Penelitian terbaru dari ilmuwan Tiongkok menghadirkan terobosan penting dalam pengembangan baterai termal. Teknologi ini berpotensi mengubah cara baterai termal beroperasi dan meningkatkan efisiensi penyimpanannya secara signifikan.
Baterai termal selama ini terkendala oleh masalah shuttle effect, yang menyebabkan penurunan kapasitas dan efisiensi pengisian daya seiring waktu. Masalah ini muncul karena pelarutan senyawa polisulfida di dalam baterai sehingga sulfur hilang dan tidak dapat dikembalikan.
Masalah shuttle effect pada baterai termal
Masalah shuttle effect terjadi saat komponen polisulfida intermediate larut dan bergerak bebas di dalam baterai. Kondisi ini menyebabkan hilangnya material sulfur dan menurunnya efisiensi baterai secara permanen. Meskipun berbagai pendekatan sudah dicoba, termasuk penambahan elektroda sulfur variatif, belum ada solusi yang benar-benar mampu mengatasi kendala ini secara tuntas.
Inovasi material katoda dengan COFs
Tim peneliti yang dipimpin oleh Profesor Wang Song dan Zhu Yongping dari Institut Teknik Proses Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok mengembangkan metode baru dengan menambahkan penghalang khusus di dalam struktur baterai. Penghalang ini berupa lapisan kerangka organik kovalen (covalent organic frameworks/COFs) yang bersifat berpori dan kristalin.
Lapisan COFs ini memungkinkan ion tertentu bergerak bebas sesuai kebutuhan, namun melarang partikel polisulfida bergerak ke area lain sehingga mengurangi efek shuttle. Dengan begitu, material sulfur dalam baterai tidak mudah hilang dan proses pengisian daya menjadi lebih stabil serta efisien.
Keunggulan dan potensi pengembangan
Penelitian ini memberikan fondasi kuat bagi pengembangan baterai termal berkapasitas tinggi dengan performa lebih baik dan umur yang lebih panjang. Penggunaan COFs sebagai penghalang internal menawarkan pengendalian material yang lebih presisi di dalam sel baterai.
Baterai termal sangat berpotensi untuk diaplikasikan pada kondisi ekstrem, seperti suhu sangat tinggi atau sangat rendah. Saat ini baterai tipe ini sudah digunakan di bidang militer, aerospace, dan pengeboran sumur dalam, karena mampu bekerja di lingkungan yang tidak bisa ditangani baterai konvensional.
Dampak luas dari terobosan ini
Masalah utama baterai konvensional seperti lithium-ion adalah penurunan kinerja saat terpapar suhu ekstrem. Baterai termal mampu menggantikan kebutuhan tersebut asalkan shuttle effect berhasil diatasi. Dengan hasil penelitian ini, para ilmuwan memiliki jalur yang bagus untuk menciptakan baterai termal lebih optimal di masa depan.
Riset semacam ini juga berperan penting dalam menemukan material baru di luar lithium yang ramah lingkungan dan lebih ekonomis. Potensi penggunaan baterai ini meluas ke beragam sektor teknologi yang membutuhkan penyimpanan energi handal pada kondisi sulit.
Ringkasan teknologi dan manfaatnya
- Shuttle effect menyebabkan hilangnya sulfur dalam baterai termal.
- Pengembangan penghalang berbasis COFs mengurangi pelarutan polisulfida.
- Ion penting tetap dapat bergerak dengan bebas melalui lapisan COFs.
- Efisiensi pengisian dan umur baterai meningkat signifikan.
- Cocok untuk aplikasi di lingkungan suhu ekstrim dan industri strategis.
Dengan inovasi dari para ilmuwan Tiongkok ini, pengembangan baterai termal semakin dekat untuk memenuhi kebutuhan teknologi energi masa depan. Perkembangan seperti ini berpotensi membuka era baru solusi penyimpanan daya dengan performa dan daya tahan lebih baik dibanding teknologi saat ini.





