Advertisement

5 Inovasi Robotik yang Siap Mendukung Misi Eksplorasi Manusia ke Mars

Para ilmuwan tengah mempersiapkan penjelajah robotik untuk mendukung misi pengiriman manusia ke Mars. Teknologi dan data yang dihasilkan dari misi robotik saat ini menjadi pondasi penting dalam menghadapi tantangan keberadaan manusia di planet merah tersebut.

NASA bersama berbagai lembaga riset bekerja keras mengadaptasi alat dan metode pemantauan yang awalnya untuk Bumi, agar bisa digunakan di orbit dan permukaan Mars. Tujuannya adalah membantu para astronot dalam menghadapi kondisi ekstrem dan risiko di lingkungan antarplanet.

Menggunakan Data Misi Robotik untuk Keamanan Astronot

Salah satu inovasi adalah dashboard untuk memantau cuaca antariksa yang dikembangkan oleh NASA. Alat ini mengintegrasikan data dari berbagai misi Mars, seperti MAVEN, Curiosity, dan Perseverance. Dengan dashboard tersebut, astronot bisa memantau secara real time risiko radiasi akibat badai matahari dan menentukan kapan perlu tindakan perlindungan.

Menurut Gina DiBraccio, direktur sementara Divisi Eksplorasi Tata Surya di Goddard Space Flight Center, dashboard ini menjadi alat penting untuk mengevaluasi kondisi cuaca antariksa langsung dari permukaan Mars. Hal ini akan sangat krusial karena radiasi dapat membahayakan kesehatan kru selama misi jangka panjang.

Pengumpulan Data Radiasi dari Orbit Mars

Misi MAVEN yang telah berjalan selama lebih dari satu siklus matahari memberikan katalog lengkap tentang kejadian cuaca antariksa di Mars. Data ini memperlihatkan bagaimana tingkat radiasi berubah dari kondisi aktivitas matahari rendah hingga tinggi. Informasi ini sangat penting untuk perencanaan durasi dan kegiatan para astronot di Mars.

Shannon Curry, peneliti utama MAVEN, menyatakan data tersebut memperjelas kapan dan bagaimana risiko radiasi dapat muncul. Dengan mengetahui pola ini, mitigasi bahaya bisa lebih efektif dilakukan.

Pendataan Sumber Air di Bulan untuk Misi Artemis

Selain fokus pada Mars, NASA juga menyoroti tantangan di Bulan. Identifikasi dan pengukuran sumber air di sekitar kutub selatan Bulan menjadi prioritas. Air merupakan kebutuhan vital untuk kelangsungan hidup dan produksi bahan bakar roket.

Bethany Ehlmann, Kepala Laboratorium Atmosfer dan Fisika Antariksa di University of Colorado Boulder, menyebutkan ketidaksesuaian data dari berbagai pengamatan terkait lokasi pasti air di Bulan. Oleh karena itu, NASA telah memilih instrumen imaging spectrometer untuk misi orbit Bulan mendatang guna mendapatkan peta komposisi air dan mineral yang lebih akurat.

Mengatasi Masalah Debu Bulan

Debu halus yang sangat abrasif di Bulan selalu menjadi masalah serius bagi penjelajah dan alat-alat eksplorasi. Debu ini tidak hanya merusak perlengkapan, tapi juga berisiko bagi kesehatan manusia, seperti kasus alergi pada misi Apollo 17.

Untuk mengatasi hal tersebut, NASA mengembangkan instrumentasi baru seperti DUSTER (Dust and Plasma Environment Surveyor) yang akan dibawa oleh rover dalam misi Artemis IV. Alat ini akan merekam kondisi debu dan plasma di permukaan Bulan serta dampak aktivitas astronot terhadap lingkungan tersebut.

Selain itu, Compact Electrostatic Dust Analyzer (CEDA) tengah dikembangkan untuk mengukur sifat-sifat debu bulan secara lebih rinci. CEDA dirancang agar tahan terhadap kondisi pendaratan keras dan dapat ditempatkan di permukaan bulan maupun pada wahana orbit.

Perlindungan Alami dari Medan Magnetik Mars

Mars memiliki medan magnet lokal yang terperangkap dalam batuan di permukaan. Studi awal menunjukkan medan magnet ini bisa memberikan perlindungan radiasi di area tertentu. Tim peneliti berupaya memetakan medan magnet ini secara detail dengan menggunakan magnetometer miniatur yang dipasang pada drone kecil seperti helikopter Ingenuity.

Menurut Jared Espley dari NASA Goddard, teknologi ini akan memungkinkan survei medan magnet permukaan Mars dengan resolusi tinggi, mendukung pemilihan lokasi yang aman untuk pendaratan dan aktivitas manusia.

Sinergi Manusia dan Robotik dalam Eksplorasi Mars

Penelitian dan pengembangan alat ini menegaskan bahwa eksplorasi antarplanet adalah usaha gabungan antara misi robotik dan kehadiran manusia. Robot-robot penjelajah tidak hanya mengumpulkan data ilmiah, tetapi juga berperan sebagai pendukung vital bagi astronaut yang akan menjalani kehidupan dan bekerja di luar Bumi.

Menurut Bethany Ehlmann, keberhasilan misi Mars di masa depan sangat bergantung pada kombinasi optimal antara teknologi robotik dan kemampuan manusia. Kedua elemen ini harus berjalan beriringan untuk mencapai eksplorasi yang jauh dan berkelanjutan di planet merah.

Berita Terkait

Back to top button