Kucing domestik ternyata merupakan predator paling mematikan di dunia, melebihi banyak pemangsa besar seperti singa atau harimau. Penelitian Auburn University tahun 2023 menunjukkan bahwa kucing memangsa lebih dari 2.084 spesies hewan berbeda secara global.
Kucing tak hanya memburu tikus, tapi juga berbagai jenis burung, mamalia, reptil, serangga, dan amfibi. Mereka memangsa 9 persen burung dunia, 6 persen mamalia, dan 4 persen reptil. Perilaku ini membuat kucing disebut predator “indiskriminat” karena memangsa hewan di semua tahap kehidupan serta memakan bangkai.
Kemampuan kucing memberikan dampak besar bagi konservasi alam. Mereka bahkan memangsa hewan besar seperti burung emu dan penyu hijau. Studi mengungkap dampak mengkhawatirkan terhadap spesies terancam punah, dengan sekitar 347 spesies yang menjadi korban.
Di ekosistem pulau seperti Selandia Baru, kucing dikaitkan dengan punahnya enam spesies burung endemik. Secara global, kucing berkontribusi terhadap 26 persen kepunahan burung, mamalia, dan reptil. Di Australia, kucing bertanggung jawab atas kematian sekitar 650 juta reptil setiap tahun.
Di Inggris, kucing domestik juga membunuh hingga 270 juta hewan per tahunnya. Data ini menunjukkan bahwa keberadaan kucing memiliki konsekuensi ekologis yang serius, terutama sebagai predator invasif yang mengganggu keseimbangan habitat asli.
Meski sering dianggap hewan peliharaan yang manis dan menggemaskan, kucing sebenarnya adalah predator berdarah dingin secara naluriah. Para pecinta hewan harus menyadari peran ganda kucing sebagai hewan peliharaan dan ancaman terhadap keanekaragaman hayati.
Memahami karakteristik kucing sebagai predator invasif penting untuk menjaga kelestarian ekosistem. Upaya pengelolaan populasi kucing liar dapat membantu melindungi berbagai spesies yang semakin terancam punah di seluruh dunia.





