Teknologi bio-hybrid kini semakin nyata dengan terobosan yang dilakukan startup Rusia, Neiry. Mereka berhasil mengimplan elektroda ke dalam otak merpati, sehingga burung tersebut dapat dikendalikan secara jarak jauh sebagai drone hidup. Konsep ini memang terdengar seperti fiksi ilmiah, namun hasilnya sangat mengesankan.
Sistem yang dikembangkan oleh Neiry menggunakan operasi stereotaktik untuk memasang elektroda neural secara presisi. Selain itu, merpati dipasangi “backpack” bertenaga surya yang berisi alat GPS, pemicu stimulasi, dan kamera yang dipasang di dada. Dengan cara ini, merpati dapat diarahkan hanya dengan memberi pulsa listrik ringan yang mempengaruhi insting navigasi alaminya.
Keunggulan Bio-Drone Dibanding Drone Konvensional
Neurological implant ini mengubah merpati menjadi alat pengintai yang jauh lebih unggul dibandingkan drone mekanis. Sebagai contoh, drone populer seperti DJI hanya mampu terbang selama 30 menit per pengisian baterai. Sebaliknya, merpati yang dikendalikan Neiry dapat melakukan penerbangan jarak jauh hingga lebih dari 300 mil tanpa henti.
Selain durasi terbang yang jauh lebih lama, bio-drones ini juga mampu melewati wilayah udara terbatas di mana drone elektronik biasanya dilarang. Karena mereka adalah hewan hidup, bio-drones dapat lebih mudah bergerak di lingkungan kompleks yang sulit dijangkau oleh drone robotik. Mereka juga memanfaatkan kemampuan adaptasi dan pemikiran alami hewan yang telah berevolusi selama jutaan tahun.
Implementasi dan Pengujian di Dunia Nyata
Pada akhir tahun depan, Neiry melakukan uji coba penerbangan di Moscow dan Dubai sebagai bagian persiapan peluncuran teknologi ini secara komersial. Bidang aplikasi yang menjadi fokus antara lain inspeksi infrastruktur, operasi pencarian dan penyelamatan, serta pemantauan lingkungan. Kelebihan burung hidup yang dapat menghindari berbagai rintangan dengan alami sangat membantu dalam misi pemantauan.
Rencana Neiry tidak hanya terbatas pada merpati. Mereka juga ingin mengembangkan teknologi ini dengan menggunakan gagak untuk membawa beban yang lebih berat serta albatros untuk pengawasan di area laut yang luas. Perusahaan telah menerima investasi £10 juta dari Russia National Technology Initiative, menandakan potensi komersial yang besar meskipun keterkaitan dengan Kremlin menimbulkan pertanyaan soal niat sebenarnya.
Kontroversi Etika dari Pengendalian Otak Hewan
Teknologi neural implant semacam ini menimbulkan kekhawatiran etis. Nita Farahany, seorang bioethicist dari Duke University, menyatakan bahwa penggunaan alat untuk mengendalikan makhluk hidup terasa mengobjektifikasi hewan sebagai produk. Ia memperingatkan agar masyarakat berhati-hati dengan implikasi moral yang muncul.
Selain itu, penasihat Pentagon James Giordano menyoroti risiko penggunaan teknologi ini untuk tujuan militer, termasuk potensi penyebaran penyakit serta penerapan dalam peperangan biologi. Sejarah Rusia yang pernah menggunakan hewan militer seperti lumba-lumba tempur menambah keraguan atas janji penggunaan teknologi hanya untuk sipil.
Neiry menyatakan bahwa mereka memiliki tim bioethics internal untuk memastikan standar etika dipatuhi. Namun, belum ada verifikasi independen yang mendukung klaim ini. Karena itu, teknologi ini berpotensi membuka babak baru dalam pengawasan sekaligus menghadirkan tantangan berat bagi perlindungan hak hewan.
Dampak dan Potensi Masa Depan
Implikasi dari penggunaan bio-drone merpati ini sangat luas. Dengan kemampuan terbang lama, pengintaian yang lebih alami, dan adaptasi tinggi pada medan rumit, teknologi ini siap mengubah wajah pemantauan lingkungan dan keamanan. Namun, masyarakat harus menyikapi dengan cermat batas antara kemajuan teknologi dan eksploitasi makhluk hidup.
Dalam menghadapi geliat teknologi bio-hybrid, isu privasi dan etika kian mendesak untuk diperhatikan. Teknologi yang menggabungkan sistem biologis dan elektronik ini bisa jadi membuka peluang baru, sekaligus risiko baru dengan konsekuensi yang belum sepenuhnya dipahami. Pengembangan dan pengawasan teknologi seperti ini harus dilakukan dengan transparansi dan regulasi yang ketat.





