohnya Gantri di San Francisco yang memakai printer 3D dan bahan berbasis tanaman. Di Jepang, lalu ada jendela yang dapat mengubah cahaya rendah menjadi listrik untuk menyalakan perangkat.

Penggunaan material ini berpotensi mengurangi polusi dari produksi bahan konvensional. Produksi semen, misalnya, menyumbang sekitar 8% gas rumah kaca global, sementara limbah plastik memerlukan ratusan tahun untuk terurai di alam.

Walau geopolymer sudah diaplikasikan di beberapa komponen jembatan dan pelapis pelindung, penggunaannya masih terbatas karena proses produksinya berbeda dengan semen biasa dan keramik, sehingga memerlukan adaptasi dari pabrik.

Inovasi MIT ini bisa menjadi awal perubahan model produksi elektronik ke arah lebih hijau. Penanaman komponen elektronik secara langsung ke dalam material solid yang ramah lingkungan menjadi solusi efektif mengurangi limbah.

Pengembangan teknologi seperti ini akan menjawab kebutuhan elektronik tertanam yang kian meningkat. Implementasi material geopolymer memberi harapan masa depan produk konsumen yang lebih tahan lama sekaligus lebih bersih bagi lingkungan.

Exit mobile version