Laporan tentang dugaan pengembangan senjata anti-satelit Rusia yang ditujukan ke jaringan satelit Starlink memicu reaksi skeptis dari para ahli di bidang pertahanan dan keamanan luar angkasa. Informasi ini berasal dari sumber dua badan intelijen negara anggota NATO yang menyatakan Rusia tengah mempertimbangkan penyerangan terhadap konstelasi milik SpaceX tersebut, bukan dengan menghancurkan satu per satu, namun memakai senjata "zone-effect" berupa sebaran butiran padat di orbit rendah bumi.
Starlink sendiri saat ini telah dioperasikan oleh lebih dari 9.000 satelit yang mengitari bumi dengan kecepatan sekitar 27.000 km/jam dan berada pada ketinggian 550 km dari permukaan laut. Infrastruktur ini rencananya akan bertambah hingga lebih dari 40.000 satelit, guna memperluas layanan internet global. Ketergantungan Ukraina terhadap layanan Starlink sejak perang dengan Rusia menjadi faktor utama yang memunculkan perhatian negara tersebut terhadap sistem SpaceX ini.
Memahami Ancaman Senjata “Zone-Effect”
Menurut laporan Associated Press, skenario serangan ini tidak menggunakan gelombang elektromagnetik atau penargetan satuan, melainkan mengandalkan efek wilayah dengan menyebar butiran padat yang sangat kecil. Efeknya, sejumlah besar satelit bisa terganggu bahkan rusak sekaligus jika melewati area tersebut. Berbeda dengan tembakan senapan yang butirannya jatuh ke bumi oleh gravitasi, serpihan di luar angkasa akan tetap melayang cepat hingga bertabrakan dengan objek lain atau tertangkap medan gravitasi bumi.
Victoria Samson, pakar keamanan luar angkasa dari Secure World Foundation, menyatakan, "Saya akan sangat terkejut jika mereka benar-benar melakukannya," menyoroti risiko tinggi puing antariksa bagi satelit lain, termasuk milik negara-negara di luar konflik. Sementara itu, Brigadir Jenderal Christopher Horner selaku komandan divisi luar angkasa militer Kanada menegaskan belum ada bukti kuat bahwa senjata ini sudah ada, namun menambahkan bahwa hal ini "tidak mustahil" dilakukan.
Konsekuensi dan Risiko Puing Antariksa
Satelit Starlink bukan satu-satunya yang berada di orbit rendah. NASA menyebut wilayah ini (di bawah 1.200 mil) ditempati beragam satelit penting, termasuk International Space Station yang melibatkan berbagai lembaga pemerintah hingga pihak swasta dan akademik. Penggunaan senjata "zone-effect" bisa menciptakan ladang puing baru yang tak terkontrol dan mengancam ribuan satelit serta aktivitas luar angkasa manusia.
Dampak fisik dari tabrakan antara satelit dengan benda sekecil apapun di kecepatan tersebut bisa sangat fatal. Ancaman utama adalah terciptanya efek domino, di mana satu tabrakan menghasilkan lebih banyak puing, kemudian menabrak satelit lain, memperparah kerusakan secara eksponensial.
Bluffing Atau Ancaman Nyata?
Sejumlah ahli mengemukakan kemungkinan bahwa isu senjata ini bisa jadi bagian dari perang psikologis informasi untuk menakut-nakuti atau menghambat dukungan Starlink bagi Ukraina. Russia disebut memiliki kemampuan teknologi luar angkasa jauh lebih canggih dari sekadar senjata berbasis puing. Misalnya sistem S-500 Prometheus yang mampu menjangkau target di wilayah orbit rendah bumi, meskipun didesain sebagai pertahanan udara, potensinya diubah sebagai anti-satelit tidak dapat diabaikan begitu saja.
Pakar sepakat bahwa penggunaan senjata murah seperti "zone-effect" justru kontra produktif bagi Rusia sendiri dan seluruh ekosistem luar angkasa. Menciptakan area berbahaya di orbit rendah Bumi akan mengancam satelit milik siapa pun di posisi serupa, termasuk Rusia serta negara-negara mitra.
Perbandingan Metode Serangan Anti-Satelit
Berikut beberapa metode yang umum digunakan atau diprediksi dalam serangan anti-satelit:
- Senjata kinetis berbasis rudal (ASAT missile), misalnya menghancurkan satelit dengan peluru kendali langsung.
- Gelombang elektromagnetik (EMP) untuk merusak sistem elektronik satelit tanpa benturan fisik.
- Sistem “zone effect” seperti yang dilaporkan, menggunakan sebaran material padat yang berpotensi menabrak banyak satelit sekaligus dalam satu wilayah orbit.
- Peretasan (cyber attack) yang menargetkan kontrol dan sistem operasi satelit tanpa merusak struktur fisik.
Pemerhati kebijakan luar angkasa menilai, jika penggunaan senjata "zone-effect" benar-benar direalisasikan, maka seluruh komunitas internasional akan menghadapi bahaya serius dari puing luar angkasa yang dapat menghalangi pemanfaatan orbit rendah Bumi hingga puluhan tahun ke depan.
Tekanan geopolitik dan konflik wilayah seperti di Ukraina dapat memperuncing persaingan teknologi luar angkasa antarnegara besar. Namun, hingga saat ini bukti kuat tentang pengembangan atau pengujian senjata baru milik Rusia yang secara spesifik ditujukan pada Starlink belum terkonfirmasi. Komunitas global dan para ahli menilai pentingnya transparansi, kerja sama, dan peringatan dini terhadap potensi eskalasi perlombaan senjata di luar angkasa, agar keamanan serta kelangsungan akses ke orbit rendah Bumi tetap terjaga.
