Operasi pencarian pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport terfokus pada kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Koordinat terakhir pesawat tersebut berada di dalam wilayah taman nasional yang dikenal dengan kekayaan alam dan keanekaragaman hayatinya.
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memiliki luas 43.077,30 hektare dan mencakup wilayah Kabupaten Maros serta Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Kawasan ini merupakan salah satu bentang alam karst terluas di dunia yang memiliki keunikan ekosistem lengkap, berupa bukit kapur curam dan gua-gua yang menakjubkan.
Sejarah kawasan ini terkait dengan Alfred Russel Wallace, seorang naturalis Inggris yang mengeksplorasi wilayah ini pada tahun 1857. Dalam buku terkenalnya, The Malay Archipelago (1869), Wallace menyebut Bantimurung sebagai “The Kingdom of Butterfly” karena melimpahnya spesies kupu-kupu di sana.
Penetapan kawasan ini sebagai konservasi sudah dimulai sejak dekade 1970-an. Pada 18 Oktober 2004, Bantimurung Bulusaraung secara resmi diresmikan sebagai taman nasional melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan, memperkuat statusnya sebagai lokasi penting untuk perlindungan alam dan penelitian ilmiah.
Kawasan karst di taman nasional ini terdiri atas eksokarst dan endokarst yang lengkap, dengan lebih dari 400 gua alami dan prasejarah yang memiliki ornamen speleotem unik. Keberadaan gua-gua ini menjadikan area tersebut sebagai laboratorium alam ideal untuk kajian geologi, biologi, dan arkeologi.
Keanekaragaman hayati di Bantimurung Bulusaraung sangat tinggi, terutama untuk spesies kupu-kupu. Sekitar 20 jenis kupu-kupu dilindungi di kawasan ini, termasuk spesies endemik seperti Troides helena dan Papilio adamantius yang hanya ditemukan di wilayah ini.
Selain kupu-kupu, taman nasional juga menjadi habitat bagi sembilan spesies satwa mandar, seperti Julang Sulawesi (Aceros cassidix), kera endemik Macaca maura, kuskus beruang Sulawesi, elang Sulawesi, dan babi kutil Sulawesi. Satwa ini memiliki peranan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem setempat.
Dari sisi ekologi, Bantimurung Bulusaraung berfungsi sebagai daerah tangkapan air utama untuk beberapa sungai besar di Sulawesi Selatan, antara lain Sungai Bantimurung, Pute, dan Walanae. Sistem hidrologi karstnya membantu menyediakan air bersih penting bagi pertanian dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Secara topografi, kawasan ini memiliki variasi lanskap yang cukup tinggi, mulai dari dataran rendah hingga pegunungan dengan puncak tertinggi mencapai 1.565 meter di Pegunungan Bulusaraung. Iklim di wilayah ini tergolong tipe D dengan curah hujan tinggi dan suhu rata-rata 27 hingga 33 derajat Celsius.
Rencana pengelolaan jangka panjang taman nasional ini menargetkan pengembangan sebagai destinasi ekowisata karst berkelas dunia. Strategi ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar sekaligus menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
Dengan segala kekayaan alam, nilai ilmiah, dan sejarah konservasi yang dimilikinya, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menjadi kawasan strategis untuk perlindungan alam di Indonesia. Lokasi ini sekaligus menjadi titik terakhir yang diketahui keberadaan pesawat ATR 42-500, menjadikan pencarian pesawat tersebut bersinggungan dengan kawasan vital tersebut.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com