Setelah Blue Origin meluncurkan TeraWave, sebuah konstelasi satelit yang menawarkan kecepatan internet hingga 6 terabit per detik (Tbps), Elon Musk menyatakan bahwa Starlink akan melampaui teknologi tersebut. Musk menegaskan bahwa sistem laser ruang angkasa Starlink yang akan datang mampu memberikan kecepatan lebih tinggi daripada TeraWave.
Blue Origin menggunakan teknologi laser optik untuk menghubungkan 128 satelit mereka, yang kemudian menyalurkan data ke permukaan bumi. Namun, TeraWave dirancang hanya untuk melayani sekitar 100.000 pelanggan pemerintah dan korporasi, sedangkan mayoritas satelitnya yang berjumlah sekitar 5.000 unit akan menyediakan kecepatan gigabit untuk pengguna umum.
Teknologi Laser Satelit Starlink
Saat ini, masing-masing satelit Starlink dilengkapi dengan tiga laser optik ruang angkasa yang mampu mentransfer data hingga 200Gbps. Namun, teknologi laser tersebut digunakan untuk komunikasi antar-satelit, bukan langsung ke pengguna di permukaan. Sebagai gantinya, Starlink memakai gelombang radio untuk menyampaikan koneksi internet ke pelanggan di daratan.
Pada awal tahun ini, seorang insinyur SpaceX mengungkapkan bahwa perusahaan telah mengeksplorasi teknologi untuk mengarahkan laser satelit langsung ke terminal di permukaan bumi guna mencapai kecepatan transmisinya. Meskipun begitu, perencanaan saat ini masih fokus untuk meningkatkan kecepatan gigabit melalui teknologi radio, yang telah mendapatkan persetujuan dari regulator Amerika Serikat.
Tantangan dan Peluang Laser Satelit
Menggunakan laser untuk mengirim data dengan kecepatan yang sangat tinggi, bahkan mencapai petabit per detik, sudah menjadi kenyataan dalam beberapa eksperimen. Namun, menjaga kestabilan dan kualitas laser link antara satelit dan bumi menghadapi kendala signifikan, seperti awan, debu, dan kabut yang dapat menghalangi sinyal optik.
NASA dan beberapa perusahaan di Amerika Serikat serta Tiongkok sedang aktif mengembangkan teknologi ini. Contohnya, wahana antariksa NASA bernama Psyche berhasil mengirimkan data menggunakan laser yang diterima oleh observatorium bumi. Tahun lalu, sebuah perusahaan China mengumumkan kesuksesan mempertahankan koneksi laser 100Gbps dari satelit yang mengirimkan citra satelit.
Percepatan Tren Internet Satelit
Selain SpaceX dan Blue Origin, perusahaan-perusahaan lain juga menggunakan teknologi laser optik untuk pengiriman data cepat di daratan. Misalnya, Aalyria, spin-off Google, berhasil melakukan transmisi optik 100Gbps dalam jarak 40 mil di daratan. Mereka juga berminat mengaplikasikan keahlian komunikasi laser atmosfer ke skenario luar angkasa.
Berikut ini rangkuman perbandingan teknologi internet satelit terbaru:
-
Blue Origin TeraWave
- Kecepatan: Hingga 6 Tbps
- Satelit: 128 satelit dengan laser antara satelit dan ke bumi
- Target: 100.000 pelanggan pemerintah dan korporasi
-
Starlink (SpaceX)
- Kecepatan antar satelit: Hingga 200 Gbps per laser
- Teknologi saat ini: Laser antar-satelit dan gelombang radio ke pengguna
- Rencana: Laser langsung ke permukaan guna kecepatan terabit
- Aalyria (Google Spin-Off)
- Kecepatan: 100 Gbps
- Area: Jarak 40 mil di daratan
- Fokus: Terestrial, maritim, dan ke depan untuk luar angkasa
Pengembangan teknologi ini menandakan percepatan revolusi internet satelit untuk memenuhi kebutuhan data tinggi di masa depan. Starlink dengan teknologi laser ruang angkasa menjadi calon pesaing utama teknologi TeraWave yang diusung Blue Origin, terutama di segmen bisnis dan pemerintahan yang memerlukan kecepatan sangat tinggi dan stabil.
Elon Musk telah mengisyaratkan bahwa pencapaian terabit dalam koneksi internet satelit akan segera hadir untuk pengguna Starlink, memperkuat posisinya di pasar infrastruktur internet global yang semakin kompetitif. Implementasi laser langsung ke bumi berpotensi membuka era baru internet nirkabel ultra-cepat yang mampu memenuhi kebutuhan pelanggan korporasi dan pemerintahan yang terus berkembang.





