5 Fakta Menarik Hum, Kota Terkecil di Dunia yang Masih Jalankan Ritual Kuno Unik

Di antara ribuan kota di dunia, Hum tampil berbeda dengan status sebagai kota terkecil yang masih mempertahankan ritual kuno dalam kehidupan warganya. Terletak di wilayah Istria, Kroasia, kota ini hanya memiliki sekitar 52 penduduk dengan ukuran wilayah yang sangat terbatas. Meski demikian, Hum tetap diakui secara resmi sebagai kota dan berhasil menjaga tradisi sejak abad ke-11 hingga kini.

Keunikan Hum bukan hanya soal ukurannya yang mini, tapi juga bagaimana kota ini menjalankan sistem pemerintahan dan rutinitas yang sudah berlangsung selama ratusan tahun. Berikut adalah lima fakta menarik yang menjelaskan kenapa Hum menjadi kota terkecil di dunia dengan ritual kuno yang masih hidup sampai sekarang.

1. Kota Terkecil di Dunia dengan Penduduk Hanya 52 Orang
Hum memiliki panjang sekitar 100 meter dan lebar hanya 35 meter. Dengan ukuran sebesar itu, kota ini dihuni sekitar 52 orang berdasarkan sensus terbaru. Ukuran dan jumlah penduduk yang sedikit ini membuat Hum menjadi salah satu kota terkecil di dunia yang pengakuannya diakui secara luas. Meski tidak tercatat resmi di Guinness World Records, julukan ini tetap digunakan secara global.

2. Pemilihan Wali Kota Masih Menggunakan Ritual Kuno
Setiap tahun penduduk Hum melakukan pemilihan wali kota secara tradisional di loggia kota. Mereka tidak menggunakan kertas suara seperti biasa, melainkan mengukir suara di atas tongkat kayu yang disebut raboš. Jumlah ukiran pada tongkat tersebut yang menentukan pemenang. Tradisi ini sempat terhenti sebelum akhirnya dihidupkan kembali pada era 1970-an dan hingga hari ini masih dipertahankan sebagai wujud penghormatan terhadap warisan budaya.

3. Dikelilingi Tembok Kota Sejak Abad ke-11
Hum berdiri sebagai permukiman benteng sejak abad ke-11, dilengkapi dengan tembok batu yang mengelilingi seluruh wilayahnya. Fungsi tembok ini sebagai pertahanan sekaligus penanda batas kota pada masa itu. Tata kota Hum yang nyaris tidak berubah dari abad pertengahan ini membuatnya menjadi contoh ciamik permukiman bertema benteng yang terjaga kondisi dan keasliannya sampai sekarang.

4. Hanya Memiliki Dua Jalan Utama
Kota ini hanya memiliki dua jalan utama yang membentang di sepanjang permukiman. Jalan-jalan tersebut menghubungkan seluruh bangunan penting seperti gereja, balai kota, dan rumah penduduk. Desain tata kota yang sederhana dan ringkas ini mencerminkan perencanaan abad pertengahan yang efisien dan terorganisir, menjadikan aktivitas sehari-hari tetap mudah dilakukan meskipun terbatas ruang.

5. Mempertahankan Status Kota Meskipun Bisa Menjadi Desa
Meski ukurannya sangat kecil, Hum sengaja mempertahankan statusnya sebagai kota dan tidak berubah menjadi desa. Pada masa lalu, status kota di wilayah Istria tidak didasarkan pada jumlah penduduk, melainkan hak dan infrastruktur yang dimiliki. Dengan tembok kota, gerbang, menara lonceng, gereja paroki, dan balai kota, Hum dipandang memiliki legitimasi sebagai kota meski populasinya jauh lebih sedikit dibandingkan kota-kota lain.

Hum membuktikan bahwa sebuah kota tidak melulu soal luas wilayah atau banyak penduduk. Sejarah dan tradisi yang dipertahankan justru lebih berperan dalam menentukan identitas sebuah kota. Dengan ritual kuno dan struktur kota yang unik, Hum menjadi contoh konkret kota terkecil yang masih hidup dengan kekayaan budaya dan nilai-nilai lama yang dijaga secara konsisten oleh warganya.

Kisah Hum juga mengingatkan bahwa nilai dari sebuah komunitas tidak hanya diukur dari seberapa besar atau banyak anggotanya, tapi dari makna sejarah dan kebudayaan yang terus diteruskan. Dalam dunia yang semakin modern, Hum menawarkan pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga warisan tradisi sekaligus menghormati akar masa lalu. Kota kecil ini tetap menjadi saksi bisu bagaimana sejarah dan ritual kuno bisa bertahan hidup di tengah perubahan zaman.

Exit mobile version