5 Alasan Unik Gurita Ubah Warna & Bentuk, Lebih dari Sekadar Kamuflase untuk Bertahan!

Kemampuan gurita mengubah warna dan bentuk kulitnya bukan hanya soal menyatu dengan lingkungan. Hewan ini melakukan transformasi itu untuk berbagai tujuan yang sangat unik dan cerdas. Di balik kemampuan kamuflase yang terkenal, ada alasan lain yang menjadikan gurita makhluk laut penuh kejutan.

1. Pertahanan Diri dan Kamuflase

Gurita menggunakan ribuan sel pigmen bernama kromatofor untuk mengubah warna kulitnya dalam hitungan milidetik. Mereka juga punya sel iridofor yang memantulkan cahaya untuk menghasilkan warna yang tidak dimiliki kromatofor, seperti biru dan hijau. Selain warna, otot papila di kulitnya bisa mengatur tekstur, menjadikannya halus atau berduri agar sesuai dengan permukaan karang atau pasir di sekitarnya.

Spesies istimewa seperti Gurita penyamar (Thaumoctopus mimicus) bahkan meniru bentuk dan gerakan hewan lain, seperti ular laut atau ikan singa. Kecepatan adaptasi mereka memungkinkan gurita langsung berbaur dengan lingkungan baru tanpa waktu lama.

2. Berburu Mangsa

Sebagai predator ulung, gurita memanfaatkan kemampuan berubah warna dan tekstur untuk menyelinap mendekati mangsa. Penyamaran sempurna membuat gurita tampak seperti tumpukan pasir atau terumbu karang yang tidak bergerak. Teknik ini memungkinkan mereka merangsek ke dekat kepiting atau ikan kecil tanpa terdeteksi.

Selain itu, gurita dapat menciptakan pola warna yang bergerak dan berdenyut di kulitnya. Pola ini semacam "hipnotis" visual yang membuat mangsa bingung dan terdiam. Akan tetapi, saat mangsa lengah, gurita segera menyerang dengan lengan-lengannya yang kuat dan cepat.

3. Komunikasi dan Ekspresi Emosi

Penelitian pada gurita Sydney Biasa (Octopus tetricus) mengungkap bahwa perubahan warna juga berfungsi sebagai bahasa tubuh. Ketika merasa agresif, mereka menggelapkan warna kulitnya untuk mengintimidasi lawan. Jika dua gurita berwarna gelap bertemu, pertarungan biasanya terjadi.

Sebaliknya, gurita akan memucat saat ingin menghindar. Selain warna, pose tubuh juga penting—mereka sering berdiri tegak dengan lengan terbuka untuk tampak lebih besar dan menakutkan tanpa harus bertarung. Ini membuktikan bahwa perubahan warna adalah cara pintar mengatur hubungan sosial antar gurita.

4. Mencari Pasangan

Meski dikenal penyendiri, gurita memanfaatkan perubahan warna untuk tujuan reproduksi. Jantan akan memperlihatkan pola warna khusus saat ingin memikat betina atau memperingatkan pesaing. Contohnya, gurita siang jantan memucat dengan garis hitam tegas sebagai sinyal niat.

Spesies lain, seperti sotong raksasa Australia, bahkan menggunakan trik lebih canggih. Jantan kecil mengubah warna dan bentuk agar terlihat seperti betina. Penyamarannya membantu mereka mendekati betina tanpa diketahui jantan besar yang mengawasi. Beberapa sotong bisa memunculkan dua pola warna berbeda di tubuhnya, satu untuk merayu betina dan satu untuk menipu saingan.

5. Bermimpi Saat Tidur

Penelitian dari Brasil menunjukkan gurita memiliki dua fase tidur: pasif dan aktif. Saat tidur aktif selama 1-2 menit, kulit gurita berubah warna, teksturnya berbintil, dan gerakan mata serta lengannya meningkat. Namun, gurita tetap tidak merespons rangsangan luar dalam kondisi ini.

Fase ini mirip dengan tidur REM pada manusia, yaitu fase bermimpi. Dengan lebih dari 500 juta saraf yang tersebar hingga ke lengan, perubahan warna saat tidur diduga terkait dengan aktivitas otak memproses pengalaman. Gurita seolah memiliki "kehidupan batin" yang unik saat istirahat.


Luar biasa memang jika melihat gurita hanya sebagai makhluk pengubah warna. Sebenarnya, gurita memanfaatkan kemampuannya untuk bertahan hidup, berburu, berkomunikasi, mencari pasangan, dan bahkan bermimpi. Teknologi alam yang dikombinasikan dengan kecerdasan sistem saraf mereka menjadikan gurita salah satu penghuni laut paling menakjubkan dan penuh rahasia.

Berita Terkait

Back to top button