Misi Artemis NASA yang bertujuan mengembalikan manusia ke permukaan Bulan menghadapi tantangan serius terkait dengan desain pakaian luar angkasa atau spacesuit yang akan digunakan oleh para astronot. Kathleen Rubins, mantan astronot NASA, mengungkapkan bahwa spacesuit yang dirancang untuk misi Artemis memiliki masalah besar pada aspek fleksibilitas dan bobot yang berlebihan. Kondisi ini berpotensi menimbulkan beban fisik yang ekstrem saat astronot berada di permukaan Bulan.
Rubins menyebutkan bahwa walaupun ada penambahan fleksibilitas dan peningkatan dibandingkan dengan spacesuit Apollo, pakaian luar angkasa Artemis tetap terlalu berat dan membatasi pergerakan. Astronot akan memakai suit tersebut selama delapan hingga sembilan jam dalam aktivitas Extravehicular Activity (EVA) setiap hari, dengan waktu tidur yang minim. Beban kerja di Bulan, meski gravitasi hanya sepertiga dari bumi, dianggap jauh lebih berat dibandingkan EVA di lingkungan mikrogravitasi di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Tantangan Berat dan Fleksibilitas Pakaian Luar Angkasa Artemis
Bobot suit yang sangat besar menjadi salah satu masalah utama di luar masalah fleksibilitas. Spacesuit yang dipilih, seperti desain dari Axiom, memang menawarkan fleksibilitas lebih baik dibandingkan dengan EMU (Extravehicular Mobility Unit) yang selama ini digunakan di ISS. Namun, peningkatan fleksibilitas ini justru meningkatkan berat keseluruhan suit, yang diperkirakan mencapai beberapa ratus pound karena sistem dukungan kehidupan yang dipasang di bagian punggung.
Rubins menjelaskan beberapa isu signifikan terkait penggunaan suit ini:
- Keterbatasan gerak tubuh: Fleksibilitas yang masih kurang menghambat aktivitas sederhana seperti membungkuk untuk mengambil sampel batuan.
- Masalah keseimbangan: Titik berat suit yang tinggi menyebabkan astronot berisiko jatuh saat bergerak di permukaan Bulan.
- Stres fisik yang tinggi: Penggunaan suit selama berjam-jam dalam gravitasi Bulan menambah tingkat kelelahan secara signifikan.
Menurut Rubins, meski desain ini sudah lebih baik ketimbang suit Apollo, kondisi saat ini masih jauh dari ideal. Astronot harus rela beradaptasi dengan keterbatasan tersebut demi menjalankan misi yang penuh risiko dan tuntutan fisik tinggi.
Dampak Fisik yang Dirasakan Astronot dalam Pengujian
Astronot NASA dan dokter medis Mike Barratt juga menyampaikan pengalaman mereka terkait efek penggunaan suit berat ini. Beberapa kasus yang sempat teridentifikasi selama tahap pengujian meliputi iritasi kulit akibat gesekan, nyeri pada sendi, hingga cedera ringan seperti patah tulang. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun suit berteknologi tinggi, dampak fisiknya terhadap tubuh manusia masih harus diatasi dengan serius.
Barratt tetap optimis bahwa suit yang dikembangkan Axiom akan terus mengalami penyempurnaan dan menjadi opsi terbaik bagi astronot Artemis menjelang peluncuran misi. NASA diberi kesempatan lebih banyak untuk mengolah desain suit mengingat adanya kemungkinan penundaan jadwal misi.
Solusi dan Rencana Penyempurnaan
Rubins mengusulkan agar NASA mempertimbangkan penambahan alat bantu dalam suit untuk membantu astronot bangun saat terjatuh dan memperluas jangkauan gerakan tanpa memerlukan peningkatan berat. Pendekatan ini akan mengurangi tuntutan fleksibilitas maksimum yang harus dimiliki suit dan berpotensi mengurangi berat keseluruhan.
Secara umum, pengembangan pakaian luar angkasa untuk Artemis menuntut keseimbangan yang rumit antara perlindungan, mobilitas, dan bobot. NASA harus terus menguji dan menyempurnakan teknologi ini demi memastikan keselamatan dan efektivitas astronot saat menjelajahi Bulan.
Inovasi pada suit Artemis akan menjadi kunci keberhasilan misi eksplorasi ruang angkasa berikutnya. Dua aspek utama yang wajib dipecahkan adalah bagaimana mengurangi beban fisik tanpa mengorbankan perlindungan astronaut serta meningkatkan fleksibilitas tanpa penambahan berat berlebihan. Pekerjaan ini akan menjadi fokus intensif agar kesiapan misi Artemis dapat benar-benar maksimal saat waktu peluncuran tiba.





