Tahun depan menjadi momentum penting bagi sejarah eksplorasi antariksa. Sejumlah misi luar angkasa besar akan diluncurkan oleh berbagai negara dan lembaga inovatif, termasuk NASA, SpaceX, dan China. Langkah ini tidak hanya membuktikan kemajuan teknologi, tetapi juga menandai era baru impian manusia untuk menjelajah lebih jauh dari Bumi.
Para peneliti, insinyur, hingga perusahaan swasta berlomba membawa inovasi besar lewat misi eksplorasi ke Bulan, asteroid, bahkan pengembangan stasiun orbit global. Pengamat dunia antariksa pun menyebut tahun depan sebagai tonggak penting lahirnya babak baru pencarian sumber daya luar Bumi dan peluang penelitian berkelas dunia.
Deretan Misi Luar Angkasa 2025
Berikut daftar tujuh misi luar angkasa utama yang dijadwalkan meluncur atau aktif tahun depan menurut sumber terverifikasi:
-
Artemis III (NASA)
Artemis III merupakan misi ambisius program Artemis milik NASA, yang akan mengembalikan manusia ke permukaan Bulan untuk pertama kali sejak era Apollo. Fokus utama penjelajahan dilakukan di wilayah kutub selatan Bulan, area yang diduga kaya kandungan es air. NASA berencana mengandalkan kombinasi roket Space Launch System (SLS) dan pesawat SpaceX Human Landing System. Para astronot akan menguji konsep pemanfaatan sumber daya lokal (ISRU), mengumpulkan sampel, serta menjalankan eksperimen teknologi baru. Perlindungan panas Orion dirancang untuk menahan suhu hingga 2.760°C, menawarkan keamanan ekstra dalam perjalanan pulang-pergi ke Bulan. -
SpaceX Starship
SpaceX berperan penting pada tahun depan lewat uji penerbangan orbital Starship. Roket dua tahap berteknologi reusable ini telah didesain dengan ketinggian lebih dari 100 meter, menjadikannya kendaraan luar angkasa terbesar yang pernah dibuat. Salah satu keunggulan utama adalah kemampuan pengisian bahan bakar di orbit sehingga memungkinkan ekspedisi antariksa jarak jauh. Pelindung panas keramik di bagian bawah Starship dirancang untuk menghadapi kondisi ekstrem re-entry ke atmosfer Bumi. -
Luna-27 (Roscosmos)
Roscosmos dari Rusia akan mengirim wahana pendarat otomatis Luna-27 menuju area kutub selatan Bulan, wilayah yang kini jadi perhatian global. Lander ini dilengkapi bor yang mampu menggali sedalam dua meter guna mengambil sampel dan menganalisis kemungkinan cadangan air es. Misi ini merupakan hasil kolaborasi dengan European Space Agency (ESA) dalam hal perangkat instrumen sains. Temuan dari Luna-27 diyakini dapat mendorong pengembangan pangkalan Bulan dan mendukung misi antariksa manusia di masa depan. -
Blue Origin’s New Glenn
Blue Origin menargetkan peluncuran perdana roket New Glenn, kendaraan berat setinggi hampir 100 meter dengan kapasitas muatan ke orbit mencapai 45 ton. Roket ini diklaim bakal menjadi pesaing utama SpaceX Falcon Heavy, menawarkan tahap pertama roket yang dapat digunakan ulang, dan mengusung teknologi mesin BE-4 berbahan bakar metana cair. New Glenn juga akan digunakan untuk peluncuran mega-konstelasi satelit Kuiper milik Amazon. -
Hera (ESA)
European Space Agency (ESA) akan menindaklanjuti keberhasilan NASA DART lewat peluncuran Hera. Misi ini akan menyelidiki asteroid Dimorphos yang pernah ditabrak DART dan menganalisis dampak tabrakan. Hera membawa dua cubesat, Juventas dan Milani, untuk mempelajari struktur dalam dan permukaan asteroid, serta mengumpulkan data demi pengembangan sistem pertahanan antariksa terhadap ancaman asteroid. -
Ekspansi Stasiun Luar Angkasa Tiangong (China)
China melanjutkan agenda ekspansi stasiun luar angkasa Tiangong dengan menambah dua modul besar, Wentian dan Mengtian. Stasiun ini semakin siap menyaingi ISS dari Amerika dan Eropa. Tiangong sekarang melibatkan kolaborasi ilmuwan dan astronot internasional, serta mengandalkan kecanggihan lengan robotik untuk menunjang eksperimen bidang biologi, material, hingga riset kedokteran luar angkasa. Panel surya yang menghasilkan 20 kW memperkuat statusnya sebagai pusat riset global orbit rendah Bumi. - SPHEREx (NASA)
NASA akan mengorbitkan teleskop luar angkasa SPHEREx ke antariksa, bertujuan memetakan langit dalam spektrum inframerah. Selama misi yang dirancang berjalan dua tahun penuh, SPHEREx akan mengamati lebih dari 300 juta galaksi dan 100 juta bintang, serta memburu molekul air dan organik di galaksi Bima Sakti. Teleskop ini menyediakan data krusial untuk memahami asal-usul galaksi, evolusi kosmos, dan misteri energi gelap.
Tabel Ringkasan Misi Luar Angkasa 2025
| No | Misi | Lembaga | Target | Tujuan Utama |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Artemis III | NASA | Bulan (kutub selatan) | Penjelajahan manusia, ISRU |
| 2 | Starship | SpaceX | Uji coba orbit Bumi | Kendaraan reusable, Mars |
| 3 | Luna-27 | Roscosmos/ESA | Bulan (kutub selatan) | Eksplorasi es, pengambilan sampel |
| 4 | New Glenn | Blue Origin | Orbit Bumi | Peluncuran satelit, reusable |
| 5 | Hera | ESA | Asteroid Dimorphos | Penelitian dampak tabrakan |
| 6 | Tiangong Expansion | CNSA | Orbit rendah Bumi | Riset internasional, biologi |
| 7 | SPHEREx | NASA | Seluruh langit | Pemetaan inframerah, galaksi |
Antusiasme dan harapan tinggi mengiringi setiap peluncuran misi besar tersebut. Menurut informasi yang dilansir M2, Space.com, dan ESA, keberhasilan agenda ini akan mendorong kerjasama internasional, pengembangan sumber daya luar planet, serta membuka peluang bagi kehidupan manusia di luar Bumi. Semua pencapaian pada tahun depan diharapkan dapat mempercepat proses integrasi teknologi antariksa baru, sekaligus memperkuat posisi manusia sebagai penjelajah tak kenal batas di hamparan jagat raya.





