Blue Origin Kembangkan Internet Satelit 6Tbps TeraWave, Saingi Kecepatan Starlink

Blue Origin, perusahaan roket yang didukung oleh Jeff Bezos, telah mengumumkan rencana mengembangkan konstelasi satelit internet broadband baru bernama TeraWave. TeraWave menawarkan kecepatan internet yang jauh melampaui pesaing utamanya, Starlink milik SpaceX. Dengan kecepatan hingga 6Tbps untuk unggahan dan unduhan, teknologi ini diharapkan menjadi revolusi bagi kebutuhan internet di era kecerdasan buatan.

Kecepatan tersebut berarti TeraWave dapat memberikan konektivitas yang lebih cepat ribuan kali lipat dibandingkan layanan internet satelit yang tersedia saat ini, khususnya yang digunakan oleh konsumen maupun perusahaan. Blue Origin menargetkan pengguna layanan ini terutama adalah korporasi besar dan pusat data yang membutuhkan jaringan super cepat dan andal, bukan pelanggan individual.

Jaringan Satelit TeraWave dan Konsep Teknologinya

TeraWave akan mengoperasikan lebih dari 5.000 satelit di orbit rendah Bumi (LEO) yang mampu mengirimkan data dengan kecepatan hingga 144Gbps ke penerima di darat dengan latensi rendah. Kecepatan ini tercatat sekitar 300 kali lebih cepat daripada koneksi Starlink tercepat pada awal 2026. Selain satelit LEO, Blue Origin juga akan meluncurkan 128 satelit tambahan di orbit menengah Bumi (MEO). Satelit-satelit ini berfungsi sebagai jalur optik internet langsung dengan kapasitas mencapai 6Tbps dan berperan sebagai jaringan backhaul untuk satelit yang berada di LEO.

Menurut Dave Limp, CEO Blue Origin, TeraWave dirancang untuk memberikan keandalan dan ketahanan yang sangat dibutuhkan dalam operasi waktu nyata dan pengelolaan data besar-besaran. Konektivitas ini pun dapat berfungsi sebagai cadangan saat terjadi gangguan, menjaga sistem penting agar tetap berjalan tanpa hambatan. Fitur lain yang menonjol adalah skalabilitas pada permintaan dan kemampuan penyebaran global yang cepat tanpa mengorbankan performa jaringan.

Persaingan dengan Starlink dan Proyek Amazon

Starlink yang dikelola SpaceX kini telah mengumpulkan lebih dari sembilan juta pelanggan global dan menjadi sumber pendapatan utama perusahaan tersebut. Sementara itu, Amazon melalui proyek Leo (sebelumnya dikenal sebagai Project Kuiper) juga tengah berupaya masuk pasar layanan internet satelit. Dalam konteks ini, rencana Blue Origin dengan TeraWave menambah persaingan ketat di pasar internet satelit.

Namun, TeraWave berbeda dengan layanan internet satelit tradisional yang menyasar pasar konsumen massal. Blue Origin memperkirakan layanan ini hanya akan melayani hingga sekitar 100.000 pelanggan pada satu waktu. Meski demikian, cakupan layanan akan bersifat global dengan kecepatan unggah dan unduh yang luar biasa, sangat cocok untuk kebutuhan pengiriman dan penerimaan data secara intensif di level korporasi.

Tantangan Peluncuran dan Implementasi

Peluncuran gelombang pertama satelit TeraWave direncanakan berlangsung pada akhir tahun 2027. Proses selanjutnya akan sangat bergantung pada kemajuan pengembangan roket New Glenn buatan Blue Origin. Roket New Glenn belum melakukan banyak penerbangan, hanya dua kali hingga saat ini, sehingga kapasitas peluncuran satelit masih menjadi tantangan yang harus diatasi.

Selain harus bersaing mendapatkan ruang muatan pada roket New Glenn dengan berbagai perusahaan lainnya, termasuk proyek Amazon Leo, keberhasilan peluncuran dan pengoperasian TeraWave akan menandai babak baru dalam layanan internet satelit kelas dunia. Teknologi ini dinilai akan membuka peluang bagi penggunaan cloud computing, data center, serta aplikasi AI yang membutuhkan kecepatan dan kestabilan koneksi sangat tinggi.

Dengan langkah ini, Blue Origin berpotensi menempatkan dirinya sebagai pemain kunci dalam industri telesat yang semakin kompetitif. Pengembangan layanan internet broadband ultracepat TeraWave akan memberikan alternatif baru selain Starlink dan menggugah inovasi berkelanjutan dalam penyediaan internet satelit global.

Exit mobile version