Kementerian UMKM Ungkap Sebagian Besar Produk di Shopee dan TikTok Shop Masih Impor

Kementerian UMKM mengungkapkan bahwa sekitar 90% produk yang dijual di platform e-commerce seperti Shopee dan TikTok Shop masih didominasi oleh barang impor. Kondisi ini dinilai mengancam daya saing produk lokal, khususnya pelaku UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Deputi Bidang Usaha Kecil KemenUMKM, Temmy Satya Permana, menyatakan produk impor dengan harga sangat murah telah merusak mekanisme pasar domestik. Ia menegaskan bahwa derasnya arus produk impor mempersempit ruang pasar bagi pelaku UMKM lokal.

Dominasi Produk Impor di E-commerce

Temmy menjelaskan, hasil pemantauan KemenUMKM per 14 Januari 2026 menunjukkan banyak produk impor dijual di berbagai platform e-commerce. Contohnya, ballpress pakaian bekas impor dijual Rp600.000 per 20 pieces. Produk lain seperti kerudung dan kemeja juga dijual dengan harga tidak masuk akal, Rp6.997 dan Rp20.000 per pcs.

Fenomena ini membuat produk lokal semakin sulit bersaing dalam aspek harga. Selain lewat jalur laut, barang impor juga masuk melalui jalur darat dan udara dengan harga yang sangat murah. Hal ini semakin memperparah posisi UMKM yang sudah terdesak.

Preferensi Konsumen dan Tantangan UMKM

Menurut Temmy, konsumen Indonesia cenderung memilih produk e-commerce berdasarkan harga dan kualitas tanpa memperhatikan asal produk. Hal ini membuat produk impor murah punya daya tarik sangat besar di pasar digital.

Selain tantangan harga, pelaku UMKM juga menghadapi hambatan lain, seperti akses pembiayaan yang terbatas. Banyak pelaku UMKM kesulitan memperoleh kredit karena riwayat kredit buruk di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), keterbatasan agunan, serta suku bunga tinggi.

Data Sistem Informasi Kredit Program (SIKP) 2025 mencatat penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) masih didominasi oleh skema mikro sebesar 69,8%, disusul skema kecil 30% dan super mikro hanya 0,2%. Kondisi ini menunjukkan pelaku UMKM kecil masih kurang mendapatkan akses pembiayaan.

Kontribusi UMKM terhadap Ekspor dan Global Value Chain

Kontribusi UMKM terhadap ekspor nonmigas nasional baru mencapai 15,7%. Angka ini jauh di bawah negara Asia lainnya seperti Singapura (41%), Thailand (29%), dan Malaysia (28%). Global value chain Indonesia juga masih rendah, sebesar 4,1%, yang menunjukkan rantai nilai produksi belum terintegrasi optimal secara global.

Temmy menilai angka tersebut menjadi tantangan serius demi memperkuat posisi produk dalam negeri, baik di pasar domestik maupun pasar ekspor. Menjadikan produk lokal sebagai "tuan rumah" di pasar nasional menjadi salah satu fokus utama pemerintah saat ini.

Komposisi Pelaku UMKM di Indonesia

Struktur pelaku UMKM Indonesia masih didominasi oleh usaha mikro. Data Sistem Informasi Data Tunggal KemenUMKM tahun 2024 mencatat bahwa 99,71% pelaku UMKM adalah usaha mikro, sementara usaha kecil hanya 0,24% dan menengah 0,06%. Struktur ini menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas usaha agar dapat bersaing lebih kuat.

Pemerintah terus berupaya mengatasi berbagai permasalahan tersebut agar UMKM bisa tumbuh dan berkembang. Perlindungan pasar terhadap produk lokal dan peningkatan akses pembiayaan menjadi langkah penting agar produk dalam negeri makin kompetitif di tengah derasnya persaingan produk impor.

Baca selengkapnya di: teknologi.bisnis.com

Berita Terkait

Back to top button