Penelitian terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa padang lamun di kawasan pesisir Jawa dan Sumatera memiliki emisi karbon yang tinggi. Kondisi ini disebabkan oleh tekanan aktivitas manusia yang masif dan mengancam ekosistem lamun.
Padang lamun yang rusak berpotensi melepaskan karbon ke atmosfer, bukan hanya menyerapnya seperti yang selama ini diketahui. Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN, Aan Johan Wahyudi, menjelaskan bahwa ekosistem lamun di wilayah padat penduduk mengalami degradasi yang cukup berat.
Faktor Emisi Karbon dan Dampak Tekanan Manusia
Metode faktor emisi karbon yang digunakan dalam penelitian ini mengukur berapa banyak karbon dilepaskan setiap tahun per hektare dari ekosistem lamun yang mengalami gangguan. Hasil dapat menunjukkan laju kehilangan karbon akibat kerusakan padang lamun.
Pemodelan kronosekuen memberikan gambaran perubahan stok karbon dengan membandingkan kondisi lamun yang sehat dan yang terdegradasi. Faktor emisi karbon di Indonesia berada pada kisaran 0,53 sampai 3,25 ton karbon per hektare per tahun.
Wilayah dengan tekanan antropogenik tinggi, seperti Jawa dan Sumatera, tercatat memiliki emisi karbon terbesar. Sebaliknya, daerah yang lebih sedikit tekanan manusia, seperti Nusa Tenggara, Sulawesi bagian tertentu, dan Maluku, menunjukkan tingkat emisi yang lebih rendah.
Kerusakan Lamun dan Peran Aktivitas Manusia
Kegiatan reklamasi, pengerukan, dan peningkatan sedimentasi menjadi faktor utama yang menghambat pertumbuhan sekaligus merusak ekosistem lamun. Kondisi ini menyebabkan proses dekomposisi biomassa lamun yang rusak melepaskan karbon dioksida ke atmosfer.
Lamun yang dalam kondisi sehat justru berfungsi menyerap dan menyimpan karbon, sehingga berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim. Namun, jika rusak, ekosistem ini dapat berubah menjadi sumber emisi karbon yang signifikan.
Data Tekanan Dan Emisi Karbon Lamun di Indonesia
- Jawa dan Sumatera: Emisi karbon tertinggi akibat tingginya aktivitas manusia di pesisir.
- Nusa Tenggara, Sulawesi bagian tertentu, dan Maluku: Emisi karbon relatif rendah, tekanan manusia lebih minim.
- Faktor emisi karbon lamun: 0,53 – 3,25 ton karbon per hektare per tahun.
Aan Johan Wahyudi menegaskan pentingnya memperhitungkan pelepasan karbon dalam akuntansi blue carbon, bukan hanya fokus pada kemampuan penyerapannya. Studi ini membuka pemahaman baru bahwa menjaga kelestarian padang lamun adalah kunci untuk mengontrol emisi karbon dari sektor pesisir.
Pemerintah dan pemangku kepentingan dapat menggunakan data ini sebagai acuan dalam mengelola tekanan antropogenik di kawasan pesisir. Upaya rehabilitasi dan perlindungan lamun menjadi bagian dari strategi mitigasi perubahan iklim yang konkret di Indonesia.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com






