Penurunan jumlah satelit Starlink yang mengalami de-orbit menjadi sorotan utama dalam perkembangan terbaru proyek konstelasi internet satelit milik SpaceX. Data dari laporan terbaru yang diserahkan kepada FCC menunjukkan angka satelit yang kembali masuk atmosfer dan terbakar turun drastis, dari sekitar 500 menjadi 200 unit. Perubahan signifikan ini memberikan gambaran efektivitas dalam proses pensiun satelit lama sekaligus penyesuaian teknologi baru Starlink.
SpaceX mengonfirmasi bahwa de-orbit besar-besaran satelit lama sudah hampir tuntas. Astronom dan pengamat satelit Jonathan McDowell menyatakan, mayoritas satelit yang sekarang di-deorbit berasal dari batch generasi pertama yang dioperasikan lebih dari lima tahun lalu. Sebagian kecil berasal dari generasi kedua yang lebih baru. Rata-rata sebuah satelit Starlink dirancang beroperasi selama lima tahun sebelum akhirnya dijatuhkan ke atmosfer agar hancur total tanpa meninggalkan serpihan berbahaya.
Data Penting De-Orbit Satelit Starlink
Berdasarkan laporan semi-tahunan SpaceX kepada FCC, berikut adalah data penting pengelolaan de-orbit Starlink:
- Dari Desember sampai Mei, SpaceX berhasil mendetailkan sebanyak 472 satelit yang di-deorbit.
- Dari Juni hingga November, hanya 218 satelit yang mengalami de-orbit.
- Mayoritas, sekitar 167 unit, berasal dari generasi pertama.
- Total satelit Starlink yang pernah diluncurkan mencapai 10.801.
- Dari jumlah itu, 1.391 telah kembali ke atmosfer bumi; sekitar 13% dari keseluruhan konstelasi, menurut hitungan McDowell.
- Sampai saat ini, tercatat sebanyak 9.399 satelit dalam status operasional aktif.
Penurunan jumlah de-orbit satelit ini terlihat kontras jika dibanding lonjakan sebelumnya, di mana SpaceX sempat melakukan pensiun 4-5 satelit setiap hari. Kondisi tersebut sempat mengkhawatirkan para ahli lingkungan dan pengamat antariksa terkait potensi kerusakan atmosfer apabila tren ini terus berlanjut.
Strategi dan Konfigurasi Baru Satelit Starlink
Wakil Presiden Starlink Engineering, Michael Nicolls, menekankan adanya re-konfigurasi besar-besaran pada konstelasi Starlink. Sebanyak 4.400 satelit yang mengorbit di ketinggian 480 km hingga 550 km akan diturunkan untuk memperpendek waktu peluruhan orbit balistiknya. Langkah ini diklaim mampu memangkas waktu peluruhan dari lebih dari empat tahun menjadi hanya beberapa bulan, atau lebih dari 80% percepatan prosesnya.
Nicolls juga membagikan data, tingkat keandalan armada satelit sangat tinggi. Dari lebih 9.000 satelit aktif, hanya dua yang tergolong "mati" dan tidak dapat dioperasikan ulang. Upaya pengelolaan ini dinilai penting demi menjaga keselamatan ruang antariksa global, khususnya mengurangi risiko benturan dengan objek luar angkasa lain serta potensi masalah dari tindakan operator satelit lain yang tidak terkoordinasi.
Tantangan Lingkungan dan Regulasi
Meski ada penurunan jumlah de-orbit, para pakar mencatat risiko lingkungan tetap menjadi isu krusial. Satelit yang terbakar di atmosfer berisiko melepas senyawa kimia yang dapat membahayakan lapisan ozon. Situasi ini mendorong diskusi tentang pentingnya evaluasi regulasi lingkungan di masa depan oleh otoritas terkait Amerika Serikat.
SpaceX melaporkan kepada FCC, bahwa operasi dan proses de-orbit satelit yang dilakukan saat ini “tidak berdampak signifikan terhadap lingkungan manusia di wilayah yurisdiksi Amerika Serikat”. Mereka juga menegaskan, kemungkinan satelit generasi terbaru yang jatuh ke permukaan dan membahayakan manusia lebih kecil dari 1 banding 100 juta.
Perkembangan Masa Depan Program Starlink
Meskipun angka de-orbit turun pada periode terakhir, para pengamat mengingatkan potensi kenaikan kembali di masa depan seiring bertambahnya usia operasional satelit yang kini masih aktif. Jumlah satelit aktif terus bertambah pesat, dan SpaceX sudah memiliki rencana ekspansi menjadi puluhan ribu unit satelit guna memperluas jangkauan internet dan jaringan seluler, terutama ke wilayah terpencil dan pedesaan.
Regulasi dan pemantauan ketat tetap diperlukan, mengingat jumlah satelit yang sangat besar membawa tantangan baru bagi keselamatan ruang angkasa dan perlindungan lingkungan global. Langkah yang diambil SpaceX melalui rekayasa ulang strategi konstelasi dijadikan acuan baru dalam praktik pengelolaan satelit komersial berskala besar. Pendekatan termutakhir ini menjadi perhatian para analis teknologi satelit di seluruh dunia, terutama dalam upaya memastikan keberlanjutan dan keamanan infrastruktur berbasis antariksa.





