Space Launch System (SLS) kembali menjadi sorotan setelah NASA menggulirkan roket raksasa ini ke landasan peluncuran di Florida. Aksi ini menandai langkah penting bagi misi Artemis II, sebagai upaya menuju penerbangan awak ke Bulan pertama kali dalam lebih dari lima dekade.
Keberangkatan perlahan roket SLS dan kapsul Orion ke landasan peluncuran memulai rangkaian tes darat terakhir sebelum NASA memberangkatkan empat astronot dalam misi sepuluh hari menjelajahi ruang angkasa yang dalam. Persiapan ini menjadi penanda bahwa SLS siap menunjukkan keunggulannya di era baru penjelajahan Bulan.
SLS Sudah Bukan yang Paling Bertenaga
Roket SLS meraih predikat paling bertenaga ketika melakukan debut pada misi Artemis I, dengan dorongan mencapai 8,8 juta pon. Angka tersebut setara dengan tenaga hampir 160 ribu mesin Corvette. Namun, status ini kini berpindah ke Starship milik SpaceX yang mampu menghasilkan dorongan sekitar 16 hingga 17 juta pon.
Meski Starship memecahkan rekor daya dorong, SLS tetap menjadi satu-satunya roket yang sudah layak terbang membawa manusia. Sementara itu, Starship masih dalam tahap uji coba dan belum mengangkut awak atau kargo ke luar angkasa.
Penting dicatat, SLS bisa menjadi roket terkuat yang pernah membawa manusia ke luar angkasa jika peluncuran Artemis II sukses. Roket ini membakar sekitar 700 ribu galon bahan bakar kriogenik saat peluncuran. Daya dorongnya cukup untuk mengangkat delapan Boeing 747 sekaligus.
Kapasitas dan Dimensi yang Menonjol
SLS berdiri setinggi 322 kaki, lebih tinggi dari Patung Liberty maupun Big Ben. Dengan dimensi itu, SLS mengungguli tumpukan Space Shuttle, namun masih berada di bawah Saturn V dari era Apollo. Sedangkan Starship tetap menjadi roket terbesar saat ini dengan ketinggian sekitar 400 kaki.
Daftar Perbandingan Kekuatan Roket Terbaru
- Starship (SpaceX): 16–17 juta pon dorongan
- SLS (NASA): 8,8 juta pon dorongan
- Saturn V (NASA): 7,6 juta pon dorongan
SLS, Satu-satunya Kendaraan untuk Orion
Roket SLS saat ini menjadi satu-satunya sistem peluncuran yang mampu membawa kapsul Orion melintasi Bulan dan menjelajah lebih jauh. Kapsul Orion berfungsi sebagai wahana sekaligus tempat tinggal bagi awak selama perjalanan panjang.
Untuk Artemis II, Orion direncanakan terbang sekitar 5.000 mil melewati sisi terjauh Bulan. Jika berhasil, rekor jarak terjauh manusia dari Bumi bisa saja terpecahkan. Kapsul akan kembali dengan pendaratan di Samudra Pasifik.
Teknologi Retro dengan Sentuhan Modern
SLS dibangun dengan basis teknologi Space Shuttle yang digunakan NASA pada periode 1981–2011. Ini tampak dari penggunaan tangki oranye yang kini menjadi inti utama roket dan empat mesin utama bekas Shuttle sebagai pendorong. Perbedaan utama, mesin ini kini sekali pakai, bukan dapat digunakan ulang.
Dua booster solid yang diadopsi dari Shuttle memberikan 75 persen daya dorong saat lepas landas. Beberapa sistem dan metode manufaktur mendapat pembaruan agar tetap relevan dengan perkembangan teknologi saat ini.
Fokus pada Jangkauan, Bukan Reusabilitas
Untuk mencapai Bulan, SLS harus meninggalkan konsep reusable yang identik dengan Shuttle. Fitur seperti parasut, bahan bakar cadangan, dan sensor pendaratan tidak lagi digunakan, sehingga beban berkurang 2.000 pon dan memberikan lebih banyak kapasitas muatan untuk Orion.
Dampaknya, semua booster dan mesin utama hanya digunakan satu kali setiap misi peluncuran. Meski demikian, bahan bakar yang digunakan, hydrogen cair dan oksigen, menghasilkan buangan berupa uap air yang cukup bersih.
Biaya Pembuatan SLS yang Fantastis
Roket SLS kerap disebut sebagai roket termahal yang pernah dibuat Amerika. Berdasarkan estimasi pada 2022 oleh Inspektur Jenderal NASA, setiap peluncuran Artemis memakan biaya sekitar $4,1 miliar, dengan hampir separuhnya merupakan anggaran khusus untuk roket SLS saja.
Berdasarkan undang-undang yang disahkan pada 2010, pengembangan SLS memang dirancang untuk melibatkan ribuan pemasok dari seluruh negara bagian di Amerika Serikat, sehingga biaya produksi sangat tinggi dan bertujuan menjaga lapangan kerja di bidang teknologi tinggi.
Penutup Informasi
Artemis II yang akan menggunakan SLS bersama kapsul Orion menjadi bukti transisi teknologi roket dari masa lalu ke era modern. Meski bukan lagi yang terkuat secara teknis, SLS tetap menyandang status sebagai satu-satunya roket yang siap membawa misi manusia ke Bulan. Masa depan eksplorasi antarplanet akan sangat bergantung pada inovasi sistem peluncuran, baik dari lembaga pemerintah maupun sektor swasta.





