Tahun depan menjadi momen penting bagi eksplorasi bulan dengan sejumlah misi komersial yang berencana melakukan pendaratan di satelit alami Bumi ini. Upaya ini menandai fase baru dalam persaingan serta kolaborasi antara perusahaan swasta dan badan antariksa nasional untuk memperluas kehadiran manusia di bulan.
Berbeda dengan misi sebelumnya yang didominasi oleh badan antariksa, tahun depan menampilkan ambisi tinggi dari perusahaan swasta yang ingin mengukir prestasi di bulan, khususnya di wilayah yang belum banyak dijelajahi seperti kutub selatan dan sisi jauh bulan. Berikut ini adalah beberapa misi utama yang direncanakan melakukan pendaratan di bulan pada tahun tersebut.
1. Blue Origin – Blue Moon Pathfinder Mission 1
Perusahaan milik Jeff Bezos, Blue Origin, akan meluncurkan Blue Moon Mark 1, pesawat pendarat robotik yang menjadi teknologi percontohan untuk misi-misi kargo masa depan. Blue Moon Mark 1 dirancang dapat membawa hingga 3.000 kilogram muatan ke permukaan bulan. Misi ini akan menggunakan roket New Glenn dari Cape Canaveral dan menargetkan pendaratan di kutub selatan bulan. Salah satu muatannya adalah instrumen SCALPSS milik NASA untuk mempelajari interaksi gas buang pesawat dengan permukaan bulan saat mendarat.
2. Firefly Aerospace – Blue Ghost M2
Firefly dari Texas akan kembali ke bulan untuk kedua kalinya dengan misi Blue Ghost M2 setelah keberhasilan pendaratan Blue Ghost pada sisi dekat bulan tahun lalu. Peluncuran akan dilakukan menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX. Target misi ini adalah sisi jauh bulan, yang hingga kini hanya pernah dicapai oleh misi Chang’e 4 dan Chang’e 6 dari Tiongkok. Misi ini membawa enam muatan yang berasal dari pemerintah dan perusahaan internasional, termasuk Rashid Rover 2 dari Uni Emirat Arab serta receiver tenaga nirkabel dari Volta Space. Selain itu, misi ini akan melepas Lunar Pathfinder milik European Space Agency untuk beroperasi sebagai satelit komunikasi yang menghubungkan pesawat pendarat dan Bumi.
3. Intuitive Machines – IM-3
Intuitive Machines berencana melakukan pendaratan ke-3 dengan pesawat pendarat NOVA-C, setelah dua misinya sebelumnya mengalami kegagalan pendaratan yang menyebabkan kedua wahana terjatuh miring di permukaan bulan. IM-3 menargetkan wilayah Reiner Gamma, yang dikenal dengan pola swirl magnetik unik di sisi dekat bulan. Peluncuran akan menggunakan roket Falcon 9 dari Kennedy Space Center Florida. Wahana ini akan membawa berbagai instrumen ilmiah, termasuk magnetometer dan instrumen plasma untuk mempelajari lingkungan magnetik dan cuaca antariksa di dekat bulan.
4. Astrobotic – Griffin Mission 1
Astrobotic kembali dengan wahana lander Griffin-1 yang dijadwalkan terbang menggunakan Falcon Heavy. Misi ini akan mendarat di kutub selatan bulan dan membawa rover FLIP seberat 450 kilogram serta CubeRover kecil milik Astrobotic. Awalnya Griffin-1 direncanakan untuk membawa rover VIPER NASA, namun rover itu kini akan diterbangkan pada misi berikutnya. Selain rover, Griffin-1 membawa sejumlah muatan komersial dan kultural yang akan diuji di permukaan bulan.
Keempat misi tersebut menunjukkan bahwa eksploarasi bulan tidak lagi eksklusif bagi badan antariksa nasional. Alih-alih hanya menjadi eksperimen, misi-misi ini menjadi langkah awal membangun kehadiran militer, ilmiah, dan komersial yang berkelanjutan di bulan. Keberhasilan misi akan membuka peluang baru bagi eksplorasi dan pengembangan sumber daya bulan, sekaligus memperkuat kesiapan teknologi yang akan digunakan untuk misi berawak di masa depan, termasuk program Artemis NASA yang direncanakan.
Cara perusahaan swasta merancang dan melaksanakan pendaratan di bulan tahun depan juga menjadi indikator penting kesiapan industri luar angkasa untuk menjadi pemain utama dalam mengembangkan planet dan satelit terdekat Bumi. Dengan meningkatnya kolaborasi lintas negara dan sektor, misi-misi ini berpotensi mengubah wajah eksplorasi antariksa menjadi lebih terbuka dan beragam secara ekonomi dan teknologi.





