Sawit kerap disebut sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan di Indonesia dan Asia Tenggara. Banyak orang mempertanyakan apakah benar sawit lebih merusak dibandingkan tanaman pangan atau perkebunan lain seperti tebu, karet, kedelai, atau jagung.
Pandangan ini perlu dipahami secara objektif dengan mempertimbangkan aspek pembukaan lahan, pelepasan karbon, serta dampak keanekaragaman hayati di tiap jenis tanaman, bukan hanya sawit semata.
Dampak Nyata Pembukaan Lahan Sawit
Pembukaan hutan primer untuk perkebunan sawit tercatat memberikan dampak terbesar pada ekosistem sekitarnya. Proses awal ini membuat fungsi penyangga alam seperti pengaturan air, suhu, dan siklus unsur hara hilang dari lanskap. Hilangnya hutan menyebabkan larian air hujan makin cepat, sehingga risiko banjir waktu hujan dan kekeringan waktu kemarau meningkat signifikan.
Situasi ini tidak hanya terjadi dalam waktu singkat, melainkan dampaknya terasa bertahun-tahun setelah konversi lahan. Perubahan ini kadang terabaikan karena perbincangan hanya fokus pada luas perkebunan, bukan fungsi ekologis yang digantikan.
Perbandingan Emisi Karbon Sawit dan Tanaman Lain
Ketika hutan ditebang untuk sawit, karbon dalam biomassa pohon dan tanah akan terlepas ke atmosfer sebagai gas rumah kaca. Pada lahan gambut, kadar karbonnya bisa puluhan hingga seratus kali lipat lebih tinggi. Penelitian dari lembaga internasional menunjukkan, emisi gas rumah kaca terbesar sebenarnya berasal dari lahan gambut yang dialihfungsi, terlepas dari jenis tanaman yang dibudidayakan.
Daftar di bawah ini merangkum sumber emisi karbon utama:
- Pembukaan hutan primer (sawit, kedelai, jagung, atau tebu)
- Pengeringan lahan gambut (semua jenis komoditas, terutama sawit dan tebu)
- Praktik pembakaran vegetasi (metode tebang bakar sawit, karet, dan tebu)
- Penggunaan pupuk kimia berlebihan (padi, sawit, jagung)
Faktanya, produksi tanaman lain seperti kedelai di Amerika Selatan, tebu di Asia, hingga sapi di Afrika juga memberi efek serupa jika membuka hutan dan mengubah lahan gambut.
Dampak pada Keanekaragaman Hayati
Ekosistem alami di hutan primer menyediakan banyak lapisan vegetasi dan keragaman mikrohabitat untuk satwa. Saat area ini diubah jadi perkebunan monokultur seperti sawit, habitat jadi seragam dan memaksa satwa liar keluar dari area tersebut. Penelitian menyebutkan jumlah burung, mamalia kecil, serangga, dan serangga penyerbuk berkurang drastis sesudah konversi. Namun, pola serupa juga ditemukan pada konversi hutan untuk karet, kedelai, dan tebu.
Kehilangan ragam flora dan fauna tidak hanya terjadi secara mendadak, tetapi lewat proses perlahan selama bertahun-tahun. Proses ini sering tidak terpantau karena hilangnya spesies kecil yang lebih sulit terdata secara langsung.
Perubahan Sistem Air di Sekitar Kebun
Kebun sawit membutuhkan saluran drainase untuk mencegah tergenangnya air di akar. Saluran ini menyebabkan air hujan bergerak semakin cepat ke sungai, membawa partikel tanah, kimia, serta pupuk ke badan air. Efeknya, kualitas air menurun dan menimbulkan sedimentasi di hilir. Ini juga terjadi di kebun tebu skala besar dan kedelai yang mengubah sistem aliran air alami. Bila tidak diatur, perubahan sistem air berpotensi mengancam sumber air minum warga dan keberlangsungan lahan basah.
Contextualisasi Isu Sawit secara Global
Sawit memang memiliki jejak ekologis besar bila perkebunan dibangun di kawasan hutan primer dan lahan gambut. Namun, data Global Forest Watch dan penelitian lembaga lingkungan menunjukkan hampir semua bentuk konversi hutan, baik untuk kedelai di Brasil, peternakan di Afrika, maupun tebu di Asia berdampak serupa bahkan lebih parah dalam kasus spesifik tertentu.
Tanaman sawit justru lebih efisien menghasilkan minyak per hektar dibanding kedelai, canola, dan bunga matahari. Namun, efisiensi ini tidak menutup kerugian ekologis jika ekspansi dilakukan tanpa perencanaan berbasis konservasi. Pengawasan tata kelola dan upaya restorasi menjadi faktor penentu, bukan hanya jenis tanaman yang diusung.
Pilihan untuk membangun perkebunan apapun tentu harus memperhatikan aspek tata ruang, perlindungan keanekaragaman hayati, serta perlakuan terhadap lahan gambut dan hutan primer. Industri sawit akan terus menjadi sorotan dunia selama isu lingkungan belum terjawab secara transparan. Namun, membandingkan kerusakan berdasarkan jenis tanaman saja tanpa melihat praktik pengelolaannya juga dapat menimbulkan miskonsepsi baru yang sama berbahayanya bagi upaya perbaikan lingkungan.





