SpaceX mengambil langkah drastis dengan menurunkan orbit lebih dari 4.000 satelit Starlink setelah terjadi insiden hampir tabrakan dengan satelit Cina. Kejadian ini memicu kekhawatiran akan keselamatan dan tata kelola ruang angkasa yang semakin padat dan berisiko.
Pada Desember, sebuah satelit yang diluncurkan dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan di Cina hampir bertabrakan dengan satelit Starlink milik SpaceX. Jarak antara kedua satelit tersebut hanya sekitar 200 meter, menurut Michael Nicolls, Wakil Presiden Teknik SpaceX. Nicolls menyebut kurangnya koordinasi dan komunikasi menjadi penyebab utama hampir terjadinya benturan ini.
Perubahan Orbital Starlink
Sebagai respon terhadap insiden ini, SpaceX memutuskan menurunkan orbit sekitar 4.400 satelit Starlink dari ketinggian 550 kilometer menjadi 480 kilometer. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi risiko tabrakan dengan satelit lain di orbit rendah Bumi (LEO). Menurut laporan South China Morning Post, data orbit dan lintasan peluncuran satelit Cina tersebut baru dibagikan kurang dari 14 menit sebelum insiden mendekati tabrakan, sehingga SpaceX memiliki waktu sangat sedikit untuk mengantisipasi risiko.
Sejatinya, hampir tabrakan antara satelit Starlink dan satelit Cina bukanlah yang pertama kali terjadi. Pada 2021, terdapat dua insiden di mana satelit Starlink harus melakukan manuver penghindaran darurat untuk menjauhi Stasiun Luar Angkasa Cina. Insiden-insiden ini menyoroti kebutuhan mendesak akan koordinasi internasional yang lebih baik terkait pengelolaan satelit di orbit rendah Bumi.
Risiko dan Dampak Penurunan Orbit
Meskipun menurunkan orbit satelit dianggap sebagai langkah pencegahan yang tepat, para peneliti dari Akademi Ilmu Pengetahuan Cina memperingatkan adanya potensi risiko baru. Mereka menyatakan bahwa kesalahan koordinasi semacam ini bisa memicu efek domino berupa tabrakan beruntun yang menghasilkan puing antariksa. Fenomena tersebut dikenal sebagai Kessler Syndrome, yang dapat menyebabkan akumulasi sampah antariksa dan membahayakan operasional satelit.
Langkah SpaceX ini juga bertujuan untuk mempercepat waktu penguraian satelit yang tidak berfungsi. Dengan orbit lebih rendah, satelit yang rusak akan lebih cepat jatuh ke atmosfer dan terbakar, sehingga mengurangi jumlah puing antariksa yang melayang di ruang angkasa. Namun, tanpa aturan internasional yang ketat, inisiatif seperti ini tetap punya potensi menimbulkan masalah baru di masa depan.
Tantangan Kepadatan Lalu Lintas Antariksa
Orbit Bumi kini semakin padat dengan keberadaan berbagai konstelasi satelit yang berlomba menyediakan layanan internet global. Selain Starlink, perusahaan lain seperti Amazon dengan Project Kuiper, Blue Origin, Eutelsat OneWeb, dan program satelit Cina Qianfan juga turut menyumbang jumlah satelit di LEO. Kepadatan ini tidak hanya meningkatkan risiko tabrakan, tetapi juga menganggu pengamatan ilmiah dan astronomi karena cahaya reflektif dari satelit-satelit tersebut.
Dampak lingkungan juga menjadi perhatian serius. Peluncuran roket yang terus meningkat menyebabkan emisi gas rumah kaca bertambah, sementara puing antariksanya dapat jatuh ke Bumi dengan potensi membahayakan. Bahkan beberapa ahli mengkhawatirkan puing satelit yang jatuh bisa membahayakan penerbangan komersial.
Diperlukan Regulasi dan Kerjasama Internasional
Situasi ini menegaskan betapa pentingnya pembuatan regulasi internasional yang kuat dalam pengelolaan lalu lintas antariksa. Kebutuhan untuk koordinasi lintas negara dan perusahaan pengelola satelit menjadi kunci untuk mencegah kecelakaan dan meminimalisir produksi sampah antariksa. Upaya bersama ini harus mencakup pengaturan peluncuran satelit, pertukaran data orbit secara real-time, hingga prosedur pengendalian puing antariksa yang efektif.
Sebagai pemain terbesar di orbit rendah Bumi, Starlink dan SpaceX memegang peranan penting dalam desain tata kelola ruang angkasa yang berkelanjutan. Langkah menurunkan orbit satelit merupakan bagian dari strategi mitigasi risiko yang meski belum sempurna, menunjukkan keseriusan SpaceX dalam mengelola keselamatan satelit mereka.
Namun, dengan semakin banyaknya satelit yang menjulang di langit, perlunya respons kolektif dari negara dan industri menjadi semakin mendesak. Hal ini untuk menjamin orbit Bumi tetap layak dan aman bagi eksplorasi dan layanan teknologi masa depan.





