Mantan CEO Google Pimpin Proyek 4 Teleskop Canggih, 1 Siap Menjelajah Luar Angkasa

Empat teleskop generasi terbaru akan segera hadir berkat dukungan penuh mantan CEO Google, Eric Schmidt dan Wendy Schmidt melalui lembaga filantropi Schmidt Sciences. Langkah ini menandai babak baru pendanaan swasta dalam pengembangan instrumen astronomi skala besar, dengan tiga teleskop akan dibangun di bumi serta satu teleskop ruang angkasa yang digadang menjadi yang pertama didanai sepenuhnya oleh sektor privat.

Diumumkan dalam pertemuan American Astronomical Society di Phoenix, proyek ini diumumkan berjalan sangat cepat dan efisien. Pengembangan empat observatorium mutakhir ini diharapkan tidak hanya mempercepat inovasi ilmiah, tetapi juga membuka peluang akses data yang relevan secara global untuk banyak komunitas astronomi.

Pendanaan Swasta dan Transformasi Observatorium

Schmidt Sciences, yang didirikan Eric dan Wendy Schmidt, menjadi pusat perhatian karena menjadi kekuatan utama di balik empat proyek besar ini. Di tengah tren pemotongan anggaran lembaga sains pemerintah di sejumlah negara, dukungan filantropi seperti ini menjadi sangat berarti. Pete Klupar, direktur eksekutif proyek Lazuli, menegaskan, “Kami akan melakukan ini dalam tiga tahun, dan dengan biaya yang sangat rendah,” dalam konferensi tersebut.

Pendanaan dari satu sumber memungkinkan proses pengambilan keputusan lebih gesit. Klupar menambahkan, “Dengan hanya satu pemegang saham, analisis yang berlarut-larut dapat dihindari.” Model bisnis tersebut telah terbukti sukses pada proyek satelit kecil dan kini diadopsi dalam skala besar untuk astronomi.

Empat Teleskop Generasi Berikut

Berikut empat teleskop yang menjadi bagian dari Schmidt Observatory System:

  1. Lazuli (Observatorium Luar Angkasa)

    • Memiliki cermin utama berdiameter 3,1 meter.
    • Mampu mengumpulkan cahaya 70% lebih banyak dibanding Teleskop Hubble.
    • Rencananya ditempatkan di orbit resonan bulan yang stabil dan efisien.
    • Dilengkapi tiga instrumen: wide-field optical imager, integral field spectrograph, dan high-contrast coronagraph.
    • Instrumentasi coronagraph memungkinkan pencitraan langsung eksoplanet, serta instrumen lain akan membantu memecahkan misteri perluasan alam semesta dan model supernova.
    • Jika semua berjalan lancar, peluncuran dapat dilakukan paling cepat pada 2029.
  2. Argus Array (Teleskop Bumi)

    • Terdiri dari 1.200 teleskop bukaan kecil yang bekerja serempak.
    • Total area pengumpulan cahaya setara teleskop berdiameter 8 meter.
    • Mampu memantau langit dengan bidang pandang instan seluas 8.000 derajat persegi.
    • Dirancang untuk eksplorasi semesta transien dengan kecepatan pengambilan gambar satu detik sekali.
    • Diproyeksikan beroperasi mulai 2028.
  3. Deep Synoptic Array (DSA)

    • Dibangun di Nevada dengan 1.656 teleskop aperture 1,5 meter.
    • Membentang area sekitar 20 kilometer x 16 kilometer.
    • Spesialisasi pada pengamatan pita radio yang berguna mengidentifikasi sumber radio seperti pusat galaksi atau lubang hitam.
    • Gregory Hallinan dari Caltech menyebut DSA mampu mendeteksi dua kali lipat jumlah sumber radio dibanding semua teleskop radio sebelumnya hanya dalam waktu 24 jam masa operasional awal.
    • Diharapkan mulai beroperasi 2029.
  4. Large Fiber Array Spectroscopic Telescope (LFAST)
    • Dirancang modular dengan 20 unit yang digabungkan, menghasilkan area pengumpulan setara cermin 3,5 meter.
    • Fokus pada pengamatan lanjutan hasil survei astronomi, bukan sekadar survei langit luas.
    • Menggunakan inovasi “mini dome” pada masing-masing teleskop sehingga biaya bangunan lebih efisien.
    • Menambah fleksibilitas dan efisiensi dalam melakukan follow-up objek astronomi.

Teknologi dan Visi Ilmiah yang Diusung

Teknologi yang akan diterapkan pada Lazuli diyakini dapat melengkapi misi instrumen lain seperti Nancy Grace Roman Space Telescope milik NASA. Ewan Douglas, astronom dari University of Arizona, menjelaskan bahwa teknologi ini akan mempercepat upaya pencarian planet mirip Bumi di sekitar bintang serupa Matahari.

Argus Array menghadirkan pendekatan baru untuk observasi peristiwa transien, tanpa perlu memecah langit menjadi banyak “ubin” seperti metode survei saat ini. Nicholas Law dari University of North Carolina menekankan kapasitas Argus mengambil citra setiap detik sangat penting untuk merespons kejadian astronomi seketika.

Setiap teleskop didesain dengan pertimbangan efisiensi, kecepatan, serta kemampuan adaptasi terhadap kebutuhan ilmiah masa depan. Chad Bender dari University of Arizona menyatakan bahwa pertanyaan utama proyek LFAST adalah bagaimana membangun teleskop besar dengan biaya murah dan waktu lebih singkat.

Dengan langkah progresif serta fokus membangun ekosistem astronomi yang inklusif, Schmidt Sciences membuka era baru kolaborasi sains berbasis teknologi dan pendanaan filantropi. Kombinasi empat teleskop mutakhir ini siap mengubah peta pengamatan astronomi global dan menyediakan akses teknologi terdepan bagi para peneliti dalam dekade mendatang.

Berita Terkait

Back to top button