China melalui Institute of Radio Spectrum Utilisation and Technological Innovation telah mengajukan permohonan peluncuran hampir 200.000 satelit ke orbit bumi. Jumlah ini lebih dari sepuluh kali lipat jumlah total satelit yang saat ini aktif di orbit, menandai lonjakan besar dalam ambisi sektor antariksa global.
Permohonan tersebut telah diajukan ke International Telecommunication Union (ITU) yang bertanggung jawab untuk mengatur spektrum frekuensi dan menghindari tumpang tindih sinyal antara negara. ITU dihadapkan pada tantangan besar untuk memproses aplikasi terbesar sepanjang sejarah eksplorasi antariksa ini.
Ambisi dan Tekanan Kompetisi Global
China berencana meluncurkan dua konstelasi, masing-masing terdiri dari 96.714 satelit. Untuk konteks, Starlink milik SpaceX yang dianggap sebagai proyek mega-konstelasi terbesar di dunia kini hanya memiliki sekitar 10.000 satelit di orbit. Pada tahun sebelumnya, China berhasil meluncurkan 92 roket ke luar angkasa, namun angka ini masih berada di bawah pencapaian SpaceX yang meluncurkan 165 roket.
Dalam proposal ke ITU, terdapat beberapa target pencapaian bertahap yang harus dipenuhi. Berikut tahapan milestone peluncuran menurut regulasi ITU:
- Dalam tujuh tahun, minimal satu satelit dari masing-masing konstelasi harus telah mengorbit.
- Dalam dua tahun berikutnya, 10.000 satelit dari masing-masing konstelasi harus diluncurkan.
- Tiga tahun kemudian, jumlah satelit bertambah menjadi 50.000 untuk tiap konstelasi.
- Dalam dua tahun terakhir, target 100.000 satelit per konstelasi harus sudah tercapai.
Dengan adanya target tersebut, China hanya memiliki waktu 14 tahun untuk mewujudkan peluncuran masif ini, menjadikannya sebuah tantangan besar dari sisi teknologi, logistik, hingga pengelolaan lalu lintas orbit.
Alasan Strategis di Balik Permohonan Masif
Langkah besar China ini diduga kuat bukan hanya upaya untuk mengungguli kompetitor, melainkan strategi mengamankan slot spektrum frekuensi dan area orbit sebanyak mungkin sebelum negara lain bergerak lebih jauh. Ada anggapan bahwa tujuan utama adalah memesan "lahan" di luar angkasa, mirip fenomena klaim wilayah, namun tanpa batas daratan.
Jika selama 14 tahun ke depan hanya 20.000 atau 30.000 satelit yang berhasil diluncurkan, izin dari ITU tetap memberi jaminan ruang bagi China terhadap persaingan global. Cara ini juga bisa digunakan untuk menghalangi atau memperlambat ekspansi pesaing melalui kendali spektrum dan orbital.
Persaingan yang Terus Memanas
Fenomena permohonan dalam jumlah sangat besar ternyata bukan pertama kalinya terjadi. Rwanda pernah mengajukan permohonan peluncuran 327.000 satelit beberapa tahun lalu. Namun, hingga kini efek nyata dari langkah Rwanda sangat minim karena jumlah satelit yang benar-benar berhasil diluncurkan sangat sedikit, sedangkan aktivitas peluncuran negara lain tetap berjalan normal. Situasi ini memperlihatkan bahwa mengajukan aplikasi dengan jumlah besar kadang hanya sebagai langkah strategi dan belum tentu seluruhnya terlaksana.
Tantangan dan Risiko Kepadatan Orbit
Lonjakan jumlah satelit dalam beberapa tahun mendatang menimbulkan kekhawatiran akan semakin padatnya orbit Bumi. Setiap penambahan ribuan satelit membawa risiko tabrakan, peningkatan sampah antariksa, gangguan layanan komunikasi yang sudah ada, hingga potensi masalah hukum lintas negara.
Badan antariksa dan perusahaan swasta kini berlomba untuk berinovasi sekaligus menghadapi persoalan baru di luar angkasa. Beberapa inisiatif mungkin tidak terealisasi, namun jika separuh dari rencana peluncuran terjadi, maka keadaan langit malam dan siang di atas Bumi akan berubah total.
Situasi perkembangan konstelasi satelit kini menjadi pusat perhatian dunia teknologi dan keamanan global. Apapun hasil akhirnya, langkah China ini berpotensi mengubah lanskap eksplorasi antariksa dalam satu dekade ke depan dan menetapkan arah persaingan teknologi tinggi dunia.
