Tujuh pelajar Indonesia berusia 15 tahun berhasil meraih medali emas pada kompetisi internasional Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (Ipitex) 2026. Mereka memperoleh penghargaan atas inovasi alat pendeteksi kesehatan tanah berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama SoilPIN.
Tim pelajar ini berasal dari empat sekolah berbeda dan berkolaborasi untuk mengembangkan SoilPIN sebagai solusi praktis bagi petani dalam memantau kualitas tanah secara real-time. Inovasi ini dikembangkan oleh Nazeer Omar Verico, Armand Muhammad Abdullah, Muhammad Argi Imrantama, Baraputra Nathan Ararya, Shah Jehan Abhiraj Kamal, Bryan Adrian Romeli, dan Kianu Adiara Anggun.
SoilPIN berfungsi mengukur berbagai parameter tanah penting seperti kelembapan, pH tanah, suhu, dan kandungan nutrisi. Data yang terkumpul dikirim ke aplikasi ponsel pintar yang dilengkapi teknologi AI untuk analisis dan penyajian informasi secara komprehensif. Melalui aplikasi ini, pengguna dapat melihat peta sebaran kualitas tanah serta mendapatkan rekomendasi langkah perbaikan lahan pertanian.
Alat canggih tersebut telah diuji coba pada beberapa lahan pertanian di Bandung dan menunjukkan potensi meningkatkan efisiensi serta produktivitas pertanian berkelanjutan. Tim ini menilai SoilPIN bukan sekadar alat ukur, melainkan asisten cerdas yang memberikan rekomendasi perbaikan lahan berbasis data akurat.
Ajang Ipitex 2026 yang berlangsung pada 5 hingga 9 Januari di Bangkok, Thailand, menjadi platform bagi penemu dan inovator global untuk memamerkan teknologi berbasis kekayaan intelektual. Keberhasilan pelajar Indonesia ini menegaskan peran generasi muda dalam menghadirkan solusi teknologi yang berkontribusi pada bidang pertanian dan lingkungan secara internasional.
Berikut beberapa keunggulan SoilPIN dalam mendukung pertanian modern:
1. Pemantauan kondisi tanah secara real-time dengan sensor akurat.
2. Pengolahan data oleh AI untuk analisis komprehensif.
3. Penyajian peta kualitas tanah yang mudah dipahami.
4. Rekomendasi perbaikan lahan untuk meningkatkan hasil pertanian.
5. Portabilitas alat yang memudahkan penggunaan di lapangan.
Inovasi ini dapat menjadi langkah maju dalam pertanian berkelanjutan, mengurangi ketergantungan pada metode tradisional yang kurang efisien. Dengan teknologi seperti SoilPIN, petani dapat mengambil keputusan berbasis data guna menjaga kesuburan tanah dan produktivitas jangka panjang.
Penghargaan dari National Research Council of Thailand (NRCT) ini sekaligus mengapresiasi kreativitas dan kemampuan teknologi tinggi yang dimiliki pelajar Indonesia. Keberhasilan mereka di level internasional adalah bukti nyata motivasi dan talenta anak bangsa dalam inovasi teknologi pertanian.
Semangat kolaborasi antar sekolah juga menjadi faktor penting yang mendorong lahirnya produk inovatif tersebut. Ke depan, SoilPIN berpotensi dikembangkan lebih lanjut untuk bidang pertanian lain atau zona geografis berbeda, menyesuaikan kebutuhan lokal dengan teknologi AI smart sensing.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com




