NASA kini memasuki tahap krusial dalam upayanya mengirim manusia keluar orbit Bumi setelah puluhan tahun. Proses peluncuran misi Artemis II bukan hanya perkara roket lepas landas, namun mencakup serangkaian tahapan penting mulai dari persiapan di darat hingga pengiriman komponen inti ke landasan peluncuran.
Tahap awal yang menjadi sorotan adalah proses pemindahan roket Space Launch System (SLS) dan wahana Orion dari Vehicle Assembling Building ke landasan peluncuran di Kennedy Space Center. Meski terdengar sederhana, proses yang disebut “roll out” ini merupakan salah satu tantangan utama logistik dalam dunia penerbangan antariksa modern.
Proses Roll Out: Tantangan Logistik Raksasa
Untuk misi Artemis II, NASA menjadwalkan proses roll out pada pertengahan bulan, dengan waktu tempuh hingga 12 jam. Jarak yang harus dilalui memang hanya sekitar empat mil, namun bobot gabungan SLS dan Orion mencapai 11 juta pon. Kecepatan pindahnya hanya sekitar satu mil per jam, mengandalkan kendaraan pengangkut crawler-transporter 2 kelas berat.
Crawler-transporter 2 (CT-2) milik NASA telah diakui sebagai kendaraan bertenaga sendiri terberat di dunia, seukuran lapangan baseball dengan bobot sekitar 6,6 juta pon. Kemampuan bawaannya mencapai 18 juta pon atau setara 20 unit pesawat Boeing 777. Kendaraan ini bahkan telah melayani NASA selama 50 tahun, dengan berbagai pembaruan mulai dari ruang kendali modern, generator baru, sistem rem yang ditingkatkan, hingga pengecatan ulang.
Karakteristik Roket SLS dan Sistem Penunjang Peluncuran
Roket SLS berdiri setinggi 322 kaki dan memiliki berat hingga 5,74 juta pon saat terisi bahan bakar penuh. Roket ini digerakkan empat mesin RS-25 racikan L3Harris Technologies dan dua pendorong padat dengan lima segmen besutan Northrop Grumman. Kombinasi ini menghasilkan daya dorong sekitar 8,27 juta pon saat peluncuran, menjadikannya satu-satunya alat yang mampu membawa muatan serta astronaut program Artemis.
Pengangkutan roket dari hangar ke landasan menjadi momen vital sekaligus simbolis bagi kebangkitan kembali program penerbangan ke Bulan oleh NASA. Saat proses roll out berlangsung, publik dapat menyaksikan langsung melalui kanal resmi NASA di YouTube, yang digelar bersama konferensi pers. Namun, jadwal pemindahan sangat bergantung pada kondisi cuaca dan kemungkinan kendala teknis.
Tahapan Uji dan Persiapan Pra-Peluncuran
Setibanya di landasan, SLS dan Orion menjalani serangkaian tes persiapan peluncuran. NASA akan memasang perlengkapan kritikal seperti jalur listrik dan pengisian propelan kriogenik. Seluruh sistem roket akan diaktifkan untuk memastikan kelayakan perangkat keras, terutama yang terintegrasi dengan sistem peluncur mobile dan infrastruktur darat.
Salah satu rangkaian penting adalah uji simulasi pengisian bahan bakar, disebut wet dress rehearsal. Proses ini melibatkan pengisian hingga lebih dari 700.000 galon propelan kriogenik. Momen ini krusial mengingat pada misi Artemis I sebelumnya ditemukan sejumlah tantangan teknis selama pengisian tersebut. Uji ini sekaligus menjadi latihan hitung mundur peluncuran. Jika ditemukan masalah besar, seluruh sistem bisa saja dikembalikan ke Vehicle Assembling Building untuk diperbaiki.
Jadwal dan Misi Artemis II
Misi Artemis II dijadwalkan peluncuran antara awal Februari hingga awal April. Selama sepuluh hari, empat astronaut akan mengelilingi bulan dengan menempuh jarak sekitar 4.700 mil di balik sisi jauh bulan, hampir seperempat juta mil dari Bumi. Berikut ini tahapan utama yang akan dilalui sebelum peluncuran Artemis II:
- Roll out SLS dan Orion ke landasan peluncuran menggunakan CT-2.
- Pemeriksaan dan pemasangan peralatan kritikal di lokasi peluncuran.
- Pengaktifan semua sistem terintegrasi untuk cek fungsi perangkat keras.
- Wet dress rehearsal – uji pengisian dan pengosongan bahan bakar kriogenik.
- Evaluasi dan perbaikan teknis bila diperlukan, yang bisa memicu pemunduran jadwal.
- Serangkaian pengujian akhir menjelang peluncuran dengan menyesuaikan situasi cuaca dan teknis.
Dampak Program Artemis secara Luas
Selain membawa empat astronaut mengorbit bulan, Artemis II menjadi tonggak penting uji coba sistem Orion untuk misi-misi lebih jauh, terutama Artemis III yang ditargetkan mendarat di kutub selatan bulan. Program ini tidak hanya menawarkan kemajuan sains dan teknologi, namun juga memperkuat kerja sama internasional dan visi eksplorasi luar angkasa berjangka panjang.
Dengan melibatkan teknologi mutakhir serta kinerja perangkat legendaris yang telah diperbarui, setiap tahapan menjelang peluncuran Artemis II kian mempertegas komitmen NASA dalam meraih ambisi eksplorasi Bulan setengah abad setelah era Apollo. Segenap dunia kini menanti langkah lambat namun pasti roket raksasa SLS hingga akhirnya siap menjelajah kegelapan luar angkasa menuju Bulan.





