Advertisement

7 Alasan Psikologis Kenapa Sulit Melepaskan Barang Lama yang Kamu Miliki

Membuang barang yang sudah tidak terpakai sering kali menjadi suatu dilema bagi banyak orang. Logika mengatakan bahwa barang tersebut hanya akan menumpuk dan memenuhi ruang, namun perasaan membuat kita sulit berpisah. Selain alasan sentimental, ada faktor psikologis dan kebiasaan yang membuat seseorang tidak rela membuang benda-benda lama.

1. Keyakinan Barang Masih Bisa Diperbaiki
Sering kali seseorang menunda membuang barang karena berpikir benda tersebut masih bisa diperbaiki. Misalnya jaket dengan resleting rusak yang sebenarnya jarang diperbaiki tapi tetap disimpan. Menurut Anxiety and Depression Association of America, kebiasaan ini bisa menjadi tanda hoarding disorder. Solusinya adalah menetapkan batas waktu perbaikan atau menyumbangkan barang agar tidak menumpuk.

2. Harapan Akan Kegunaan di Masa Depan
Rasa enggan membuang barang juga muncul karena keyakinan suatu saat benda tersebut akan dibutuhkan. Contohnya pakaian yang sudah kekecilan tetapi tetap disimpan dengan alasan bisa dipakai lagi kelak. Studi menunjukkan bahwa ini adalah ciri hoarding disorder, terutama jika ada kecemasan saat membuang barang. Sebaiknya tanyakan pada diri sendiri, "Apakah benda ini akan dipakai dalam 6 bulan mendatang?" Jika tidak, lebih baik dilepaskan.

3. Ikatan Emosional dengan Pemberi Barang
Barang pemberian seseorang yang spesial sering mendatangkan kenangan tersendiri. Meskipun hubungan sudah berakhir, seseorang dapat tetap memelihara benda tersebut karena nilai sentimentalnya. Menurut laman This Simple Balance, jika ruang sudah sempit, peserta disarankan untuk memberikan barang tersebut pada orang lain atau mengembalikannya kepada pemberi agar ruang bisa lega.

4. Anggapan Barang Bisa Dijual Kembali
Banyak yang menunda membuang barang karena berharap bisa menjualnya sebagai preloved atau di garage sale. Tetapi, jika penjualan tidak kunjung terlaksana, barang hanya akan menumpuk. Two-step plan disarankan oleh This Simple Balance: buat deadline untuk menjual dan jika gagal, sumbangkan.

5. Ruang yang Masih Memadai untuk Menyimpan
Memiliki rumah atau kamar luas sering membuat seseorang tidak terlalu khawatir soal penyimpanan. Namun, kondisi ini bisa menyebabkan clutter yang berdampak negatif. Studi dari Center on Everyday Lives and Families (CELF) menyatakan bahwa kepadatan barang di rumah berhubungan dengan peningkatan hormon stres kortisol. Decluttering terbukti efektif menurunkan stres dan meningkatkan kesejahteraan.

6. Nilai Sentimental yang Kuat
Barang-barang dengan kenangan khusus, seperti boneka masa kecil, memiliki nilai sentimental tinggi sehingga sulit untuk dibuang. Namun, menurut ahli saraf di Princeton University, penumpukan barang ini dapat menimbulkan stres dan menurunkan fungsi otak. Oleh karena itu, penting untuk menyeimbangkan perasaan dengan kebutuhan ruang dan kenyamanan hidup.

7. Lupa Memiliki Barang Tersebut
Kadang kita menemukan benda yang sudah lama terlupakan dan tidak disadari keberadaannya. Hal ini bisa menyebabkan kekacauan karena barang yang tidak terpakai menumpuk tanpa sengaja. Jika kebiasaan membeli dan melupakan barang terlalu sering terjadi, ini bisa memicu masalah serius seperti stres hingga depresi, menurut Anxiety and Depression Association of America.

Memahami alasan di balik keengganan membuang barang dapat membantu kita lebih bijak dalam mengelola barang pribadi. Dengan pendekatan yang tepat, seperti menetapkan batas waktu, melakukan decluttering, dan menyumbangkan barang yang tidak diperlukan, rumah menjadi lebih rapi dan kesehatan mental pun terjaga. Jangan ragu untuk memulai langkah sederhana agar hidup terasa lebih lega.

Berita Terkait

Back to top button